Cinta, Mencintai, dan Dicintai

Ketika kita menemukan seseorang yang sejalan dengan kita, kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan serupa yang dinamakan cinta.

Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu menitikan air mata dan masih peduli terhadapnya, cinta adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan kamu masih menunggunya dengan setia. Cinta adalah ketika di mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum dan berkata ”aku turut berbahagia untukmu”

Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu mendapatkan keinginannya, melainkan mereka yang tetap bangkit ketika mereka jatuh, entah bagaimana dalam perjalanan kehidupan. Kita belajar lebih banyak tentang diri sendiri dan menyadari bahwa penyesalan tidak seharusnya ada, cinta akan tetap di hati sebagai penghargaan abadi atas pilihan hidup yang telah diperbuat.

Teman sejati, mengerti ketika kita berkata ”aku lupa ….” menunggu selamanya ketika kita berkata ”tunggu sebentar” tetap tinggal ketika kita berkata ”tinggalkan aku sendiri ” mebuka pintu meski kita belum  mengetuk dan belum berkata ”bolehkah saya masuk?” mencintai juga bukanlah bagaimana kita melupakan dia bila ia berbuat kesalahan, melainkan bagaimana kita memaafkan.

Bukanlah bagaimana kita mendengarkan, melainkan bagaimana kita mengerti. Bukanlah apa yang kita lihat, melainkan apa yang kita rasa, bukanlah bagaimana kita melepaskan melainkan bagaimana kita bertahan.

Mungkin akan tiba saatnya di mana kita harus berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita menyadari bahwa orang iu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.

Kadangkala, orang yang paling mencintai kita adalah orang yang tak pernah menyatakan cinta kepada kita, karena takut kau berpaling dan memberi jarak, dan bila suatu saat pergi, kita akan menyadari bahwa dia adalah cinta yang tak kita sadari.

Ah… masih adakah cinta dihatiku untuk nya?
Masih adakah cintanya untuk diriku?
[Ternyata aku masih egois ingin dicintai, lalu kapan aku mencintainya?]

8 Tanggapan to “Cinta, Mencintai, dan Dicintai”

  1. awan sundiawan Says:

    @ kang AMin: trims atas infonya

  2. Latip Says:

    Begitulah Cinta Deritanya/Sukanya tiada Akhir….Pat Kay he he

  3. Latip Says:

    Begitulah Cinta Deritanya/Sukanya tiada Akhir….Pat Kay he he
    Salam Kenal

  4. awan sundiawan Says:

    @latip: trims atas kunjungannya, pecinta juga ya….😀

  5. saia Says:

    cinta apa sih yang diharapkan?

  6. awan Says:

    @saia: cinta yang tulus dan iklas

  7. biru Says:

    kekasih yang bilang cinta, tetapi ketika marah dia sanggup membentak dengan kasar dan menyebut pasangannya dengan sebutan yang tidak pantas,misalnya:setan atau anjing atau juga pelacur,apa kita masih pantas untuk terus mencintainya????dan apakah kita berdosa untuk membencinya hanya karena dia sudah menjadi seorang suami


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: