Tujuh Detik

Hanya tujuh detik sang mentari memberikan senyuman siangnya
Mengapa tidak 360 detik?
Apakah sang mentari pagi sibuk dengan pekerjaannya?

Aku harus belajar bersyukur
Aku harus belajar iklas
Menerima kenyataan senyuman mentari pagi
Hanya tujuh detik saja.

Tapi mengapa sang mentari pagi
Datang memberikan senyumannya tidak sendirian?
Mengapa ada yang menemaninya?
Jika hanya memberikan senyumannya hanya tujuh detik saja

 

Ditulis dalam Puisi. Tag: . Leave a Comment »

Jumat dan Senin

Nanti saja Jumat ya…
Kutemui Jumat demi Jumat, dari pagi sampai sore
Akhirnya kutemui Kamis
“Bagaimana dengan Jumat”? tanyaku
Jawabannya Jumat yang dijanjikan
Sudah bersama orang lain.

Kurelakan Jumat telah pergi

Kutemui dapatkan lagi teriakan
Jangan Sabtu, nanti Senin saja
Kutemui Senin demi Senin
Akhirnya kutemui Selasa
Mana Senin yang dijanjikan
Sampai saat ini belum ada jawabannya

Apakah ini sebuah tanda
Jumat dan Senin sebagai pelarian
Untuk menjauh dan menghilang?

 

Ditulis dalam Puisi. Tag: . Leave a Comment »
%d blogger menyukai ini: