Paling Jago Mengibiri

Ketika saya duduk diwarung kopi terbuka di pinggir jalan, saya sempat berbicara yang “omong kosong” dengan seorang teman.

“Kang sekarang proyeknya apa?”

“Ah biasa saja, mecairkan uang trus dikembalikan kepada yang memberikannya”

“Kok bisa begitu”

‘Kalau tidak begitu, KPK akan mendekat..”

“Dari siapa dan kepada siapa uang itu dikembalikan?”

“Ya… dari ….. dan kepada dia lagi uang itu dikembalikan”

“Berapa yang dikembalikan”

“40-60% saya kembalikan lagi, yang digunakan paling-paling 60-50%, jadi kalau saya menerima 1 juta, saya harus mengembalikan 500 ribu, dari sisa yang 500 ribu yang digunakan murni paling 300 ribu, yang 200 ribu yang tahu lah…., dibagi-bagi, nah sekarang saya pusing harus membuat SPJ yang 1 juta…. Coba pikirkan apabila dana pendidikan yang 10%-12% itu sampai pada yang berhak pendidikan kita akan lebih maju. Jangan dulu memikirkan yang 20%, yang 10%-12% saja sampainya 100% pendidikan kita tidak akan begini”

“Memang akang akang tahu tentang dana pendidikan yang 10%-12%?”

“Ya tahu sih gak tapi sedikit tahulah, dari anggaran yang 12% dari pusat, paling sampai kepada yang berhak 6%, dari yang 6% ya dipotong itu-ini sisanya paling-paling 4% berharti sudah hilang 8%.”

Itulah percakapan dengan teman saya yang sedang pusing membuat LPJ. Say merenung jadi ingat dulu ada BOS BUKU, apakah di tempat saya dana BOS Buku itu 100% disalurkan kepada yang berhak. Jika dana BOS Buku itu 30 milyar kemudian dikembalikan kepada orang yang memberinya 15 miliyar berarti tinggal 15 milyar lagi, dari 15 milyar paling-paling 10 milyar yang sampai kepada yang berhak, berarti hanya 30% yang dana BOS Buku benar-benar terwujud. Seandainya 30 milyiar jadi kenaytaan untuk bantuan BOS Buku, pasti tidak akan ada pembelian buku pelajaran yang biaya dari orang tua (terutama urang tua yang belum mampu).

Seandainya dana pendidikan yang 10%-12% itu benar-benar penyalurannya sampai kepada yang berhak, pendidikan kita pasti akan lebih maju dari hari ini. Seandainya Kepala Dinas Pendidikan di Kabupaten/Kota bisa menyalurkan uang 100% kepada yang berhak (mengelola dengan baik dan benar, emang semua Kadisdik begini? gak kan? Lalu siapa yang mengelola dana pendidikan di kabupaten /kota?), bisa jadi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota bisa mencalonkan jadi Bupati/Wali Kota atas dukungan masyarakat, terutama masyarakat pendidikan.

Pikiranku berkata, “Siapa yang salah dalam hal ini?” [Halah… saya jadi ikutan mencari kambing hitam, eh… terpikir juga ternyata diantara kita ada yang paling jago mengibiri]

Ditulis dalam Artikel. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: