Dalam Kerinduan

 

Jarum jam berputar tiada henti, apa yang kau kejar?
Hari silih berganti, apakah kau menunggu sesuatu?
Tanggal saling berganti dan kembali ke awal, apakah kamu tidak bosan?

Rasa tidak bisa kompromi dengan logika
Akal tidak mau tahu tentang isi hati
Berontak, membara cemburu

Aku ternyata terjebak dalam kerinduan yang sangat rumit.

Iklan

Tujuh Detik

Hanya tujuh detik sang mentari memberikan senyuman siangnya
Mengapa tidak 360 detik?
Apakah sang mentari pagi sibuk dengan pekerjaannya?

Aku harus belajar bersyukur
Aku harus belajar iklas
Menerima kenyataan senyuman mentari pagi
Hanya tujuh detik saja.

Tapi mengapa sang mentari pagi
Datang memberikan senyumannya tidak sendirian?
Mengapa ada yang menemaninya?
Jika hanya memberikan senyumannya hanya tujuh detik saja

 

Ditulis dalam Puisi. Tag: . Leave a Comment »

Jumat dan Senin

Nanti saja Jumat ya…
Kutemui Jumat demi Jumat, dari pagi sampai sore
Akhirnya kutemui Kamis
“Bagaimana dengan Jumat”? tanyaku
Jawabannya Jumat yang dijanjikan
Sudah bersama orang lain.

Kurelakan Jumat telah pergi

Kutemui dapatkan lagi teriakan
Jangan Sabtu, nanti Senin saja
Kutemui Senin demi Senin
Akhirnya kutemui Selasa
Mana Senin yang dijanjikan
Sampai saat ini belum ada jawabannya

Apakah ini sebuah tanda
Jumat dan Senin sebagai pelarian
Untuk menjauh dan menghilang?

 

Ditulis dalam Puisi. Tag: . Leave a Comment »

Aku Tidak Kuat

Perjalanan panjang
Bolak-balik di jalan yang sama
Berputar-putar di jalan yang sama
Demi sesuatu yang dikejar

Aku tahu itu salah
Aku tahu itu tidak mungkin
Aku tahu aku tidak bisa melepaskannya

Semakin lama
Semakin tersiksa oleh rasa
Semakin terbelenggu oleh rindu
Semakin terasa sakit di hati

Aku semakin tidak kuat

Ditulis dalam Curhat, Puisi. Tag: . Leave a Comment »

Jika Aku Mengetahui

Jika aku mengetahui akan celaka, maka aku akan menghindarinya
Jika aku mengetahui akan sakit, maka aku akan berusaha tetap sehat
Jika aku mengetahui akan mendapatkan rejeki, maka aku akan menunggunya
Jika aku mengetahui akan ada yang menyakiti, maka aku akan menghindarinya.

Jika aku mengatahui akan kejadian yang akan datang, maka aku sudah mempersiapkannya.

Aku mencoba berkaca, apakah aku sudah mengetahui seauatu di masa depan?
Ternyata kaca itu berkata “Kau telah mengetahui kejadian yang akan datang, tapi kau pura-pura dungu”

Ternyata aku betul-betul dunggu.
Kejadian yang akan datang telah aku ketahui mulai sekarang yaitu kematian.

Jika aku mengetahui bahwa aku sudah tahu, pasti tidak akan seperti ini.

Dan yang kutehaui sekarang hanya dua hal, amal baik dan amal buruk saya yang selalu setia selamanya.

Ditulis dalam Puisi. Tag: . Leave a Comment »

Semakin Rindu Padamu

Kubuka jendela
Kuhirup udara segar
Ah.. embun kau ikut ikut juga bersama angin
menempel di kulitku
segernya embun pagi

Kutembus kabut perbukitan
Kutesuluri jalan yang panjang
Kutemukan dirimu di bawah pohon rindang

Ah… senyumu, tatapan matamu
masih seperti yang dulu
aku semakin rindu padamu Baca entri selengkapnya »

Tuhan Sembilan Senti

Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,

hansip-bintara- perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Baca entri selengkapnya »

%d blogger menyukai ini: