Siswa SMAN 3 Kuningan Sangat Antusias Mengapresiasi Pementasan Drama “Teater Sado” sebagai Media Pembelajaran

 Pementasan "Lelaki Tua dan Ibu Sepuh Ratu Rita" Teater Sado Kuningan


Pementasan “Lelaki Tua dan Ibu Sepuh Ratu Rita” Teater Sado Kuningan

Pementasan Drama di Kuningan sangat jarang dinikmati oleh para siswa, mungkin untuk kalangan mahasiswa bisa saja ada setahun sekali sebagai tugas akhir perkuliahan. Pada kurikulum 2013 sangat dibutuhkan pementasan drama karena ada materi mengulas drama/film. Jadi pementasan drama sangat dibutuhkan oleh para siswa. Materi terserbut mulai dari mengamati, mengekslorasi/mengapreasi, menalar/merangkum/mengulas yang akhirnya mempresentasilan ulasannya. Agar kegiatan pembelaran tersebut tercapai dengan baik maka dibutuhkan pementasan drama yang baik pula. Baca entri selengkapnya »

Ringkasan Novel Layar Terkembang

Masih ingatkan tokoh wanita di Indonesia yang pernah berjuang melawan penjajah, tokoh wanita yang aktif di organisasi dalam menggerakan kaum wanita, tokoh wanita yang mengangkat emansipasi wanita? Jika masih ingat maka akan lebih asyik lagi jika membaca novel  Layar Terkembang, isi novel ini menurut saya menyampaikan pentingnya kaum wanita untuk beremansipasi dengan tidak meninggalkan kodrat wanita dan kondrat manusia yang selalu tidak lepas dari rasa cinta dan kasih sayang, novel ini sangat seru dibaca oleh para remaja.

Sebagian besar kritikus sastra, antara lain, Aji Rosidi, Zuber Usman, Amal Hamzah, H.B. Jassin , maupun Teuw, menyebutkan novel Layar Terkembang sebagai novel bertendesi. Di antaranya juga ada yang berpendapat bahwa sifat dan pemikiran tokoh Tuti lebih menyerupai sebagai sifat dan pemikiran S. Takdir Alisjahbana, khususnya dalam usaha mengangkat harkat kaum wanita (Indonesia). Tokoh Tuti yang digambarkan sebagai wanita modern yang aktif dalam berbagai  kegiatan organisasi, memang tidak sedikit melontarkan gagasan progresif. Ia juga selalu merasa terpanggil untuk ikut terjun memajukan bangsanya sendiri, khususnya kaum wanita. “Karya penting ketiga diantara roman-roman sebelum perang menurut anggapan umum, ialah Layar Terkembang ….’’ Demikian Tulis Teeuw (Sastra Baru Indonesia 1, 1980).

Bagi yang memerlukan ringkasan novelnya dapat di baca di bawah ini. Baca entri selengkapnya »

Ringkasan Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah

Novel Di Bawah Lindungan Kabah ditulis oleh Hamka, novel ini sangat cocok dibaca oleh semua kalangan, karena mengajak kita untuk tidak membedakan padangan dari segi harta duniawi tapi dari kecintaan patuh pada perintah-Nya. Novel ini menceritakan dua insan yang dilanda asmara dalam suasana tragis, yang satu prihatin sejak kecil yang satunya lagi dilanda sakit yang parah, keduanya meninggal hampir bersamaan pada tempat yang berbeda,

Novel kedua Hamka (= Haji Abdul Malik Karim Amarullah) ini pertama kali di terbitkan  Balai Pustaka (1983) hingga cetakan VI. Setelah cetakan VII sampai cetakan terakhir ini diterbitkan Bulan Bintang. “Dengan mengambil tempat bermainya sebagai cerita di negeri Arab dan dengan memajukan falsafah keislaman, roman Di Bawah Lingkungan Kabah ini menjadi suatu roman yang bercorak dan beraliran keislaman.” Demikian pendapat H.B. Jassin dalam bukunya Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei 1 (Gramedia, 1985; hlm. 46 ). Walaupun dalam soal kemurungan, Di Bawah Lindungan Kabah, masih terasa tak berbeda jauh dalam karya pertamanya, Di Jemput Mamaknya (1930). Namun, dalam napas keislamaan, Di Bawah Lindungan Kabah jauh lebih kuat. Di samping itu, latar tempat kejadian di Mekah itu, ternyata juga sangat mendukung suasana murung dan kepedihan jiwa tokoh utamanya, Hamid.

Jika dibandingkan dengan cerpen panjang Al-Manfaluthi, Al-Yatim, novel Di bawah Lindungan Kabah pun, tampak –sedikit banyak-terpengaruh pula oleh karya pengarang Mesir itu (lihat juga ulasan pada ringkasan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Sungguh pun demikian, di dalamnya masih tampak jelas kritik Hamka terhadap adat perkawinan serta sikap para orang tua, yang mengaku islam, tetapi sebenarnya tidak berjiwa islam.

Untuk lebih jelasnya, inilah ringkasannya. Baca entri selengkapnya »

Ringkasan Novel Sengsara Membawa Nikmat

Pernahkah kita memaknai sebuah pantun seperti ini “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”, pantun terserbut akan semakna dengan pepatah seperti ini “belajarlah sejak dini agar kelak jadi mudah, berusaha keraslah sejak dini agar kelak mendapatkan hasil yang memuaskan, berdoalah dengan ikhlas agar kita mendapat berkah”. Dan pernahkah kita membawa novel yang berjudul Sengsara Membawa Nikmat? Jika belum pernah maka coba baca, mudah-mudahan menjadi sebuah hiburan.

Novel Sengsara Membawa Nikmat, ditulis oleh Sutan Sati yang diterbitkan Balai Pustaka (cetakan pertama tahun 1929).  Setelah saya baca novel tersebut maka saya ringkas seperti ini, jika pembaca pernah membacanya maka bisa jadi ringkasannya akan berbeda.

Dari judulnya, Sengsara Membawa Nikmat, tersirat akhir cerita novel ini. Menurut Teeuw (Sastra Baru Indonesia 1, 1980), ’’Buku ini menarik terutama karena hidup dan lincahnya si pengarang membawa kita ke dalam suasana desa Minagkabau dengan kejadian sehari-hari dan segala reaksi manusiawinya.’’ (hlm 90). Temanya sendiri lebih banyak terpusat pada pengembaraan tokoh utamanya, Midun. Gambaran pengembaraanya sendiri terasa lebih realistis jika dibandingkan  dengan Muda Teruna karya Muhammad Kasim yang masih terasa  pengaruh bentuk hikayatnya. Begitu juga latar tempatnya tidak lagi di seputar wilayah sumatra saja, melainkan juga di jawa (Bogor dan Jakarta).

Inilah ringkasannya. Baca entri selengkapnya »

Ringkasan Novel: Salah Asuhan

Pengarang: Abdul Muis (1886-17 Juli 1959)
Penertbit: Balai Pustaka
Tahun Terbit: 1928, Cetakan XIX, 1990

Hanafi adalah pemuda pribumi asal Minangkabau. Sesungguhnya, ia termasuk orang yang sangat beruntung dapat bersekolah di Betawi sampai tamat HBS. Ibunya yang sudah janda, memang berusaha agar anaknya tidak segan-segan menitipkan Hanafi pada keluarga Belanda walaupun utnuk pembiayaannya ia harus meminta bantuan mamaknya, Sutan Batuah. Setamat HBS, Hanafi kembali ke Solok dan bekerja sebagai klerek di kantor Asisten Residen Solok. Tak lama kemudian, ia diangkat menjadi komis (lihat halaman 27).

Pendidikan dan pergaulan yang serba Belanda, memungkikan Hanafi berhubungan erat dengan Corrie De Busse, gadis Indo-Perancis. Hanafi kini merasa telah bebas dari kungkungan tradisi dan adat negerinya. Sikap, pemikiran dan cara hidupnya juga sudah kebarat-baratan. Tidaklah heran jika hubungannya dengan Corrie ditafsirkan lain oleh Hanafi karena ia kini sudah bukan lagi sebagai orang “inlander” (bangsa pribumi yang di jajah oleh Belanda). Oleh karena itu, ketika Corrie datang ke Solok dalam rangka mengisi liburan sekolahnya, bukan main senangnya hati Hanafi. Ia dapat berjumpa kembali dengan sahabat dekatnya.

Hanafi mulai merasakan tumbuhnya perasaan asmara. Sikap Corrie terhadapnya juga dianggap sebagai gayung bersambut kata terjawab. Maka, betapa terkejutnya Hanafi ketika ia membaca surat dari Corrie. Corrir mengingatkan bahwa perkawinan campuran bukan hanya tidak lazim untuk ukuran waktu itu, tetapi juga akan mendatangkan berbagai masalah. “Timur tinggal timur, Barat tinggal Barat, tak akan dapat ditumbuni jurang yang membatasi kedua bahagian itu” (lihat halaman 59). Perasaan Corrie sendiri sebenarnya mengatakan lain. Namun, mengingat dirinya yang Indo—dan dengan sendirinya prilaki dan sikap hidupnya juga berpijak pada kebudayaan barat—serta Hanafi yang pribumi, yang tidak akan begitu saja dapat melepaskan akar budaya leluhurnya. Baca entri selengkapnya »

Ringkasan Novel: Azab dan Sengsara

AZAB DAN SENGSARA

(KISAH KEHIDUPAN SEORANG GADIS)

Pengarang : Merari Siregar

Penerbit : Balai Pustaka

Umumnya, para pengamat sastra Indonesia menempatkan novel Azab dan sengsara ini sebagai novel pertama di Indonesia dalam khazanah kesusastraan Indonesia modern. Penempatan novel ini sebagai novel pertama lebih banyak didasarkan pada anggapan bahwa kesusastraan Indonesia modern lahir tidak dari peran berdirinya Balai Pustaka. 1917, yang cikal bakalnya berdiri tahun 1908. Sungguhpun sebenarnya tidak sedikit novel yang terbit sebelum Balai Pustaka berdiri, dalam hal pemakaian bahasa Melayu sekolahan, Azab dan Sengsara yang mengawalinya. Dalam konteks itulah novel ini menempati kedudukan penting.

Tema Azab dan Sengsara sendiri yang mempermasalahkan perkawinan dalam hubungan nya dengan harkat dan martabat keluarga, bukanlah hal yang baru. Novel-novel yang terbit di luar Balai Pustaka-yang umumnya menggunakan bahasa Melayu rendah atau bahasa Melayu pasar-juga banyak yang bertema demikian. Novel bahasa Sunda, Baruang ka Nu Ngora (Racun Bagi Kaum Muda; 1914) karya D.K. Ardiwinata (1866-1947) yang diterbitkan Balai Pustaka, juga bertema perkawinan dalam hubungannya dengan harkat dan martabat keluarga. Jadi, secara tematik, novel Azab dan Sengsara, belumlah secara tajam mempermasalahkan perkawinan dalam hubungannya dengan adat.

Ini ringkasannya Baca entri selengkapnya »

Ringkasan Novel: Siti Nurbaya

SITTI NURBAYA

(Kasih Tak Sampai)

Pengarang : Marah Rusli (7 Agustus 1889-17 Januari 1968)

Penerbit : Balai Pustaka

Hampir semua kritikus sastra Indonesia menempatkan novel Sitti Nurbaya ini sebagai karya penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Secara tematik, seperti yang disinggung H.B. Jassin, Zuber Usman, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, maupun Teeuw, novel ini tidak hanya menampilkan latar social lebih jelas, tetapi juga mengandung kritik yang tajam terhadap adapt-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Novel ini pula yang pertama kali menampilkan masalah perkawinan dalam hubungannya dengan persoalan adat, yang kemudian banyak diikuti oleh pengarang-pengarang Indonesia sesudahnya.

Pada tahun 1969, novel ini memperoleh hadiah penghargaan dari pemerintah Indonesia sebagai hadiah tahunan yang diberikan setiap tanggal 17 Agustus- kini Hadiah Tahunan Pemerintah ini tidak dilanjutkan lagi.

Berbagai artikel maupun makalah yang membahas novel ini sudah banyak ditulis oleh para pengamat sastra Indonesia, baik dalam maupun luar negeri. Hingga kini, ulasannya masih terus banyak dilakukan, baik dalam konteks sejarah kesusastraan Indonesia modern, maupun dalam konteks social dan emansipasi wanita.

Di Malaysia, novel ini terbit pula dalam edisi bahasa Melayu. Pada tahun 1963 saja, di Malaysia itu, Sitti Nurbaya sudah mengalami cetak ulang ke-11. Untuk pengajaran sastra di tingkat sekolah lanjutan, novel ini merupakan salah satu novel wajib.

Tahun 1991, TVRI menyiarkan sinetron Sitti Nurbaya dengan pemeran utamanya Novia Kolopaking (sebagai Sitti Nurbaya) dan Gusti Randa (sebagai Samsulbahri).

Inilah ringkasannya. Baca entri selengkapnya »

%d blogger menyukai ini: