Dengan Dua Ribu Rupiah yang Diberikan Sang Sopir Elef Kuningan-Cirebon kepada Orang Buta di Gronggong, Menyelematkan Penumpang

Kota Cirebon dan Lautnya Dilihat dari Gronggong

Kota Cirebon dan Lautnya Dilihat dari Gronggong

Inilah kota Cirebon dan lautanya yang dilihat di daerah Gronggong Cirebon. Daerah ini jika dari arah Kuningan merupakan daerah “turunan” yang agak berkelok berpemandangan indah, jika melihat ke kiri akan tampak Ciremai yang indah, jika melihat ke kanan akan terlihat pemadangan seperti foto di atas. Daerah Gronggong cocok untuk beristirahat, di sana sudah tersedia rumah makan sederhana dan modern, bahkan pada akhir pekan biasanya ramai dikunjungi.

Saya merasa biasa saja ketika menikmati suasana di Gronggong dengan pemandangan indah kota Cirebon dan birunya laut Jawa atau indahnya gunung Ciremai yang menjulang tinggi, atau sekedar untuk beristrirahat. Hal yang mengagetkan saya adalah ketika saya naik angkutan umum  elf dari Kuningan ke Cirebon, sopir tiba-tiba meminggirkan kendaraanya di daerah Gronggong.

Awalnya saya cuek karena sudah biasa jika sopir meminggirkan kendaraannya pasti ada penumpang yang akan naik atau turun, namun setelah saya periksa ke luar, tidak ada penumpang yang akan naik atau turun, berhentinya juga di daerah yang sepi dan sekitar  pepohonan rindang. Saya heran mengapa tiba-tiba meminggirkan kendaraan?

Eh ternyata sopir memerintah kernetnya “Bere dua rebu” (beri dia uang dua ribu rupiah), hem… saya pikir ada pungli atau calo penumpang. Ternyata ada seorang wanita setengah baya yang buta. Orang ini (kata sopir) sudah biasa mangkal di tempat itu, dan sopir ini menurut pengakuannya sudah biasa tiap hari memberikan sodaqoh dua ribu rupiah kepada orang yabng buta itu. Saya juga cuek lagi dan mobilpun mulai masuk kawasan view Gronggong, saya seperti biasa jika melewati daerah ini pasti menikmati keindahan kota Cirebon dan laut Jawanya. Namun ketika memasuki jalan berliku dan tunan–setelah melewati daerah kawasan view Gronggong– tiba-tiba dari arah berlawanan ada mobil yang menyalip kendaraan di depannya sehingga mengambil jalur jalan dari arah saya, maka mobil yang saya tumpangi secara mendadak menghindari tabrakan terpaksa minggir dan hampir masuk jurang dan hampir menabrak tumpukan batu. Alhamdulillah tidak terjadi tabrakan, tidak masuk jurang, tidak menabrak tumpukan batu besar, semua penumpang selamat, dan saya tidak tahu nasib mobil yang mengambil jalur orang lain, semua penumpang merasa cemas jika terjadi kecalakaan, sang sopir pun menggerutu dan menenangkannya jiwanya, kemudian melanjutkan perjalanan lagi.

Saya merenung, ternyata ke-cuek-an saya ditegur oleh yang mahakuasa, dan saya baru sadar, bahwa keselamatan saya pada mobil yang saya tumpangi berkat sopir yang rajin sodaqoh, sehingga saya baru ingat pesan guru  ngaji, “jangan lupa untuk bersedekah, karena bisa jadi sedekah itu sebagai penyelamat”.

Dari turunan Gronggong sampai kota Cirebon pikiran saya terpusat pada kejadian sopir yang dengan ikhlasnya memberikan dua ribu rupiah kepada wanita setengah baya yang buta di daerah Gronggong. Begitu hebatnya karakter sang sopir elf tadi, saya percaya dia bukan jebolan sekolahan/pendidikan kurikulum yang menganggukan pendidikan karakter, tapi bisa jadi karekter dia sudah tertanam sejak kecil di lingkungan keluarga atau di masyarakat, saya merasa kalah oleh sang sopir tadi yang tidak cuek malah perhatian kepada orang “lemah” dan sangat memerlukan bantuan. Sopir tadi tidak memikirkan untung rugi dengan dua ribu rupiah, sementara saya masih perhitungan ketika akan memasukkan uang infak ke kotak amal di mesjid.

Kejadian yang luar biasa pada hari Rabu, 13 November 2013, saya rasakan itulah teguran bagi saya melalui tugas dinas, melalui naik angkutan umum (biasanya kalau  ke Cirebon membawa kendaraan sendiri), melalui sang sopir, melalui kejadian selamat dari kecelakaan di jalan. Semoga menjadi hikmah bagi saya, cerita di atas bukan fiktif tapi kisah nyata, tapi bisa jadi penumpang yang 15 orang akan bercerita yang sama atau bahkan sang sopir akan bercerita yang sama dengan sama kepada orang lain.

Akhirnya saya menikmati tugas dinas dengan enjoy dan beristirahat di daerah jalan evakuasi, kebetulan ada wisma yang cukup bersih.

9 Tanggapan to “Dengan Dua Ribu Rupiah yang Diberikan Sang Sopir Elef Kuningan-Cirebon kepada Orang Buta di Gronggong, Menyelematkan Penumpang”

  1. mashudan andi wijaya Says:

    kang awan boleh share buat fb saya, thanks. barokallah

  2. Dengan Dua Ribu Rupiah yang Diberikan Sang Sopir Elef Kuningan-Cirebon kepada Orang Buta di Gronggong, Menyelematkan Penumpang | Blog Rusydi Says:

    […] Dengan Dua Ribu Rupiah yang Diberikan Sang Sopir Elef Kuningan-Cirebon kepada Orang Buta di Gronggon…. […]

  3. awan sundiawan Says:

    @mashudan andi wijaya : silakan sebarkan, semoga bermanfaat.

  4. hendrika pringgandani Says:

    emut kapungkur ngalangkung ka ieu tempat sanaos teu sering oge.

  5. Eri AK Says:

    Gronggong teh palih mana Kang ? Asa indah pemandanganna hehehe ….

  6. berita terkini Says:

    ceritanya sangat memotivasi pak, memang sebagian dari uang kita pasti ada bagian orang lain dan kita wajib mengeluarkanya melalui shodaqoh.

  7. Guz Firdaus Says:

    kayakna mah setiap sopir angkutan umum nu ngaliwat kadinya sok masihan ka eta jalmi. saya oge mun naek bus ka jakarta, sok liren heula didinya si bus na teh.

  8. hadi Says:

    mengenai pengemis buta di gronggong..crita sudah menyebar kemana mana..mulai dari penjual nasi yg laris setelah di doakan beliau ..sopir bus yg sewanya penuh terus ..hingga antrian mobil pribadi yg minta di doakan beliau dg berbagai macam permintaan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: