Kamis Sore-Malam Jumat

Kabut menyelimutiku
Hujan mengguyur tubuhku
Anggin dingin mengerumuniku
Cuaca gelap menyerangku
Jalan licin, becek, kotor menjegalku
Ah…
Semua itu aku lalui
Semua aku lewati
Semua aku terebos
Ah…
Ternyata aku belum bisa menerobos jalan pikiranmu
Ternyata aku belum bisa menembus pintu hatimu
Kamis sore
Malam Jumat
Aku berperang dengan jalan licin, becek, kotor,
Aku melawan cuaca yang gelap, angin dingin
Aku melawan kabut yang menyerangku
Semua itu aku hadapi dengan tenang
Kamis sore
Malam Jumat
Aku harus berperang dengan diriku sendiri
dan itu sulit aku lalui dengan tenang

Ditulis dalam Pribadi. 1 Comment »

Dengar Suara Hatimu

Kamu marah?
Kamu bosan?
Kamu sudah tidak sudi lagi?
Kamu benci?
Wajahmu masih menyimpan
rasa rindu
rasa kangen
rasa kasih
rasa sayang
rasa cinta
Hatimu berkata
masih malu
masih benci tapi rindu

Sekarang….
Coba dengar kata hatimu…
Dengar dan dengar lagi
Kata hatimu mengakui semuanya
Coba dengar lagi suara hatimu
Suara hatimu mengatakan yang sejujurnya

Mengenal Gurindam

Puisi lama merupakan pancaran kehidupan masyarakat lama yang memiliki ciri-ciri:

  1. bersatu, tidak pecah belah, dan hidup lebih padu, dalam kesatuan itu ada yang mengikat yaitu adat istiadat yang telah turun-temurun,
  2. setiap orang saling mengenali
  3. hidup tolong-menolong, bergotong –royong membangun rumah, mengerjakan sawah, mengadakan keramaian, suka duka selalu bersatu.

Latar belakang masyarakat atau keadaan masyarakat sangat berpengaruh terhadap hasil karya yang lahir pada masa itu. Gurindam sebagai salah satu bentuk puisi yang lahir pada masa itu merupakan pancaran kehidupan masyarakat saat itu. Tak hanya pada gurindam, hal ini tampak jelas pula terlihat dalam bentuk-bentuk puisi lain yang dihasilkan saat itu, baik dalam pantun, syair, maupun gurindam. Apalagi pada gurindam sebagai bentuk puisi asli Indonesia. Sekedar mengingatkan kembali inilah contoh pantun, dalam contoh ini disajikan pantun teka-teki:

Buah pinang buah belimbing

Ketiga dengan buah mangga

Sungguh senang berbapak sumbing

Biar marah tertawa juga

Bentuk pantun jelas berbeda dengan bentuk puisi lama yang lain yaitu syair. Cobalah Anda buka kembali pembelajaran 1! Perhatikanlah rimanya dan juga jumlah baitnya. Rima syair a – a – a – a sedangkan pantun a – b – a – b. Jumlah bait dalam syair lebih banyak karena syair mengisahkan sebuah cerita. Syair bersifat epis, yaitu berupa cerita. Baris dalam pantun terdiri atas 4 baris, dua baris pertama sebagai sampiran dan dua baris terakhir sebagai isi.

Bagaimanakah dengan gurindam? Gurindam adalah bentuk puisi lama yang terdiri atas dua baris tiap baitnya dan bersajak a – a. Baris pertama berupa syarat dan baris kedua berupa jawab.

Gurindam yang terkenal adalah Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji seorang sastrawan Melayu. Disebut Gurindan Dua Belas karena terdiri atas dua belas pasal. Inilah pasal pertama.

Barang siapa tidak memegang agama

Sekali-kali tidakkan boleh dibilangkan nama

Barang siapa mengenal yang empat

Ia itulah orang yang makrifat

Barang siapa mengenal Allah

Suruh dan tengah-Nya tiada ia menyalah

Barang siapa mengenal dunia

Takutlah ia barang yang terperdaya

Barang siapa mengenal akhirat

Tahulah ia dunia mudarat

Kurang fikir, kurang siasat

Tinta dirimu kalah tersesat

Fikir dahulu sebelum berkata

Supaya terlelah selang sengketa

Kalau mulut tajam dan kasar

Boleh ditimpa bahaya besar

Jika ilmu tiada sempurna

Tiada berapa dia berguna

Berdasarkan contoh gurindam tersebut, sangat jelas ada keterkaitan antara isinya dengan kehidupan sehari-hari. Kesemuanya berupa nasihat. Nasihat yang berguna bagi manusia dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Sebagai manusia ciptaan Tuhan, agama merupakan pegangan hidup di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang tidak memilikinya dan tidak melaksanakannya, maka tak hanya celaka di dunia tetapi juga di akhirat. Oleh karena itu, hidup di dunia harus menjauhkan diri dari hal-hal yang mudarat,harus berhati-hati, baik dalam berkata-kata maupun berfikir karena semua itu merupakan ilmu yang berguna dalam kehidupan.

Berikut Gurindam Dua Belas pasal keenam.

Cahari olehmu akan sahabat,

Yang boleh dijadikan obat.

Cahari olehmu akan guru,

Yang boleh tahukan tiap seteru.

Cahari olehmu akan isteri,

Yang boleh dimenyerahkan diri.

Cahari olehmu akan kawan,

Pilih segala orang yang setiawan.

Cahari olehmu akan abdi,

Yang ada baik sedikit budi.

Bagaimanakah dengan gurindam ?

Kurang fikir, kurang siasat,

Tentu dirimu kelak tersesat.

Fikir dahulu sebelum berkata,

Supaya terelak silang sengketa.

Orang malas jatuh sengsara,

Orang rajin bayak saudara.

Ilmu kepandaian boleh dikejar,

Asal mau rajin belajar.

Menolong sesama wajib dan perlu,

Tetapi tolonglah diri dahulu.

Terima kasih kepada Ibu Dra. Euis (Guru SMAN 1 Kuningan) yang selalu berdiskusi dengan saya ketika ada waktu senggang.

Ditulis dalam Artikel. 38 Comments »

Perkembangan Sastra di Indonesia

Ketika kita membahas masalah perkembangan sastra Indonesia, bayangan kita seringkali tertuju pada angkatan-angkatan sastra Indonesia, seperti angkatan 1920-an atau disebut juga angkatan Balai Pustaka; angkatan 1933, yang disebut juga angkatan Pujangga Baru; angkatan 1945 yang disebut angkatan Pendobrak, dan angakatn 1966 atau disebut juga angkatan Orde Lama.

Angkatan 1920-an identik dengan novel Marah Rusli berjudul Siti Nurbaya; angkatan 1933 dengan tokoh sastrawannya Sutan Takdir Alisahbana (dalam bidang prosa) dan Amir Hamzah (bidang puisi). Angjatan 1945 dengan tokoh sentralnya, Chairil Anwar dengan puisi-puisinya yang sangat monumental berjudul Aku. Angkatan 1966 dengan tokoh centralnya Dr. Taufik Ismail dengan kumpulan puisinya berjudul Tirani dan Benteng.

Pembagian angkatan seperti itu dikemukakan oleh Hans Bague Jassin (H.B. Jassin), seorang ahli sastra Indonesia yang sering disebut-sebut sebagai Paus Sastra Indonesia. Tentu boleh-boleh saja kita setuju dengan pembagian seperti itu, apalagi memang kepakaran H.B. Jassin dalam mengapresiasi sastra Indonesia cukup mumpuni. Tetapi yang lebih penting kita ketahui adalah bahwa sastra Indonesia dari masa ke masa mengalami perkembangan.

Menarik untuk diperhatikan bahwa perkembangan sastra Indonesia berbanding lurus dengan perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan formal, dimulai tahun 1900-an, yaitu ketika penjajah Belanda membolehkan bangsa boemi poetra (sebutan untuk orang Indonesia oleh Belanda) memasuki pendidikan formal. Tentu saja pendidikan formal saat itu adalah milik penjajah Belanda.

Karena genre sastra terdiri dari tiga bentuk (yaitu puisi, prosa, dan drama), maka ada baiknya kita menganalisis perkembangan genre sastra ini dari tiga bentuk itu. Dengan demikian, dalam pembelajaran ini Anda akan menganalisis perkembangan puisi, prosa, dan drama dalam lingkup sastra Indonesia.

Perkembangan Puisi

Dilihat dari segi kewaktuan, puisi Indonesia dibedakan menjadi puisi lama dan puisi modern. Puisi lama Indonesia umumnya berbentuk pantun atau syair. Dan bersifat anonim karena tidak disebutkan siapa pengarangnya. Puisi lama menjadi milik masyarakat.

Puisi modern, atau puisi baru, berkembang sejak bangsa Indonesia mengenal pendidikan formal. Maka puisi modern Indonesia mulai muncul tahun 1920-an karena pada tahun itulah bangsa terdidik Indonesia mulai muncul. Sejak itu puisi baru Indonesia terus berkembang. Sejarah perpuisian Indonesia mencatat beberapa penyair berikut:

 
I Angkatan Balai Pustaka-Angkatan ‘66

Angkatan

Balai Pustaka

Punagga Baru

‘45

‘66

1. Muhammad Yamin

2. Roestam Effendi

3. Sanusi Pane.

1. Amir Hamzah

2. J.E. Tatengkeng

3. Sutan Takdir Alisjahbana

1. Chairil Anwar

2. Sitor Situmorang

3. Asrul Sani

4. Harijadi S. Hartowardijo

1. Rendra

2. Ramadhan K.H.

3. Toto Sudarto bachtiar

4. Sapardi Djoko Damono

5. Subagio Sastrowardojo

6. Ajip Rosidi

7. Kirdjomulyo

8. Taufik Ismail

9. Goenawan Mohamad

10. Masur Samin

11. Hartijo Andangdjaja

12. Piek Ardijanto Suprijadi

13. Slamet Sukirnanto

14. Toeti Heraty

15. Abdul Hadi W.M.

16. Darmanto Jatman

II. Angkatan ’70-an sampai sekarang

Angkatan

’70-an

’90-an

‘2000-an

1. Sutardji Calzoum Bachri

2. Yudhistira Ardinugraha

3. Linus Suryadi A.G.

4. Leon Agusta

5. Hamid Jabar

6. Eka Budijanta

7. F. Rahardi

8. Emha Ainun Nadjib

9. Djawawi Imron

1. Sides Sudyarto D.S.

2. Rahim Qahhar

3. Arwan Tuti Arta

4. Gunoto saparie

5. Rusli Marzuki Saria

6. Husni Jamaluddin

7. Ibrahim Sattah

8. Agus Sarjono

9. Cecep Syamsul Hari

10. Soni Farid Maulana

11. Acep Zam-zam Nur

12. Joko Pinurbo

13. dll

1. Nenden Lilis Aisyah

2. Mohamad Wan Anwar

3. Jamal D. Rahman

4. dll.

Penyebutan nama-nama di atas tentu saja masih belum lengkap karena penyair-penyair Indonesia yang tersebar di berbagai daerah masih banyak. Boleh jadi jumlahnya sampai ratusan, bahkan ribuan. Yang tercatat di atas hanyalah penyair-penyair yang secara intens kerap muncul di media massa dengan karya-karyanya, baik karya berbentuk puisi itu sendiri maupun esai-esainya. Dan oleh pengamat sastra (kritikus) dicatat namanya sebagai penyair yang karyanya layak disebut puisi-puisi yang bermutu.

Kita kutip karya-karya mereka berikut ini. Tentu saja tidak semua karya mereka tercatat di sini karena akan menghabiskan berlembar-lembar kertas, atau bahkan berjilid-jilid buku. Yang dicatat berikut ini adalah nama yang paling terkenal dan emwakili zamannya.

 

Muhammad Yamin

Lahir di Sawah Lunto 23 Agustus 1903

Bahasa, Bangsa

Selagi kecil berusia muda,

Tidur si anak di pangkuan bunda,

Ibu bernyanyi, lagu dan dendang

Memuji si anak banyaknya sedang;

Buai sayang malam dan siang,

Buian tergantung di tanah moyang.

Terlahir bangsa berbahasa sendiri

Diapit keluarga kanan dan kiri

Besar budiman di tanah melayu

Perasaan serikat menjadi padu

Dalam bahasanya permai merdu

Meratap menangis bersuka raya

Dalam bahagia bala dan baya

Bernafas kita pemanjangklan nyawa

Dalam bahasa sambungan jiwa

Di mana Sumatra, di situ bangsa

Di mana Perca di sana bahasa

Andalasku sayang, jana bejana

Sejakkan kecil muda teruma

Sampai mati berkalang tanag

Lupa ke bahasa tiadakan pernah

Ingat pemuda, Sumatra hilang

Tiada bahasa, bangsa pun hilang

Amir Hamzah

Disebut-sebut sebagai Raja Penyair Pujangga Baru,

Padamu Jua

Habis kikis

Segala cintaku hilang terbang

Pulang kemvbali aku padaMu

Seperti dahulu

Engkaulah kandil kemerlap

Pelita jendela di malam gelap

Melambai pulang perlahan

Sabar, setia selalu

Satu kekasihku

Aku manusia

Rindu rasa

Rindu rupa

Di mana engkau

Rupa tiada

Suara sayup

Hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu

Engkau ganas

Mangsa aku dalam cakarmu

Bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku, gila saar

Sayang berulang padamu jua

Engkau pelik menarik ingin

Serupa dara di balik tirai

Kasihku sunyi

Menunggu seorang diri

Lalu waktu-bukan diliranku

Mati hari bukan kawanku

Chairil Anwar

Aku

Kalau sampai waktuku

Kumau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943


Willibrordus Surendra (W.S. Rendra)

Episode

Kami duduk berdua

Di bangku halaman rumahnya.

Pohon jambu di halaman iti

Berbuah dengan lebatnya

Dan kami senang memandangnya.

Angin yang lewat

Memainkan daun yang berguguran.

Tiba-tiba ia berkata:

“Mengapa kancingbajumu lepas terbuka?”

Aku hanya tertawa.

Lalu ia sematkan dengan mesra

Sebuah peniti menutup bajuku.

Sementara itu

Aku bersihkan guguran bunga jambu

Yang mengotori rambutnya


Taufiq Ismail

Dengan Puisi, Aku

Dengan puisi aku bernyanyi

Sampai senja umurku nanti

Dengan puisi aku bercinta

Berbatas cakrawala

Dengan puisi aku mengenang

Keabadian Yang Akan Datang

Dengan puisi aku menangis

Jarum waktu bila kejam mengiris

Dengan puisi aku mengutuk

Nafas zaman yang busuk

Dengan puisi aku berdoa

Perkenankanlah kiranya.

 

Sutardji Calzoum Bachri

Tapi

Aku bawakan bunga padamu

tapi kau bilang masih

Aku bawakan resahku padamu

tapi kau bilang hanya

Aku bawakan darahku padamu

tapi kau bilang Cuma

Aku bawakan mimpiku padamu

tapi kau bilang meski

Aku bawakan dukaku padamu

tapi kau bilang tapi

Aku bawakan mayatku padamu

tapi kau bilang hampir

Aku bawakan arwahku padamu

tapi kau bilang kalau

Tanpa apa aku datang padamu

wah!


Acep Zamzam Noor

Cipasung

Di lengkung alis matamu sawah-sawah menguning

Seperti rambutku padi-padi semankin merundukkan diri

Dengan ketam kupanen terus kesabaran hatimu

Canghkulku iman dan sajadahku lupur yang kental

Langit yang menguji ibadahku meteskan cahaya redup

Dan surauku terbakar kesunyian yang menyalakan rindu

Aku semakin mendekat pada kepunahan yang disimpan bumi

Pada lahan-lahan kepedihan masih kutanam bijian hari

Bagi pagar-pagar bamboo yang dibangun keimananku

Mendekatlah padaku dan dengarkan kasidah ikan-ikan

Kini hatiku kolam yang menyimpan kemurnianmu

Hari esok adalah perjalananku sebagai petani

Membuka ladang-ladang amal dalam belantara yang pekat

Pahamilah jalan ketiadaan yang semakin ada ini

Dunia telah lama kutimbang dan berulang kuhancurkan

Tanpa ketam masih ingin kupanen kesabaanmu yang lain

Atas sajadah Lumpur aku terseungkur dan berkubur

 

Nenden Lilis Aisyah

Negeri Sihir

Angin surut dan cahaya beringsut

Waktu seakan turun menemui kegaiban

Kerisik senyap, segala sunyi

Bertabuh di kegelapan

Negeri tempatku hidup telah jadi mimpi

Alangkah jauh, bagai bayang-bayang

Aku entah berjejak di mana

Tak juga pergi bersama suara-suara


Inilah ketiadaan, ruang kekal kekosongan

Tempat segalanya menghilang

Perkembangan Prosa

Seiring dengan perkembangan puisi, prosa Indonesia pun berkembang pula. Seperti puisi, prosa pun mengenal prosa lama dan prosa baru atau prosa modern. Prosa lama bersifat anonim; dengan penjenisannya meliputi dongeng, hikayat, fabel, sage. Sedangkan prosa baru, dengan diukur dari panjang pendeknya, meliputi cerpen, novelet, dan novel/roman.

Prosa Indonesia baru pun mulai muncul tahun 1920-an, dengan ditandai munculnya novel monumental berjudul Siti Nurbaya, buah karya Marah Rusli. Lalu zaman Pujangga Baru muncul pula Sutan Takdir Alisjahbana dengan roman berjdul Layar Terkembang. Lalu, menjelang kemerdekaan muncul Armiyn Pane yang menulis novel Belenggu yang dianggap novel modern pada zamannya.

Tahun 1945 perlu dicatat nama Idrus sebagai prosaic cerpen. Buku kumpulan cerpennya Dari Ave Maria ke Jalan Lain Ke Roma menjadi buku yang cukup terkenal. Selain itu juga novel singkat yang digarap dengan nada humor berjudul Aki.

Tahun 1949 muncul novel karya Achdiat Karta Miharja berjudul Atheis. Atheis termasuk novel yang cukup berhasil karena hamir semua unsurnya menonjol dan menarik unuk dibaca. Dengan mengambil latar Pasundan berhasil mengangkat sebuah tema terkikisnya sebuah kepercayaan keagamaan. Hasan, tokoh utama dalam novel ini, adalah orang yang 180 derajat berbalik dari taat beragama tiba-tiba menjadi seorang yang atheis karena pengaruh pergaulannya dengan Rusli dan Anwar yang memang berpaham komunis.

Tahun 1955 muncul cerpen yang sangat terkenal, berjudul Robohnya Surau Kami, buah karya Ali Akbar Navis (lebih dikenal dengan A.A. Navis). Cerpen ini sarat dengan kritik sosial menyangkut kesalahan orang dalam menganut agama. Navis nambapknya ingin mendobrak paham keagamaan masyarakat Indonesia yang mengira beribadah hanyalah sekedar melaksanakan shalat, puasa, atau mengaji Quran; sedangkan kegiatan lain di luar ibdah formal, sepertimencari nafkah, peduli pada sesama dan alam dibaikan. Lewat tokoh Haji Shaleh yang tiba-tiba masuk neraka karena ulahnya di dunia yang mengabaikan kepentingan keluarga.

Tahun 1968 muncul novel berjudul Merahnya Merah, garapan Iwan Simatupang, sebuah novel yang cukup absurd, terutama dalam hal gaya bercerita. Namun demikian, novel ini banyak memperoleh pujian dan sorotan para kritikus sastra, baik dalam maupun luar negeri.

Tahun 1975 nuncul novel Harimau! Harimau!, buah karya Mochtar Lubis, menceritakan tentang tujuh orang pencari damar yang berada di tengah sutan selama seminggu. Mereka adalah Pak Haji, Wak Katok, Sutan, Talib, Buyung, Sanip dan Pak Balam. Di tengah hutan itu mereka berhadapan dengan seekor harimau yang tengah mencari mangsa. Empat orang di antara tujuh orang itu (Pak Balam, Sutan, Talib, dan Pak Haji). Kecuali Pak Haji yang meinggal karena tertembak senapan Wak Katok, tiga yang lalinnya meninggal karena diterkam Harimau.

Haimau! Harimau! Sarat dengan pesan moral, yaitu bahwa setiap manusia harus mengakui dosanya agar terbebas dari bayang-bayang ketakutan. Pak Balam, orang yang pertama terluka karena diterkam harimau, mengakkui dosa-dosanya di masa muda, dan menyuruh para pendamar yang lain juga mengakui dosa-dosanya. Semua memang mengakui, hanya Wak Katok yang enggan mengakuinya.

Tahun 1982, muncul novel Ronggeng Dukuh Paruk, karya Ahmad Tohari, sebuah novel yang berhasil mendeskripsikan adat orang Jawa, khususnya Cilacap.

Tahun 1990, Ramadhan K.H. menulis novel berjudul Ladang Perminus, sebuah novel yang mengisahkan tentang korupsi di tubuh Perusahaan Minyak Nusantara (Perminus). Novel ini seolah-olah menelanjangi tindakan korupsi di tubuh Pertamina, sebagai perusahaan pertambanyak minyak nasional.

Dan novel paling mutakhir adalah Saman, 1998, karya Ayu Utami. Ayu Utami termasuk novelis yang membawa pembaharuan dalam perkembangan novel Indonesia. Dalam Saman, Ayu Utami tidak sungkan-sungkan membahas masalah seks, sesuatu yang di Indonesia dianggap kurang sopan untuk diungkap. Tapi mungkin zamannya sudah berubah, kini masalah sesks sudah bukan merupakan hal yang tabu untuk diungkapkan. Ironis, bahwa yang mengungkap secara detail dan sedikit jorok dalam nobvel ini adalah justru seorang wanita, Ayu Utami.

Dan untuk tahun 2000-an ini, tepatnya tahun 2003 yang baru silam, telah terbit novel termuda, dari penulis termuda pula yang menulis novel berjudul Area X, sebuah novel futurisktik tentang Indonesia tahun 2048, mengenai deribonucleic acid dan makhlluk ruang angkasa. Novel ini ditulis oleh Eliza Vitri Handayani, seorang siswi kelas 2 SMA Nusantara Magelang, sebuah SMA favorit di Indonesia.

Begitulah perkembangan genre sastra prosa di Indonesia.

Perkembangan Drama

Perkembangan drama di Indonesia tak sesemarak dan setua perkembangan puisi dan prosa. Kalau puisi dan prosa mengenal puisi lama dan porsa lama, tak demikianlah dengan drama. Genre sastra drama di Indonesia benar-benar baru, seiring dengan perkembangan pendidikan di Indonesia, muncul pada tahun 1900-an.

Sastra drama di Indonesia ditulis pada awal abad 19, tepatnya tahun 1901, oleh seorang peranakan Belanda bernama F. Wiggers, berupa sebuah drama satu babak berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno. Untuk selanjutnya bermunculanlah naskah-naskah drama dalam bahasa Melayu Rendah yang ditulis oleh para pengarang peranakan Belanda dan atau Tionghoa.

Selanjutnya, anak Indonesia sendiri yang mulai menulis drama. Berikut ini Anda akan disuguhi beberapa dramawan Indonesia dari mulai Rustam Effendi (lahir 1903) sampai dengan Hamdy Salad (lahir 1961).

Tahun Kelahiran Pengarang

Pengarang

Judul

1903

1905

1906

1916

1918

1920

1921

1926

1928

1933

1934

1935

1937

1938

1938

1941

1942

1943

1944

1945

1946

1949

1955

1959

1961

Rustam Effendi

Sanusi Pane

Abu Hanifah

Trisno Sumarjo

D. Jayakusuma

Utuy Tatang Sontani

Usmar Ismail

Asrul Sani

Mohammad Diponegoro

Misbach Yusa Biran

D. Sularto

Rahman Age

Motinggo Busye

Ajip Rosidi

Saini KM

Arifin C. Noer

Vredi Kasram Marta

Aspar Paturusi

Putu Wijaya

Wisran Hadi

Akhudiat

N. Riantiarno

Yono Daryono

Arthur S. Nalan

Hamdy Salad

 

Bebasari

Kertajaya

Taufan di Atas Asia

Tumbang

Rama Bargawa

Bunga Rumah Makan

Leburan Seniman

Mahkamah

Iblis

Bung Besar

Domba-domba Revolusi

Pembenci Matahari

Malam Jahanam

Masyitoh

Egon

Dalam Bayangan Tuhan atawa Interogasi

Syeh Siti Jenar

Perahu Nuh II

Dam

Cindua Mato

Jaka Tarub

Sampek Engtay

Ronggeng-ronggeng

Syair Ikan Tongkol

Perempuan dalam Kereta

 

 

Terima kasih kepada Bapak Drs. Dodo Suwondo yang selalu berdiskusi dengan saya mengenai bahasa dan sastra Indonesia.

 

Ditulis dalam Artikel. 29 Comments »

Mudahnya Membuat Cerpen

Daripada kita menceritakan orang lain yang bukan-bukan (gosip murahan) mendingan menulis cerita rekaan berupa cerita pendek.

Anda mungkin sering mendapatkan pengalaman, atau sering pula menyaksikan sesuatu. Pengalaman-pengalaman tersebut tetu beragam-sedih, gembira, marah, lucu, memilukan, menakutkan, mengharukan, mengerikan, dll. Bagi orang yang berpotensi menulis tentu hal-hal tersebut akan mudah saja tentunya dalam tulisan.

Bagi penulis pemula kejadian-kejadian baik yang menimpa dirinya maupun kejadian yang disaksikan dapat dijadikan ide untuk sebuah karangan. Dan bagi mereka yang sudah terbiasa menulis, hal-hal tersebut merupakan ilham yang sangat berharga, karena mereka pun adalah pemburu ilham.

Untuk menulils sebuah cerpen, ilham itu dikupas sedemikian rupa dan memadukannya dengan imajinasi, serta menuangkannya dalam bentuk tulis. Adapun langkah-langkahnya adalah:

· Menemukan ide dalam sebuah tema;

· Menyusun alur cerita sebagai kerangka karangan;

· Mengumpulkan kosa kata dan gaya bahasa;

· Mengembangkan alur cerita menjadi karangan utuh.

Di samping itu penulis tentu merancang unsur-unsur cerita sesuai dengan komponen-komponen sastra yang lazim terdapat dalam karya sastra prosa jenis fiksi, yaitu:

· Tema; berisi tentang tema apa yang akan mendarahi cerita

· Plot/alur; bagaimana susunan peristiwanya?

· Penokohan; berapa tokoh yang masuk dalam cerita, siapa tokoh utamanya?

· Latar; kapan, dimana, bagaimana peristiwa itu terjadi?

· Konflik; apa yang menjadi konflik permasalahan?

· Pesan/amanat; apakah amanat yang disampaikan kepada pembaca?

Apabila Anda sudah memahami semua itu, maka akan dengan mudah karya Anda terwujud.

Agar lebih mudah bagi Anda untuk memahami penulisan cerita pendek, ada baiknya Anda membaca serta mencermati contoh sebuah cerpen dari karya penulis yang termasuk pemula.

 

Perhatikan contoh berikut !

 
Makam Seorang Pejuang

Oleh : H. Didin D. Basoeni

PERINGATAN Hari Kemerdekaan 17 Agustus, baru saja usai. Gapura yang dihiasi bendera dan umbul-umbul merah putih, di setiap RT, RW, di halaman kantor desa, kecamatan dengan biaya gotong royong, sudah bersih kembali seperti keadaan semula. Bunga-bunga yang ditaburkan di Taman Makam Pahlawan sudah banyak yang mengering. Bahkan hilang lenyap tersapu angin. Tapi di sebuah permakaman umum di Desa Cimariuk, Bandung Selatan, ada sebuah makam yang masih dihiasi bendera merah putih dan bekas tabur bunga melati yang masih segar.

Warga Desa Cimariuk umumnya sudah tahu, yang menabur bunga di makam Suyud adalah seorang wanita bernama Nuresna dan anak laki-lakinya yang bernama Dirman. Setiap tanggal 17 Agustus, Nuresna dan Dirman yang sekarang sudah tinggal di Kota Bandung, biasa menabur bunga dan menancapkan bendera merah putih di makam Suyud. Di mata Nuresna dan Dirman, Suyud adalah seorang pejuang kemerdekaan yang rela mengorbankan harta, keluarga, dan, bahkan, nyawanya.

**

SAAT merebut dan mempertahankan kemerdekaan, para pejuang di Desa Cimariuk Kec. Ciparay Kab. Bandung, dengan senjata seadanya, dengan caranya masing-masing, berjuang melawan tentara penjajah Belanda. Tak sedikit pula yang ikut berjuang bersama organisasi ketentaraan resmi. Di antaranya pemuda bernama Suyud. Suyud waktu itu baru sekitar tiga bulan mempersunting mojang Desa Cimariuk bernama Nuresna.

Suatu malam terjadi pertempuran antara para pejuang dengan tentara Belanda di Kota Dayeuhkolot. Pertempuran itu, menurut sejarah, terbilang cukup seru. Gudang mesiu tentara Belanda di Dayeuhkolot berhasil dimusnahkan oleh orang yang bernama Moh. Toha dan Moh. Ramdan. Keberanian dan keuletan para pejuang Bandung Selatan di dalam membela kemerdekaan itu sempat diabadikan oleh komponis terkenal Indonesia bernama Ismail Marzuki. Terinsipirasi peristiwa itu, Ismail Marzuki menciptakan sebuah lagu “Bandung Selatan di Waktu Malam”. Lagu yang terus menggema sampai sekarang.

Pertempuran besar di Dayeuhkolot itu menimbulkan banyak korban, baik di pihak tentara Belanda, maupun di antara para pejuang kemerdekaan. Suyud, suami Nuresna yang sedang hamil dua bulan, dikabarkan tewas dalam pertempuran itu. Namun kematian Suyud waktu itu, masih diragukan, karena mayatnya tidak ditemukan. Beberapa pejuang yang selamat menyatakan, ketika pertempuran berlangsung, ada seorang remaja yang mati dan luka berat dan sulit diketahui wajahnya. Karena situasi dan kondisinya, mayat laki-laki remaja itu langsung dimakamkan di pemakaman umum Desa Cimariuk. Usai pertempuran, barulah diketahui ada seorang pejuang yang “hilang” yang bernama Suyud. Cerita pun disambungkan. Dengan segera orang berkesimpulan, mayat laki-laki remaja yang dimakamkan di pemakaman umum Desa Cimariuk itu adalah Suyud.

Berita menghilangnya Suyud, akhirnya sampai juga ke telinga Nuresna. Setelah mendengar keterangan ini-itu, Nuresna dan keluarganya akhirnya sepakat juga bahwa Suyud telah meninggal sebagai seorang pejuang. Mereka yakin, makam yang ada di Desa Cimariuk itu adalah mayat Suyud.

**

SEPERTI biasa, setiap pagi sekitar pukul 10.00 WIB, setiap tanggal 17 Agustus, sebuah pemakaman umum di Desa Cimariuk diziarahi oleh seorang wanita bersama seorang anak laki-laki. Wanita muda itu bernama Nuresna. Sedangkan anaknya Dirman. Pada tanggal itu setiap tahunnya, ibu dan anak itu akan menabur bunga dan menancapkan bendera merah putih di atas makam Suyud. Nuresna bersama anaknya kemudian mengangkat kedua tangannya untuk berdoa.

“Semoga Kang Suyud diterima di sisi-Nya. Kami rela ditinggalkan oleh Kang Suyud, karena Akang telah berjuang untuk bangsa dan negara,” kata Nuresna, khusyuk.

“Pak, ini Dirman, anak Bapak. Semoga jiwa juang Bapak, tertanam di hati Dirman. Aaamiin,” timpal Dirman, tak kalah khusyuknya.

Nuresna dan Dirman tidak tahu bahwa setiap kali mereka melakukan tabur bunga di makam Suyud ada seseorang yang memerhatikan mereka dari jauh. Orang ini bersembunyi di balik sebuah batu besar yang sekelilingnya rimbun oleh berbagai pepohonan. Kondisi lelaki yang selalu datang memerhatikan Nuresna dan Dirman ini sudah tidak utuh. Wajah dan tubuhnya cacat. Kaki kanannya buntung, sedangkan kaki kirinya tidak bisa digunakan untuk berdiri tegak. Demikian pula keadaan tangan kirinya yang tidak bisa digerakkan lagi dengan sempurna. Lelaki ini baru bisa berjalan bila didukung dengan dua buah tongkat yang diletakkan di sela-sela kedua tangannya.

Selesai menaburkan bunga dan berdoa, Nuresna dan Dirman akan meninggalkan makam. Beberapa jam kemudian, barulah lelaki cacat itu pergi pula meninggalkan makam dengan cara diam-diam. Sepertinya, dia takut sekali bertemu dengan Nuresna dan Dirman.

**

SUATU hari, warga Desa Cimariuk dikejutkan informasi telah ditemukannya mayat seorang lelaki yang terapung di sebuah kali. Kondisi mayat sangat mengenaskan. Mayat itu telah membusuk, sehingga sulit dikenali wajahnya. Tak jauh dari mayat, ditemukan dua tongkat penyangga tubuh.

Kepala Desa Cimariuk mengumumkan kepada seluruh warganya, kalau-kalau ada orang yang merasa kehilangan keluarganya yang keadaan tubuhnya cacat dan ditemukan meninggal di sebuah kali. Tetapi tak seorang pun warga Desa Cimariuk yang merasa telah kehilangan anggota keluarganya. Akhirnya, mayat lelaki cacat itu dimakamkan di permakaman umum Desa Cimariuk yang letaknya tidak jauh dari makam Suyud.

**

HINGGA saat ini, tak ada yang tahu bahwa mayat yang menghebohkan yang ditemukan di pinggir sungai itu adalah mayat Suyud yang sebenarnya.

Ketika terjadi pertempuran di Dayeuhkolot, Suyud terkena letusan mortir. Akibatnya, kaki kanannya hancur, kaki kiri, tangan kiri, dan mukanya luka berat. Suyud yang luka berat itu, terapung di sungai Citarum dan terbawa arus hingga beberapa kilometer. Suyud yang luka berat itu, terdampar di sebuah batu dan ditemukan oleh seorang petani di Soreang. Tuhan Mahabesar, ternyata Suyud yang tengah luka berat itu, nyawanya masih bisa diselamatkan.

Setelah sembuh, Suyud tahu bahwa istrinya, Nuresna, sudah melahirkan seorang anak laki-laki buah dari perkawinannya. Tapi ia sadar, dengan wajah dan anggota tubuh lainnya yang cacat, ia tak pantas lagi untuk mendampingi Nuresna. Apalagi ia mendengar kabar bahwa dirinya sudah disangka mati dan dimakamkan di permakaman umum Desa Cimariuk sebagai pejuang kemerdekaan.

Karena itu, Suyud tak pernah kembali dan menjelaskan keberadaannya kepada siapa pun. Namun, kerinduannya kepada anggota keluarganya membuat Suyud selalu berusaha pada setiap tanggal 17 Agustus datang ke permakaman umum Desa Cimariuk. Setahun sekali, Suyud ingin melihat istri dan anaknya tercinta, Nuresna dan Dirman, bahagia.*** 

Bale Endah, 17 Agustus 2005

(dari : Pikiran Rakyat, 23 September 2006)

 
Tidak ada kesan istimewa pada cerita pendek di atas. Jika kita baca sepintas, cerita pendek itu justru sangat sederhana. Gaya bahasanya, penceritaannya, hanya memperlihatkan gaya bahasa yang yang cukup ringan, tanpa harus bersusah payah mengartikan kata dan untaian kata yang mendalam. Isinya pun hanya sebuah narasi dari cerita sejarah yang berkaitan dengan nasib seorang pejuang.

 

Sekalipun demikian, bukan berarti mudah untuk dicerna lebih dalam. Tugas kita adalah menyimpulkan siapa sebenarnya tokoh utamanya? Apakah Nursena, istri Suyud yangn dinyatakan gugur pada perjuangan? Ataukah Suyud yang dianggap gugur pada perjuangan? Atau mungkin seorang lelaki yang selalu memerhatikan Nursena dan Dirman ketika mereka tabur bunga dan berdoa di makam?

Begitu pula alur peristiwanya. Apakah peristiwa yang dilakukan Nursena dan Dirman ketika pada setiap 17 Agustus datang ke makam tersbut? Atau peristiwa pertempuran, yang kemudian menewaskan seseorang yang tak dikenal, yang kemudian dianggap Suyud, suami Nursena?

Lalu apa konfliknya? Cari dan temukanlah, karena pada cerpen tersebut ada tiga bagian yang masing-masing punya perbedaan peristiwa.

 

Nah, bagi Anda yang punya pengalaman menarik, coba buat cerpennya, selamat mencoba.

 

Ditulis dalam Artikel. 31 Comments »

Bibir Peniup Terompet Lebih Halus..

Saya belajar meniup terompet  sejak tahun 1997. Awalnya saya pernah jadi tim pembina dan pelatih drum band SMA Kosgoro Kuningan tahun 1997. Ketika itu saya ikut belajar meniup terompet, ya lumayan hasilnya pas-pasan. Pernah ikut dalam grup band-dangdut SMAKOS. Jadi setiap ada acara hiburan pasti niup terompet atau setiapa da acara agustusan  pasti ikut jadi pasukan drumband SMAKOS. Saya behenti meniup terompet di grup tersebut sejak tahun 2000. Makluk mulai saat itu tidak aktif lagi pada kegiatan di atas.

Setelah sekian lama belajar menuip terompet, ternyata bibibir saya terasa lebih lembut. Saya bertanya kepada pemain dan pelatih trompet, meraka juga merasakan bahwa bibir terasa lebih lembut.

Bener tidaknya pernyataan tersebut coba saja deh…

Yang jelas saya merasakannya….

Ditulis dalam Umum. 2 Comments »

Aku Merenung….

Ketika duduk termangu di bawah pohon yang rindang hatiku berkata:

  • Butuh waktu tahunan bahkan berpuluh tahun membangun kreadibilitas. Namun keruntuhannya bisa terjadi hanyan dalam wakti sekian detik saja.
  • Allah meciptakan seseorang ke muka bumi dibekali dengan kelebihannya yang akan berguna beginya dalam ikhtiar menggapai kemuliaan diri.
  • Orang yang berbhagia tidak bekerja mengikuti hasrat fisiknya. Ia bahagia bekerja dengan selalu mengikuti bsiikan hati yang tak pernah sanggup berdusta
  • Apapun kekurangan diri bukan hambatan untuk berprestasi. Sebab kita punta potensi untuk mengubah kekurangan menjadi kelebihan.

Mejeng di HUT SMAKOS

 

Hari Sabtu (23/02/2008) saya diundang olah anak-anak OSIS SMAKOS untuk menghadiri acara HUT SMAKOS ke-32. Pagi-pagi saya datang dengan membawa foto digital, camcorder, infocus, saxopon, dan terompet. Biasa ada tugas tambahan untuk menjadi juru foto dan juru kamera, bahkan sebagai pengisi acara. Kacau deh… katanya sebagai undangan kok jadi petugas.

 

Nah beginilah ketika meniup trompet dengan membawakan lagu “Teungteuingein” [jadi inget pada seseorang yang telah meninggalkan saya], “Bubuy Bulan” karena ada yang minta dan “Dalam Kerinduan” [khusus dengan sexopon tidak difoto, lagu ini khusus untuk seseorang. Hehehe mau tahu saja]. Terima kepada kepada Pak Heruli yang telah mengiri saya meniup terompet dan saxopon.

 

Acara tersebut rame juga, lebih lengkapnya dapat dibaca di web SMA Kosggoro Kuningan, http://smakos-kng.sch.id/

 

Ditulis dalam Pribadi. 21 Comments »

Lingkungan Sekolah Merupakan Tempat “Curat Coret” Siswa

Sekolah bisa dijadikan tempat “curat coret” para siswa. Hasil coretan siswa akan memperindah lingkungan sekolah. Tidak percaya? Nih… hasilnya..

Bagus kan?

Guru TIK SMA Kab. Kuningan “Keracunan” Blog

Beginilah kalau kami (guru-guru TIK SMA) yang tergabung dalam Musyarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) TIK SMA Kabupaten Kuningan melaksanakan pertemuan MGMP pasti selalu dilaksanakan pengayaan dan pendalaman materi TIK sebagai peningkatan kualitas guru TIK (wow keren). Meskipun kami berada di daerah namun semangat belajar ingin seperti yang ada di kota.

Pada pertemuan kali ini, guru-guru TIK SMA Kabupaten Kuningan saya racuni dengan blog “wordpress” yang off line yang diintegrasikan dengan webserver XAMPP. Setelah blog wordpressnya bergahasil diinstall di komputer masing, para guru semakin terlena dan semakin “keracunan” blog. Nah yang jadi fasilitatornya adalah Pa Atik dari SMAN 3 Kuningan.

Pada bagian akhir saya tekankan agar rekan-rekan guru TIK segera memiliki blog atau web pribadi, dan memang sebagian besar sudah pada punya. Ternyata asyik juga pertemuan itu, dan tidak terasa sudah pukul 11.30, akhirnya kami tutup karena akan melaksanakan solat Jumat.

 

Pa Atik sedang menenjelaskan penginstallan web server XAMPP dan wordpress versi 2.3.3.

 

 

Para guru asyik sedang mengedit blog wordpress yang sudah terpasang di komputernya masing-masing.

 

Mejeng dulu di laboratorium multimedia SMAN 3 Kuningan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.636 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: