Tercapaikah Pendidikan Kita?

+ Bagaimana dengan kelulusan SLTA?
– 98% lulus dengan nilai yang besar
+ Berhasilkah pendidikan kita dengan kelulusan yang 98%?
– [pura-pura tidak mendengar]

9 Tanggapan to “Tercapaikah Pendidikan Kita?”

  1. Sawali Tuhusetya Says:

    keberhasilan pendidikan tdk bisa diukur berdasarkan persentase angka kelulusan, pak awan, hehehehe😆 apalagi dengan model UN yang seperti itu?

  2. awan sundiawan Says:

    @Pa Sawali Tuhusetya: setuju Pak, yang jadi masalah apakah dengan peroleh nilai hasil UN dapat menunjukkan keberhasilan pendidikan?

  3. guswan76 Says:

    Kalau saya punya usul kita kampanyekan anti politisi pendukung UN dengan sistem sekarang ini, mumpung pemilu semakin dekat. Bagaimana?

  4. awan sundiawan Says:

    @guswan76: ya itu juga bisa, menurut saya UN tetap ada namun tidak dimasukkan dalam sistem pelulusan (khusus SMA), dan UN SMP kita pertimbangkan lagi. (karena nilia UN SMP sangat berpengaruh untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya)

  5. abduh Says:

    Pak Awan, saya sepakat dengan Bapak, UN SMA tetap ada, tetapi tidak dimasukkan dalam sistem pelulusan. konkretnya saya sepakat dijadikan semacam sertifikat nasional (nilai nasional) yang digunakan untuk ke jenjang berikutnya. karena kemurnian nilai UN sekarang masih diragukan.

  6. awan sundiawan Says:

    @abduh: trims atas koment dan kunjungannya, ayo majukan pendidikan😀

  7. juliach Says:

    Keberhasilan pendidikan bisa diukur dari angka kesejahteraan masyarakat dan angka pengangguran.

    Sebetulnya, ijasah SMA saja sudah cukup untuk bisa mencari/menciptakan kerja.

    Menurut pengamatan saya, hampir 100% anak lulusan SMA banyak yang tidak mandiri (finasial/mental). Dilihat bahwa mereka masih ngrecoki orang tua mereka utk biaya kuliah/biaya hidup mereka. Mereka pun tak malu untuk hidup/tinggal bersama ortu mereka. Bahkan setelah menikah pun masih begitu.

    Anehnya, para ortu masih mendukung anak-anak mereka utk diketeki sama emaknya.

  8. aldohas Says:

    katanya pendidikan formal hanya bikin orang jadi “pengecut” gak berani usaha sendiri, gak berani jadi wirausahawan. Ingin aman saja, minim nyali
    katanya loh….

  9. awan sundiawan Says:

    @julich: pendidikan kita diukur dengan kemandirian lulusan, bukan dengan angka (nilai) yang ada saja… saya sependapat dengan Ibu…😀
    @aldohas: pendidikan formal mudah2an tidak menjadi pendidikan yang formalitas (hanya sekedar…)
    Trims atas kunjungannya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: