Film AAC=Film Beraliran Idealisme yang Romantis

Sekarang ini film “Ayat-Ayat Cinta” (AAC) sedang populer [mungkin saja sedang puncak-puncaknya dan akan segera menurun]. Termasuk saya juga terbawa arus AAC. Ya akhirnya saya juga jadi tahu tentang kehidupan di Mesir lewat cerita film tersebut, seperti: kehidupan mahasiswa di Mesir, korupsi hukum di negara tersebut, poligami, pisisi wanita di masyarakat Mesir, adanya struktur sosial feodal santri-kiai, rasa cemburu seorang wanita yang pria pujaan menikah dengan wanita lain, kekayaan istri melibihi suaminya, dan banyak masalah lainnya.

Secara umum masalah di atas dapat membangun cerita yang wajar tur romantis. Jalan ceritanya memusatkan pada kasih sayang yang sejati. Saya melihat tokoh Aisha sebagai wanita cantik dan kaya raya yang menyuruh menikah lagi kepada suaminya. Aisha menyuruh nikah suaminya tidak hanya karena Sunah Nabi atau menjalankan perintah agama, tetapi agar maria sembuh dari sakitnya. Karena kesaksian Maria sangat menentukan nasib suaminya yaitu dapat membebaskan hukuman pada suaminya.

Cerita ini beraliram idealisme yaitu dengan adanya nilai-niai ideal agama dan sosial. Coba saja perhatikan apakah betul ada seorang “Fachri” yang soleh dan jujur? Atau adakah seorang wanita seperti “Aisha” yang soleh menyuruh suaminya untuk menikah lagi?

Cerita ini mengingatkan saya pada cerita Nabi Yusuf yang tampan, soleh, nyantri dan diperebutkan oleh kaum wanita, sehingga ada wanita yang berani menggodanya yang akhirnya memfitnah Nabi Yusuf. Dalam film ini hal itu ada dengan tokoh Fachri yang tampan, soleh, dan nyantri dan diperebutkan oleh kaum remaja wanita dari berbagai bangsa, agama dan tingkatan sosial. Dan seorang tokoh wanita Aisha yang kaya, pinter, soleh juga.

Film ini tidak mengeksplorasi ketampanan, kekayaan, kemegahan hal itu hanya pelengkap saja, tapi film ini mengeksplorasi nilai-nilai agama, sosial yang ideal. Hal ini ditandai dengan ketaatan pada agama, kesolehan, kesetiakawan, rajin belajar, dan tanggung jawab. [Sehingga saya berani menyatakan bahwa film ini beraliran idealisme yang romantis].

Kesolehan Fachri diuji dengan adanya wartawati dari Amerika, Maria, dan Nurul, Noura yang diselamatkan dari perlakuan orang tua angkatnya yang akhirnya dikembalikan kepada orang aslinya. Karena cinta Noura tidak dibalas oleh Fachri, akhirnya Noura membuat “fitnah” dengan pengakuan bahwa Fachri telah berbuat aib pada dirinya. Dan Akhirnya Fachri dijebloskan ke dalam penjara. [Bagian cerita ini seperti sedang menggambarkan kejadian Nabi Yusuf].

Pada bagian akhir ada yang tragis yaitu dengan meninggalnya Maria. Film ini membenarkan dengan adanya poligami, tapi pada bagian akhir tokoh Maria, istri kedua Fachri meninggal dunia. Kematian tokoh Maria sangat tragis [bagi maria] tapi sangat indah bagi saya. Indahnya ahir cerita ini dengan adegan meninggalnya Maria ketika sedang solat [berjamaah] bersama keluarga.

Yang saya jadi berkesan adalah dialog terakhir antara Fahcri dengan Maria.

Maria: “Fahcri, Aisha maafkan aku”

Fahcri: “Apa yang harus ku maafkan”

Maria: “Aku minta maaf bukan karena kesalahanku, tapi karena kebodohanku”

“Aku baru mengerti, [bahwa] antara cinta dan keinginan untuk memiliki tidak sama”

“Fahcri, ajari aku solat, aku ingin solat bersama kalian” Dialog inilah yang paling romantis.

Kesimpulan saya pada film ini adalah bahwa film ini sangat ideal dalam bermasyarakat.

Ditulis dalam Artikel. 23 Comments »

23 Tanggapan to “Film AAC=Film Beraliran Idealisme yang Romantis”

  1. saia Says:

    romantis itu apa sih?

  2. realylife Says:

    bener pak , idealis dan romantis
    semoga tidak keluar dari syar`i ya pak

  3. awan Says:

    @saia: romantis adalah keindahan
    @realylife: mari kita tegakkan idealisme mulai dari diri sendiri. trims atas komennya.😀

  4. DHS Says:

    Mnurut pendapat pribadi sih, baik or bagusnya biasa aja, dalam arti, jangan ditanggapi terlalu heboh sehingga kita jadi larut menghabiskan waktu membahasnya. Masih sangat banyak yang perlu dilakukan, jangan habiskan energi untuk ini. Yang diuntungkan hanya sedikit.
    Selain itu, menurut saya sih, masih banyak kehidupan tokoh masyarakat yang jauh lebih baik dari tokoh2 yang ada di film itu.
    So, biasa aja lah…
    Sorry, just my personal comment. Nuhun Kang Awan.

  5. awan Says:

    @dhs: trims atas kunjungannya.😀 ya nyantey sajah.

  6. Hendy Herdiman Says:

    Kalo saya sih cuman mengambil saripati dan esensi dari film maupun novel-nya AAC. Intinya saya harus ‘kembali’ seutuhnya ke keluarga, menjadi Bapak dan Suami seutuhnya dan semampunya, dan menjadi Imam bagi keluarga. Cuma itu..! (Teu nyambung nya Kang Awan..!!..hehehheee..)

  7. awan Says:

    @kang Hendy: saya setuju dengan kang Keng Hendy, sebetulnya yang kita bahas adalah tentang diri kita, sudah idealkan kita sebagai keluarga kecil yang soleh, setia, penuh kejujuran, kasih sayang dan saling bertanggung jawab? Film itu hanya sebagai media pengingat kita saja. Trims atas kunjungannya.😀

  8. aminhers Says:

    Apapun komentar pro dan kontra , menurut saya Film AAC bagus (***), untuk di jadikan tontonan di Indonesia;apalagi kalau baca novelnya.
    mangga kang Awan.

  9. awan Says:

    @aminhers: hatur nuhun kana komnetarna.😀

  10. artja Says:

    saya belum sempat nonton sampai sekarang. tapi bukunya bagus, kok…

  11. awan Says:

    @artja: lebih seru novelnya😀

  12. addiehf Says:

    kalo saya tahu lebih dulu AAC dari Novelnya dan pas lihat Film-nya waktu itu tgl 28 Feb 08 di Crb saya agak sedikit kecewa karena banyak kisah yang tidak ditampilkan dan juga sosok fachri yang tegas dalam novel menjadi seorang yang lugu di film [seperti film Alexandria yang lebih populer Novelnya ketimbang Filmnya] Dan peran Zaskia yang sbg Noura menurut saya kurang pas karena sebelumnya baik di sinetron maupun di layar lebar sosok zaskia menurut saya pasnya memerankan tokoh yang baik seperti di ‘para pencari tuhan’. tapi ti’s OK lah saya sedikit terhibur dan mungkin untuk versi ‘extended-nya’ ke depan [menurut info katanya seeh mau dibikin] semoga lebih baik dan sesuai dengan novelnya. Great-lah untuk AAC🙂

    oia Pak 3 jam lebih saya berdiri [ngantri] untuk membeli tiket, photonya disini dan waktu ngambil photo ini saya sempat ditegur juga oleh petugas bioskop😀

  13. awan sundiawan Says:

    @addiehf: wah kirtikus fim (sastra) juga ya, memang betul dari beberapa novel yang difilmkan ternyata lebih menarik novelnya itu betul.😀

  14. 311thoth Says:

    saya nggak suka film tapi katanya orang yang melihat mpe nangis2 gitu.
    geli.

  15. eNPe Says:

    iya pak, dari film tersebut ada hikmah yang bisa kita ambil😀

  16. kelepon Says:

    MD pictures… tambah kaya ..

  17. awan Says:

    @311thoth: kalau ada yang nangis karena perasaanya masuk pada jalan cerita sehingga terbawa arus jalan cerita film tersebut, berarti orang itu apresiasinya sedang “masuk”, salam kenal😀
    @bu eNPe: setiap cerita pasti ada pesan dan hikmah yang harus kita ambil.
    @kelepon: trims atas kujungannya.

  18. 311thoth Says:

    salam kenal kembali kang
    comment di tempat saya keren sekali.
    makasih

  19. awan Says:

    @311thoth: trims atas kunjungan ulangnya, nyantey saja(h)😀

  20. yatun Says:

    Halo kang… gmana kabarnya??? eh add dunk fs atun….

  21. budi purnama Says:

    jujur saya katakan, dibanding filmnya saya lebih mendalami cerita yang novelnya.alur ceritanya jelas.sehingga begitu saya meliohat filmnya, saya bisa membandingkan.mungkin kesalahan saya adalah membaca novelnya terlebih dahulu.sehingga jalan cerintya dah bisa ditebak.

  22. awan sundiawan Says:

    @budipurnama: membaca novelnya lebih dulu itu tidak salah, kita bisa mengapresiasi karya sastra dalam bentuk tulisan, audio atau aduivisual, yang jelas akan berbeda-beda.

  23. asepganda Says:

    KUMAHA kos goro??? DARAMANG???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: