Pendidikan (yang) Berkarakter

Saya sudah lama termenung di bawah pohon yang rindang untuk berteduh, dan sudah lama pula saya merenungkan pendidikan yang berkarakter. Bagaimanakah memulainya? Bagaimanakah caranya? Bagai menerapkannya? dan banyak lagi pertanyaan lainnya.

Saya pernah menikmati layanan taksi yang memuaskan, dan menjadi referensi saya jika melakukan perjalanan di sebuah kota besar. Mengapa saya suka pada taksi tersebut, karena para supirnya berkarakter baik, ramah, tidak pilih kasih, jujur, sopan. Setelah saya tanyakan pada beberapa supir, mereka memjawab bahwa pihak mnajemennya selalu mengontrol kualitas pelayanan para supir dengn cara para pengguna jasanya dapat menyampaikan keluhannya apabila ada supir yang kurang baik, dan pihak perusahaan akan segera menindaknya. Artinya “bawahan” akan berkarakter karena “atasannya” juga berkarakte, hal itu adanya pendidikan yang berkarakter.

Kemudian saya mengalihkan pada pendidikan yang berkarakter di sebuah institusi pendidikan, jika berasumsi pada cerita supir taksi saya, maka akan ada rentetan sebagai berikut. Peserta didik akan berkarakter apabila tenaga pendidiknya berkarakter (menanamkan karakter baik dengan memberi contoh pada peserta didik). Tenaga pendidik akan berkarakter apabila “atasannya” berkarakter (menanamkan karakter yang baik pada tenaga pendidik, atau memberi contoh berkarakter baik). Dan begitu seterusnya, tentunya penanaman karakter tersebut tidak bisa dengan instan.

Masih di berterduh dipohon yang rindang, saya sempat mendengar ocehan para remaja, “Buat apa kita jujur di sekolah, buat apa kita belajar keras, buat apa kita bernilai tinggi, lihat saja yang sudah lulus lama, juga kelakuannya kurang baik, harus mereka yang sudah lulus memberikan contoh yang baik pada generasi berikut“. Jika saya cermati para remaja tersebut mengabaikan pendidikan karakter yang ditanamkan tenaga pendidik di satuan pendidikannya. Bisa jadi pihak satuan pendidikan sudah mati-matian menanamkan pendidikan berkarakter, tapi keluar keluar dari area satuan pendidikan membaca, melihat berita banyak orang “sukses” dengan tidak berpendidikan karakter baik.

Pemahamahan saya bahwa pendidikan karakter harus dilakukan menyeluruh oleh semua warga negara Indonesia mulai dari pada pejabatnya sampai rakyatnya, sehingga pendidikan karakter akan tertanam dengan subur dan memiliki akar karakter yang kuat, bukan hanya formalitas selama di lingkungan pendidikan. Artinya program pendidikan harus didukung oleh semua pejabat, pemangku kebijakan, tokoh masyarakat, agar para peserta didik dapat mudah menanamkan pendidikan  karakternya karena banyak contoh.

Bisa jadi bagi peserta didik yang ingin menjadi supir taksi yang saya sebutkan di atas tentunya aka bertanya, belajar dan meniru gaya pelayanan supir taksi tersebut agar memeiliki karakter yang diinginkan oleh manajemen perusahaan taksi tersebut.

Ah tidak terasa ada yang jualan makanan nih, maaf saya membeli makanan dulu, apabila ada yang rela berbagi mengenai pendidikan yang berkarakter atau pendidikan karakter saya menunggunya, terima kasih.

About these ads

6 Tanggapan to “Pendidikan (yang) Berkarakter”

  1. Danamaya Says:

    Peribahasa: “Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari”, Penjabarannya seperti yang tertuang dalam tulisan di atas. Pondasi Pendidikan berkarakter yang dimaksud, pendapat saya adalah AKHLAQ yang menjadi dasarnya. Kalau Kita bicara soal Akhlaq, tentunya sudah mencakup dalam kehidupan umum, termasuk dunia Pendidikan merupakan unsur terpenting. Pendidikan Akhlaq harus ditanamkan sejak dini, terutama dari lingkungan keluarga di mana anak-anak dibesarkan. Kalau dari Keluarga tidak ada pedidikan dasar soal Akhlak dan dari sekolah sudah mulai dilupakan (kurang prioritasnya) mau bagaimana Pendidikan Punya Karakter. Menyuruh, atau mendidik yang lebih ampuh adalah dengan cara menjadi contoh, atau menjadi suri tauladan bagi siswa atau bawahan. Jangan meniru cara-cara calo di Terminal (maaf), berani mengajak penumpang naik bis untuk menuju satu tujuan, dan begitu bis penuh beranjak pergi, eh….. ternyata dirinya tetap di tempat.
    Bila batang tebu pangkalnya sudah tak tersa manis airnya, mau bagaimana rasa air di ujungnya? Jadi kesimpulan, sebelum menekankan kepada anak didik (orang lain), yu mulai dari kita sendiri menjabarkan kehidupan yg berakhlaq sesuai dg hukum agama, dg demikian, niscaya Pendidikan akan punya karakter, karena akhinrya: “Guru kencing berdiri, murid akan kencing sambil berlari”. Terimakasih……

  2. Herti Says:

    inormasinya menarik .. pendidikan yang berkarakter wah hebat .. salam persahabatan…

  3. Dokter Anak Says:

    bagus artikel yg anda buat ini..thanx

  4. Rokhmad aji irawan Says:

    terima kasih atas bantuannya

  5. Farah Aida Says:

    Untung saya melihat artikel anda, kalau tidak pasti gelagapan saya cari informasi. Terima kasih.

  6. awan sundiawan Says:

    @all: terima kasih atas kunjungannya, semoga kita dapat memulainya sekarang untuk memberikan pendidikan karakter pada anak kita sendiri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.634 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: