TIK Dalam Pendidikan dan Pembelajaran (bag-2)

7.  Landasan Teori Belajar dalam Sistem Pembelajaran E-learning

a. Teori Belajar dalam Sistem Pembelajaran E-learning

Teori belajar merupakan sekumpulan kaidah untuk melaksanakan pem-belajaran yang efektif melalui sistem pembelajaran yang dikembangkan ber-dasarkan teori belajar. Tujuan sistem pembelajaran ialah menghadirkan peris-tiwa belajar pada pebelajar. Karena itu, pengembangan bahan ajar perlu di-kembangkan berdasarkan prinsip-prinsip belajar dan pengetahuan ilmiah me-ngenai bagaimana pebelajar belajar. Hal ini perlu dilakukan terutama pada e-learning yang terdapat keterpisahan antara pebelajar dengan pengajar. Seperti telah dinyatakan sebelumnya, e-learning dan teknologi lainnya bukanlah fak-tor penentu kualitas pembelajaran, sistem pembelajaran yang dirancang berba-sis teori belajar yang sesuailah yang menentukan efektivitas pembelajaran. Teknologi hanyalah mekanisme untuk menyampaikan pesan. Rancangan pe-san yang dilandasi oleh teori belajarlah yang akan menentukan mutu pembe-lajaran. Sebagai pengawas sekolah, pemahaman seperti ini sangat perlu, supa-ya kita tidak menilai mutu pembelajaran semata-mata dari teknologinya. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kita akan mempelajari bebera-pa teori belajar yang diterapkan pada e-learning.

Tiga aliran teori belajar yang melandasi sistem pembelajaran e-learning ialah psikologi perilaku (behaviorism), kognitifisme (cognitivsm), dan kons-truktifisme (constructivism). Teori belajar perilaku dipengaruhi oleh pemikir-an Thorndike (1913), Pavlov (1927), dan Skinner (1974).

1). Psikologi Perilaku.

Salah dasar teori perilaku ialah bahwa belajar merupakan suatu perubah-an perilaku yang dapat diamati yang disebabkan oleh rangsangan eksternal dari lingkungan. Para ahli psikologi perilaku mempercayai bahwa perilaku yang teramatilah, bukan apa yang ada dalam pikiran pebelajar, yang menun-jukkan telah terjadi peristiwa belajar.

2) Psikologi Kognitif

Psikologi kognitif memandang belajar sebagai sebuah proses yang me-libatkan penggunaan memori, motivasi, dan berfikir. Para ahli psikologi kog-nitif melihat belajar sebagai proses internal dalam diri pebelajar. Banyaknya hal yang dipelajari ditentukan oleh kapasitas pemrosesan pada diri pebelajar, kedalaman pemrosesan, banyaknya upaya yang dilakukan oleh pebelajar, dan struktur pengetahuan yang sudah ada dalam diri pebelajar.

3) Psikologi Kognitif

Psikologi konstruktif menjelaskan proses belajar sebagai proses pebela-jar menafsirkan informasi dan dunia sekitarnya berdasarkan realitas personal. Pebelajar belajar melalui observasi, pemrosesan dan penafsiran, dan menerje-mahkan informasi kedalam pengetahuan personal. Pebelajar belajar dengan optimal ketika mereka dapat menafisirkan bahan ajar dalam konteks penera-pan langsung dan dapat menjadi pengertian personal.

Rancangan pembelajaran untuk e-learning didasarkan pada ketiga alir-an psikologi tersebut di atas. Ertmer dan Newby (1993) menyimpulkan bah-wa ketiga aliran psikologi tersebut dapat dipandang sebagai suatu taksonomi belajar. Strategi pembelajaran yang diturunkan dari psikologi perilaku dapat digunakan untuk mengajarkan fakta, strategi pembelajaran yang diturunkan dari psikologi kognitif dapat digunakan untuk mengajarkan proses dan prin-sip, sedangkan strategi pembelajaran yang diperoleh dari psikologi konstruk-tif dapat digunakan untuk mengajarkan pemikiran tingkat tinggi yang meng-hasilkan pengertian personal serta hasil belajar yang konstektual dan tersitu-asi.


b.   Implikasi Teori Belajar Perilaku terhadap E-learning

Teori belajar perilaku memandang bahwa belajar sebagai perubahan pe-rilaku yang meliputi tindakan, pikiran, dan perasaan. Hasil belajar dapat dia-mati secara kuantitatif dari perilaku dengan mengabaikan pengaruh pemrose-san fikiran. Belajar diarahkan oleh pemberian stimulus yang tepat untuk men-dapatkan perilaku yang diharapkan. Dengan demikian, implikasi teori belajar perilaku terhadap e-learning berfokus pada stimulus penyampaian bahan ajar yang diharapkan diikuti oleh respons pebelajar yang menuju pada perilaku yang diharapkan.

Implikasi untuk e-learning antara lain:

  • Pebelajar perlu diberikan secara eksplisit hasil belajar yang menjadi tu-juan pembelajaran sehingga mereka dapat menyiapkan harapan dan dapat menimbang untuk diri sendiri apakah mereka telah mencapai tujuan terse-but atau belum mencapainya pada saat pembelajaran berlangsung.
  • Pebelajar perlu diuji untuk menentukan apakah mereka telah mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itu, online testing atau bentuk tes lainnya per-lu diintegrasikan ke dalam pembelajaran supaya dapat memeriksa keterca-paian tujuan pembelajaran dan memberikan umpan balik yang cocok.
  • Bahan ajar perlu diurutkan sedemikian rupa sehingga memudahkan pebe-lajar untuk mempelajarinya. Urutan bahan ajar tersebut adalah dari mudah ke sulit, dari yang diketahui ke yang tidak diketahui, dari pengetahuan ke penerapan.
  • Pebelajar perlu disediakan umpan balik sehingga mereka dapat meman-tau proses belajar dan mendapatkan perbaikan bilamana diperlukan.

c.  Implikasi Teori Belajar Kognitif terhadap E-learning

Teori belajar kognitif memandang belajar dari sudut pandang pemroses-an informasi, pebelajar menggunakan jenis memori yang berbeda selama pro-ses belajar, seperti terlihat pada Gambar 2. Sensasi diterima melalui indera ke dalam sensor penerima (sensory store) sebelum pemrosesan dilaksanakan. Informasi tinggal dalam sensor penerima untuk kurang dari satu detik (Kalat, 2002). Jika informasi tersebut tidak segera ditransfer ke memori jangka pen-dek, informasi tersebut akan hilang.

Rancangan pembelajaran dalam e-learning perlu menerapkan strategi yang memungkinkan pembelajar mentransfer informasi dalam bahan ajar ke-dalam memori jangka pendek. Banyaknya informasi yang dapat ditransfer ke-dalam memori jangka pendek tergantung pada banyaknya perhatian pebela-jar terhadap informasi yang datang dan – yang terutama – tergantung pada struktur kognitif yang tersedia yang membuat informasi baru tersebut menja-di dipahami oleh pebelajar. Jadi, perancang e-learning perlu memastikan bah-wa pebelajar telah memiliki struktur kognitif yang memungkinkan ia mempro-ses informasi. Strategi pra pembelajaran, misalnya advance organizers, dapat diterapkan sebagai bagian dari proses belajar untuk memastikan terbentuknya struktur kognitif yang memungkinkan informasi yang datang dapat diproses dalam memori jangka pendek.

Jangka waktu dalam memori jangka pendek adalah 20 detik. Jika infor-masi dalam memori jangka pendek tidak diproses dengan baik maka informa-si tersebut tidak akan ditransfer ke memori jangka panjang untuk disimpan. Strategi dalam e-learning perlu mengorganisasikan informasi dari bahan ajar dalam potongan-potongan informasi yang cukup kecil sehingga memudahkan diproses. Kapasitas memori jangka pendek sangat terbatas, informasi perlu dikelompokkan dalam ukuran kecil dan dalam urutan yang memiliki arti. Miller, lebih lanjut, menyarankan bahwa informasi perlu dipenggal-penggal menjadi kurang lebih lima sampai tujuh (±5-7) satuan informasi yang memi-

liki arti untuk menyesuaikan dengan keterbatasan kapasitas memori jangka pendek.

Setelah informasi diproses dalam memori jangka pendek, kemudian in-formasi tersebut disimpan ke dalam memori jangka panjang. Banyaknya infor-masi yang ditransfer ke dalam memori jangka panjang ditentukan oleh kuali-tas dan kedalaman pemrosesan dalam memori jangka pendek. Pemrosesan yang makin dalam akan makin banyak bentuk informasi baru yang saling ter-kait dalam memori. Informasi yang ditransfer dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang dilakukan dengan cara asimilasi atau akomodasi. Da-lam asimilasi, informasi diubah untuk dicocokkan dengan struktur kognitif, sedangkan dalam akomodasi, struktur kognitif berubah menyesuaikan dengan informasi yang baru.

Menurut psikologi kognitif, informasi disimpan dalam memori jangka panjang dalam bentuk simpul-simpul yang terhubung membentuk hubungan-hubungan. Dengan perkataan lain, informasi dalam memori jangka panjang membentuk suatu jejaring. Oleh karena itu, peta informasi yang memperlihat-kan konsep-konsep utama dalam suatu topik dan hubungan antar konsep ter-sebut perlu disertakan dalam bahan ajar pada e-learning. Pembelajar perlu di-dorong untuk membuat peta informasi seperti ini.

Teori belajar yang berlandaskan psikologi kognitif menekankan penting-nya perbedaan individual pebelajar. Perbedaan individual antara lain gaya be-lajar (learning style) dan gaya kognitif (cognitive style). Gaya belajar merujuk pada bagaimana pembelajar mempersepsi, berinteraksi, dan menanggapi ling-kungan belajar. Gaya kognitif terkait dengan kecenderungan pebelajar untuk memproses informasi, yaitu cara berfikir, mengingat, atau memecahkan masa-lah.

Gaya belajar dipengaruhi oleh dua komponen, yaitu cara mempersepsi dan memproses informasi. Cara mempersepsi terkait dengan cara pebelajar menangkap dan menyerap informasi dari lingkungan sekitar. Cara memper-sepsi bervariasi mulai dari cara mempersepsi melalui pengalaman nyata (concrete experience) sampai cara mempersepsi melalui pengamatan reflektif (reflective observation). Cara mempersepsi melalui pengalaman nyata meru-pakan gaya belajar pebelajar yang cenderung memiliki minat utuk mempe-lajari hal-hal yang memiliki arti personal dalam kehidupannya. Cara memper-sepsi melalui pengamatan reflektif adalah gaya belajar pebelajar yang cende-rung banyak menghabiskan waktu untuk merenungkan isi bahan ajar.

Komponen kedua dalam gaya belajar ialah cara memproses informasi. Cara pemrosesan informasi oleh pebelajar bervariasi mulai dari konseptuali-sasi abstrak sampai ke eksperimentasi aktif. Pebelajar yang cenderung mem-proses informasi dengan cara konseptualisasi abstrak lebih suka mempelajari fakta dan angka serta meneliti informasi baru pada topik-topik yang berbeda. Pebelajar yang cenderung memproses informasi secara eksperimentasi aktif akan lebih menyukai menerapkan apa-apa yang dipelajari ke dalam situasi nyata. Mereka lebih menyukai mencoba sesuatu dan mempelajarinya.

Berdasarkan cara mempersepsi dan cara memproses informasi, pebe-lajar digolongkan menjadi empat kategori seperti yang terlihat pada Gambar 4.

Gaya belajar Converger adalah gaya belajar pembelajar yang cenderung mempersepsi lingkungan melalui eksperimentasi aktif dan memproses infor-masi dengan cara konseptualisasi abstrak. Diverger, sebaliknya dari converger, lebih menyukai pengamatan reflektif dalam mempersepsi lingkungan belajar dan memproses informasi dengan cara pengalaman nyata.

Assimilator cenderung mempersepsi lingkungan belajar melalui penga-matan reflektif dan memproses informasi dengan cara konseptualisasi abstrak. Sedangkan Accomodator lebih menyukai eksperimentasi aktif dalam memper-sepsi lingkungan belajar dan memproses informasi berdasarkan pengalaman nyata.

Implikasi yang dapat diturunkan dari psikologi kognitif terhadap ran-cangan e-learning ialah sebagai berikut.

  • Rancang strategi untuk menarik perhatian sehingga pebelajar dapat mem-persepsi informasi yang disajikan. Misalnya, dalam e-learning, informasi penting ditempatkan pada posisi tengah-tengah layar komputer, meman-faatkan atribut layar komputer (warna, grafik, ukuran teks, jenis teks), ke-cepatan penyajian informasi, atau jenis media (audio, visual, animasi, vi-deo).
  • Supaya pebelajar memfokuskan perhatian pada hal-hal yang menjadi tu-juan kompetensi pada e-learning, tujuan kompetensi tersebut perlu diin-formasikan secara eksplisit kepada pebelajar. Informasikan pula penting-nya tujuan kompetensi tersebut untuk memotivasi.
  • Hubungkan bahan ajar yang merupakan informasi baru bagi pembelajar dengan pengetahuan yang telah dikuasai sebelumnya oleh pembelajar. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan advance organizer untuk mengaktifkan struktur kognitif. Gunakan juga pertanyaan-pertanyaan un-tuk mengaktifkan struktur koginitif yang relevan.

Informasi perlu dipenggal-penggal untuk memudahkan pemrosesan dalam memori jangka pendek. Sajikan 5 sampai 9 butir informasi dalam satu la-yar komputer. Jika terdapat banyak sekali butir informasi, sajikan infro-masi tersebut dalam bentuk peta informasi.

  • Untuk memfasilitasi pebelajar memproses informasi secara mendalam, pebelajar perlu didorong supaya mengembangkan peta informasi pada saat pembelajaran atau sebagai kegiatan merangkum setelah pembelajaran.
  • Supaya pebelajar memproses informasi secara mendalam, pebelajar perlu disiapkan latihan yang memerlukan penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kegiatan tersebut akan mentransfer secara efektif informasi kedalam memori jangka panjang.
  • Bahan ajar pada e-learning perlu mengakomodasi gaya belajar pebela-jar. Pembelajar dengan gaya belajar Converger perlu diberi bahan ajar yang menekankan pada penerapan konsep. Pebelajar dengan gaya bela-jar Diverger perlu diberi bahan ajar yang memerlukan pengembangan da-ri pembelajar untuk menghasilkan konsep-konsep. Pebelajar dengan gaya belajar Assimilator perlu bahan ajar yang bersifat teori dan menyaji-kan sintesis berbagai konsep. Pembelajar dengan gaya belajar Accomodator memerlukan isi bahan ajar yang terkait dengan pemecahan masalah dalam

situasi nyata.

  • Informasi perlu disajikan dalam berbagai media untuk mengakomodasi perbedaan individual pebelajar dan memudahkan transfer ke memori jangka panjang. Untuk itu, gunakan berbagai media tekstual, verbal, dan visual.
  • Motivasi sangat penting dalam belajar. Motivasi mendorong pebelajar mempersepsi informasi dalam bahan ajar. Sebagus apa pun rancangan ba-han ajar, jika pebelajar tidak termotivasi maka tidak akan terjadi peristi-wa belajar karena pebelajar tidak akan mempersepsi informasi dalam bahan ajar tersebut. Untuk itu, gunakan model ARCS – attention, relevance, confidence, satisfaction yang diajukan oleh Keller (1983).

Attention, menarik dan memelihara perhatian siswa selama pebelajar-an. Relevante, menginformasikan pebelajar mengenai pentingnya dan manfaat pelajaran bagi pebelajar. Hal ini dapat dilakukan dengan menje-laskan bagaimana pelajaran tersebut dapat digunakan dalam situasi nyata. Confidence, menggunakan strategi yang menjamin keberhasilan, misal-nya dengan cara mengurutkan pelajaran dari mudah ke sulit, dari yang ti-dak diketahui ke yang diketahui, dari konkrit ke abstrak. Satisfaction, me-nyediakan umpan balik terhadap kinerja pembelajar. Pebelajar ingin tahu bagaimana kinerja mereka. Pebelajar juga didorong untuk menerapkan yang dipelajari kedalam situasi kehidupan nyata. Pebelajar menyukai kon-tekstualisasi yang dipelajari dengan menerapkan informasi ke dalam ma-salah nyata.

 

d.  Implikasi Teori Belajar Konstruktif terhadap E-Learning

Psikologi konstruktif memandang pebelajar sebagai aktor belajar yang aktif daripada pasif. Pengetahuan bukanlah diterima pebelajar dari luar atau dari orang lain. Pengetahuan merupakan penafsiran individu pebelajar mela-lui pemrosesan informasi yang diterima indera untuk menghasilkan pengeta-huan tersebut. Pebelajar merupakan pusat dari semua kegiatan belajar, sedang-kan guru berperan dalam pemberian bimbingan dan kemudahan. Pebelajar perlu diberi kesempatan mengkonstruksi pengetahuan, bukan mendapatkan pengetahuan dari pembelajaran. Dalam implementasi psikologi konstruktif, kegiatan belajar berubah dari kegiatan pembelajaran satu arah menjadi kegi-

atan mengkonstruksi dan menemukan pengetahuan.

Implikasi yang dapat diturunkan dari psikologi kognitif terhadap rancang-an e-learning ialah sebagai berikut:

  • Belajar sebaiknya merupakan suatu proses yang aktif. Pebelajar perlu ter-libat secara aktif dalam kegiatan yang bermakna untuk menghasilkan pe-mrosesan taraf tinggi yang memfasilitasi pembentukan pengertian perso-nal pebelajar. Meminta pebelajar menerapkan yang dipelajari ke dalam situasi praktis merupakan proses aktif. Hal seperti ini akan memfasilitasi penafsiran personal pebelajar dan relevansi antara yang dipelajari dengan situasi nyata.
  • Pebelajar difasilitasi untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri bukan menerima pengetahuan yang diberikan oleh guru. Konstruksi pe-ngetahuan difasilitasi oleh pembelajaran yang interaktif. Pada pembela-jaran yang interaktif, pebelajar berinisiatif untuk belajar dan berinteraksi dengan pebelajar yang lain atau dengan guru. Pada pembelajaran yang in-teraktif, kapan dan apa yang akan dipelajari dikendalikan oleh pebelajar.
  • Pebelajar perlu didorong untuk belajar kolaboratif dan untuk belajar kons-truktif. Bekerja dengan pebelajar yang lain dalam suatu kelompok mem-berikan pengalaman nyata dan pebelajar mendapat manfaat dari kelebihan pebelajar lain dalam kelompok.
  • Pebelajar perlu diberikan kendali terhadap proses belajar. Bila pebelajar dibolehkan untuk menentukan tujuan pembelajaran maka pembelajar per-lu mendapatkan bimbingan dari guru.
  • Pembelajar perlu diberi kesempatan untuk merefleksikan pengalaman be-lajarnya. Pebelajar dapat diminta untuk membuat jurnal belajar selama proses belajar untuk mendorong mereka berrefleksi.
  • Belajar perlu dibuat bermakna bagi pebelajar. Bahan ajar perlu mencakup contoh-contoh yang terkait dengan pebelajar sehingga mereka dapat me-maknai informasi yang disajikan. Tugas-tugas perlu memungkinkan pe-belajar memilih kegiatan yang bermakna bagi mereka.
  • Belajar perlu interaktif untuk mengembangkan belajar dengan taraf yang lebih tinggi. Interaksi juga memunculkan perasaan kehadiran guru dan kelompok belajar. Pebelajar berinteraksi dengan bahan ajar, guru, dan pe-belajar lainnya. Menurut Garrison (1999) rancangan pembelajaran yang menghadirkan interaksi antara pebelajar dengan bahan ajar, guru, dan pe-belajar lainnya merupakan pengalaman belajar yang signifikan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: