Kerjakan Sekarang atau Nanti?

Setiap hari Selasa, Sinta mengajar di sebuah perguruan tinggi swasta. Untuk tugasnya ini, tentunya Sinta perlu mempersiapkan materi yang akan dikuliahkan. Nah, sekarang adalah hari Senin malam, besok Sinta harus mengajar. Sinta memperkirakan bahwa ia bisa menyelesaikan persiapan ini dalam dua jam. Ternyata, buku teks belum ia baca, contoh-contoh dan ilustrasi untuk menunjang penjelasan masih harus dicari, presentasi di powerpoint belum dibuat.

Oleh : Roy Sembel dan Sandra Sembel (Dirut EdPro, edpro@cbn.net.id)

Sudah dua jam Sinta berkutat di depan buku dan komputer, tapi baru 25% pekerjaannya diselesaikan. Akhirnya, karena terlalu lelah, ia memutuskan untuk tidur dulu, dan memang Sinta tidur terus sampai pagi hari tanpa melakukan persiapan pengajaran. Akibatnya, ketika harus mengajar, Sinta tidak siap, mahasiswa tidak mengerti apa yang disampaikan. Jika ini berlanjut terlalu sering, Sinta bisa mendapat protes dari para mahasiswa. Hal yang terburuk yang bisa terjadi adalah PHK. Mengapa Sinta menunda begitu lama untuk menyelesaikan tugas rutinnya ini. Bukankah Sinta bisa melakukannya beberapa hari lalu, atau bahkan minggu sebelumnya? Ada banyak alasan dan godaan yang menghalangi Sinta untuk menyelesaikan pekerjaan ini.

Mengapa menunda pekerjaan?
• Ah nanti saja, saya nonton televisi dulu. Acaranya bagus.
• Sebentar lagi, saya tidur dulu.
• Istirahat dulu, setelah itu baru saya kerjakan.
• Hari ini saya terlalu lelah. Besok saja saya selesaikan.
• Pekerjaan ini terlalu besar. Saya bingung harus mulai dari mana.
• Saya tidak punya cukup waktu untuk mengerjakannya sekarang.
• Lima menit lagilah, saya sedang membaca artikel yang menarik.
• Sekarang saya sedang tidak ”mood” untuk menyelesaikan pekerjaan ini.

Apakah Anda sering menggunakan satu atau beberapa alasan di atas? Alasan-alasan ini sering digunakan orang untuk menunda pekerjaan. Alasan-alasan tersebut bisa dikelompokkan dalam lima bagian.

Salah perkiraan. Sinta mengira bahwa ia bisa menyelesaikan persiapan pelajaran hanya dalam waktu dua jam. Ternyata, banyak sekali persiapan yang perlu dilakukan sebelum kegiatan intinya dilakukan: membaca buku teks, membuat outline hal-hal yang penting untuk dibicarakan, mencari contoh-contoh dan ilustrasi untuk menunjang penjelasan, dan membuat presentasi powerpoint. Sinta mengira bahwa ia bisa tidur dulu selama setengah jam sebelum meneruskan pekerjaan. Ternyata, karena ia memulai pekerjaan sudah lewat jam 10 malam, dan ia memutuskan untuk ”istirahat” sebentar pada jam 12 malam (jam tidur Sinta), tidak heran jika ia ”kebablasan” sampai keesokan harinya.

Pekerjaan terlalu besar. Rudi telah berniat untuk menyelesaikan pekerjaan mendesain website contoh untuk mempromosikan hasil karyanya untuk menambah pendapatan dari pekerjaan sampingan dari webdesigning. Namun sudah lebih dari enam bulan, website belum kelihatan bentuknya. Konsepnya pun belum tersusun. Ketika akan memulai, walaupun Rudi memiliki keterampilan yang diperlukan, Rudi merasa pekerjaan ini terlalu besar, sehingga ia bingung harus mulai dari mana. Akhirnya, ia menunda pekerjaan tersebut.

Ingin Sempurna. Harya adalah mahasiswa pascasarjana yang sedang menyelesaikan karya akhirnya. Telah lebih dari satu tahun setelah semua kuliah diselesaikan, karya akhirnya belum juga selesai. Harya ingin agar karya tulis ini sempurna, sehingga beberapa kali ia berganti topik dan berganti dosen pembimbing. Setiap kali pergantian dilakukan, ia harus mulai lagi dari awal. Akhirnya, Harya tidak mengalami kemajuan berarti dalam menyelesaikan karya akhirnya. Dan sekarang ia sudah mendapat peringatan untuk segera menyelesaikan karya akhir tersebut.

Pengorbanan. Sandy bukan wartawan. Ia adalah seorang pelaku bisnis. Setiap minggu, ia diminta untuk mengirimkan beberapa artikel ke beberapa majalah dan surat kabar. Karena pada hari-hari kerja Sandy berkutat mengurusi bisnisnya, tentu ia harus ”mengorbankan” waktu luangnya untuk menyelesaikan pekerjaan menulis. Ia harus rela mengambil beberapa jam waktu liburnya untuk menulis artikel. Ia pun sering merasa sayang melewatkan waktu luangnya untuk bekerja. Akibatnya, seringkali ia menunda menyelesaikan artikelnya sampai malam sebelum artikel tersebut harus diserahkan.

Apa yang harus dilakukan?
Menunda pekerjaan adalah sebuah kebiasaan buruk yang bisa diatasi. Memang tidak mudah untuk mengubah sebuah kebiasaan, apalagi jika kebiasaan tersebut telah dilakukan untuk waktu yang lama. Ada beberapa strategi yang bisa dicoba untuk menghentikan kebiasaan buruk tersebut.

Perencanaan. Untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan baik, perlu perencanaan yang sesuai pula. Sinta yang harus mempersiapkan bahan kuliah, perlu menyusun perencanaan agar tidak lagi salah dalam memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan persiapan tersebut. Misalnya: Hari Rabu dan Kamis didedikasikan untuk membaca buku referensi wajib dan tak wajib, Jumat untuk mencari ilustrasi, Sabtu untuk menyusun outline, dan Minggu serta Senin untuk mempersiapkan presentasi powerpoint yang diperlukan.
Latar belakang dan tujuan. Pahami latar belakang dan tujuan sebuah pekerjaan. Jika tujuannya besar, pecah tujuan tersebut menjadi tujuan-tujuan penunjang yang lebih jelas, terukur dan dapat dicapai. Misalnya saja dalam kasus Rudi yang ingin menyelesaikan sebuah website untuk memulai bisnisnya di luar pekerjaan utama. Rudi harus memahami bahwa tekadnya untuk menyelesaikan website dilandasi keinginan untuk menambah pendapatan dari pekerjaan sampingan. Untuk itu, ia perlu men-display hasil karyanya dalam bentuk website contoh. Jika website tidak selesai, ia tidak bisa memulai bisnis tersebut. Setelah itu Rudi bisa menyusun tujuan-tujuan kecil yang jelas dan mudah tercapai. Misalnya, saya akan mendedikasikan satu jam setiap minggu untuk menyelesaikan proyek ini.

Prioritas. Jika kita merasa harus menghasilkan karya yang sempurna, kita sering merasa bingung di mana harus memulai, apa yang harus dikerjakan, dan apa yang harus didahulukan. Tidak ada orang yang sempurna. Jadi, Harya dalam menyelesaikan karya akhirnya tidak perlu merasa tertekan untuk menghasilkan karya yang sempurna sekaligus. Ia harus memilih mana yang harus diprioritaskan: menyelesaikan penulisan dalam satu semester dengan memulai penulisan sekarang dengan bahan yang telah berhasil dikumpulkan dan menyempurnakannya kemudian sejalan dengan ditemukannya bahan-bahan baru, dan contoh-contoh tambahan, atau menunggu sampai bahan lengkap dan contoh terkumpul semua. Jika Harya akhirnya memilih untuk memprioritaskan menyelesaikan skripsi sesuai dengan waktu yang telah ditentukan (satu semester), maka ia bisa memulai penulisan dengan sarana dan prasarana yang mampu dikumpulkan. Setelah itu, tulisan bisa ia sempurnakan sedikit demi sedikit ketika materi baru, contoh tambahan ditemukan. Dari pada ia harus merasa terbeban untuk menghasilkan karya yang sempurna, ia bisa mengganti pemikiran, ”Bagaimana saya harus menghasilkan karya yang terbaik?” dengan pemikiran ”Langkah apa yang bisa saya ambil untuk memulai proyek penulisan ini sekarang?”

Hadiah. Jika kita merasa bahwa melakukan sebuah pekerjaan akan menghilangkan kenikmatan-kenikmatan yang mungkin bisa kita peroleh, maka tidak heran jika kita menunda melakukan pekerjaan tersebut. Sandy yang harus menghasilkan beberapa artikel di waktu luangnya, bisa saja menerapkan strategi ”hadiah” ini. Setiap kali ia menyelesaikan satu artikel, ia bisa menghadiahkan dirinya sendiri dengan hal-hal ”sederhana” yang dapat ia nikmati: segelas jus jeruk, sepotong cokelat kesukaannya, atau mendengarkan satu lagu favorit. Setelah itu ia bisa melanjutkan untuk menulis artikel berikutnya. Hadiah bisa juga yang dapat diraih di masa depan. Misalnya, artikel-artikel yang ditulisnya bisa dijadikan alat untuk ”promosi” dirinya dan bisnis ”consulting” yang ditekuninya. Promosi ini tentunya merupakan nilai tambah yang dapat menunjang kelancaran usahanya di masa depan.

Menunda pekerjaan kelihatannya sepele, tapi seperti pasir di dalam sepatu, kebiasaan buruk ini bisa menimbulkan rasa sakit ataupun luka di kehidupan sosial, karier ataupun bisnis Anda. Jadi, setiap kali Anda tergoda untuk menunda pekerjaan, ingat-ingat kembali strategi-strategi ini (jika perlu ambil artikel ini dan baca kembali strategi-strategi yang dibahas), untuk terus menyelesaikan pekerjaan yang sedang Anda tekuni. Selamat mencoba.

KALO BISA DIKERJAKAN SEKARANG, KENAPA NANTI !!!

Ditulis dalam Artikel. Tag: . 2 Comments »

2 Tanggapan to “Kerjakan Sekarang atau Nanti?”

  1. Willy Ediyanto Says:

    Betul. Kalau ada gagasan, jangan menundanya. langsung kerjakan. Pasti hasilnya luar biasa.
    Bukan begitu kang?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: