Wanita dan Tas Gendong

Liya termasuk pekerja yang rajin, cekatan, dan selalu menuntaskan pekerjaannya. Tumben hari ini dia datang lebih awal, biasanya suka datang terlambat.

“Pagi Liya, laporannya sudah beres?”, tanyaku.

“Pagi juga Lusi. Alhadulillah beres sampeĀ  melekan larut malam, nah laporan yang ini belum, paling nanti siang aku minta bantuan Budi untuk membantuku”, jawab Liya.

Kami bertiga, Liya dan Budi terasuk tiga sekawan, meskipun Budi beda kantor, kami ada dalam satu departeman yang sama. Liya banyak digemari kaum laki-laki, mungkin karena murah senyumnya, pergaulannya luwes, mudah berteman dengan siapa saja. Ciri khas dia sering menggendong tas kecil.

“Liya, tadi pagi si Ibu telepon aku, katanya kita sama Budi ke kota Udang”

“Okeh, siap, Lusi” Liya mengiyakan. Sejak itulah Budi makin dekat dengan Liya, mereka sering pulang sore, bahkan Budi pun sering menjadi supir pribadi Liya ketika ada kegiatan malam/dinas malam ke luar daerah.

Liya kau pantas jadi seorang atasan karena dirimu menguasai banyak hal. Tas gendongmu aku suka. Bodimu tinggi semampai aku juga suka penampilanmu.

Iklan

Kutitipkan Padamu

Tiba-tiba mobil hijau berlogo tiga lingkaran menghampiriku.

“Siang Budi, aku titip ini ya, tolong betulkan”, Liya mengeluarkan tangannya dari dalam mobilnya sambil memperlihatkan cincin mutiara yang copot dari tempatnya

“Ya, aku simpan ya, nanti aku kembalikan jika kau minta” jawabku. Hatiku senang dapat bertemu dengan Liya, dia seorang yang pekerja tuntas pergaulannya supel.

“Jangan lupa ya, betulkan, aku ke GOR dulu ada kegiatan” Liya memintaku untuk membetulkan cincinya.

Waktu tak terasa sudah sore, aku segera mengembalikan titipannya, aku senang bisa bertemu lagi dengan Liya yang tinggi, manis, cantik, cekatan, pekerja tuntas.

Dalam Kerinduan

 

Jarum jam berputar tiada henti, apa yang kau kejar?
Hari silih berganti, apakah kau menunggu sesuatu?
Tanggal saling berganti dan kembali ke awal, apakah kamu tidak bosan?

Rasa tidak bisa kompromi dengan logika
Akal tidak mau tahu tentang isi hati
Berontak, membara cemburu

Aku ternyata terjebak dalam kerinduan yang sangat rumit.

%d blogger menyukai ini: