Selamat Tinggal Situs Porno

JAKARTA – Pemerintah akan memblokir jaringan situs porno yang masuk ke dalam negeri. Kebijakan ini akan diterapkan mulai bulan April nanti. M. NuhTujuannya untuk mengantisipasi dampak negatif dari situs-situs porno,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Muhammad Nuh kepada okezone, Sabtu (22/3/2008). Proses pemblokiran situs porno itu, kata Nuh, akan dilakukan dalam tiga tahap, yaitu menumbuhkan kesadaran masyarakat, melalui piranti lunak (software), dan bekerjasama dengan jaringan provider (Internet Service Provider/ISP). Sebenarnya, konsep dasar program ini untuk menumbuhkan kesadaran pada individu. Kuncinya disitu. Jadi, setiap pribadi memiliki filtering dan bisa melakukan sendiri,” jelas Nuh. Pada tahap piranti lunak, Depkominfo akan bekerjasama dengan lembaga pendidikan, seperti universitas, sekolah, perkantoran atau departemen-departemen untuk memblok jaringan internet ke situs porno.Menurut Nuh, program pemblokiran situs porno ini ditargetkan selesai dalam satu bulan, April sampai Mei. (sis)

Sumber diambil dari: OkeZone.com

Ditulis dalam Berita. 7 Comments »

7 Tanggapan to “Selamat Tinggal Situs Porno”

  1. TonKin Says:

    waaahhhh
    hebat nih Menkominfo..
    saya saluut dehhh

  2. jablay8990 Says:

    Tapi dengan ditutupnya situs porno bukan berarti kejahatan asusila di Indonesia akan hilang sama sekali, WASPADALAH….! WASPADALAH…..!

  3. andi Says:

    Bagus bagus supaya perbuatan maksiat/asusila tidak di contoh oleh anak anak kita.
    Tapi ngomong 2 pemerintah kok ngurusi moral ya…urus dulu tuh moral – moral para PEJABAT yang suka KORUP dan berbuat ASUSILA.

  4. taufik Says:

    knapa gak dari dulu2 yaa??? dah tlanjur banyak anak bangsa yg ruzaaakkkk…

  5. Dr. soekartawi Says:

    MEMANFAATKAN ‘ICT’ UNTUK MEMPERCEPAT PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL*

    Oleh: Soekartawi (drsoekartawi@yahoo.com)

    Kalau kita baca dokumen Strategi Pembangunan Nasional Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), barangkali tidak ditemukan peranan Information and Communication Technology (ICT) atau Teknologi Informasi dan Komunikasi di dalamnya. Hal ini dapat dimengerti karena dalam visi dan misi PDT memang tidak tercantumkan peran ICT tersebut.

    Pada hal di sisi lain, pengalaman Negara lain peran ICT ini telah berhasil mengangkat masyakat di daerah tertinggal atau masyarakat miskin. Ambil contoh laporan UNDP (United Nations for Development Programs) suatu Badan Pembanguna Bangsa-Bangsa (PBB). Badan ini menerbitkan laporan yang berjudul Partnership for e-Prosperity for the Poor yang didasarkan pengalaman proyeknya yang dinamakan ‘TeleCenter’ di Negara-negara tertentu seperti China, India dan Vietnam. Program pemanfaatan ICT ini ternyata mampu menciptakan peluang kerja, memberdayakan masyarakat, mengembangkan kemampuan, menciptakan perlindungan sosial, dan membina kemitraan global.

    Hindarkan Pendekatan Ekonomi

    Program PDT terlalu berat pada pendekatan ekonomi, pada hal pengalaman kita pada program yang sama seperti program Inpres Desa Tertinggal (IDT) membuktikan bahwa pendekatan ekonomi saja tidak cukup untuk mengentas kemiskinan.

    Kemiskinan yang merupakan sebagian besar cirri dari daerah tertinggal pada dasarnya adalah satu mata uang yang bersisi kembar, yaitu sisi ekonomi yaitu kemiskinan absolute yang lazimnya dapat diselesaikan dengan variabel-variabel ekonomi, seperti meluncurkan program UKM (Usaha kecil Menengah). Sisi lain lain adalah sisi budaya, yaitu kemiskinan structural yang lazimnya dapat diselesaikan dengan menawarkan variabel-variabel budaya seperti pendidikan, penerangan, pendampingan, dsb-nya.

    Program pengembangan perekonomian lokal yang diintroduksi Pemerintah dengan memberikan dana UKM memang tidak keliru, namun dalam pelaksanaannya sebaiknya belajar dari kekeliruan program IDT dan program Jaminan Pengaman Sosial (JPS). Sebab kalau tidak, maka dana yang dipinjamkan akan habis untuk konsumsi sebagaimana tuntutan kebutuhan pokok masyarakat miskin. Karena itu perlu perpaduan gerak semua lembaga yang ada untuk membantu memberikan penerangan (sosialisasi) apa yang dimaksudkan dengan program PDT itu kepada semua pelaku pembangunan, khususnya di tingkat kabupaten kebawah.

    Hal ini penting karena hingga sekarang orang masih belum dapat membedakan secara jernih antara PDT dan IDT. Pembangunan Daerah tertinggal (PDT) ini unit kerjanya di level kabupaten, sementara IDT di level desa. Daerah Tertinggal menurut kriteria Kementerian Negara PDT adalah ’suatu daerah kabupaten yang masyarakatnya serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional’. Tetapi program yang ada sekarang masih mengikuti model program IDT di mana desa menjadi fokus penegmbangan dan bukan kabupaten secara keseluruhan.

    Saya menyarankan agar terlepas ada perbedaan pengertian antara PDT dan IDT maka ‘perpaduan gerak langkah’ semua instansi, lembaga pemerintah, swasta/masyarakat dan dunia usaha untuk mendukung program peningkatan penanggulangan daerah tertinggal atau kemiskinan di level kabupaten, sebaiknya harus didahulukan. Tanpa ada pengertian yang jelas tentang PDT di level kabupaten, maka akan menyulitkan pelaksanaan PDT di level yang lebih rendah. Dalam menjelaskan ‘perpaduan gerak langkah’ ini, hendaknya ditekankan bahwa pendekatan ekonomi bukan satu-satunya solusi mengatasi permasalahan PDT.

    Manfaatkan ICT

    Dalam meberi pengertian ICT, orang langsung mengasosiasikan penggunaan komputer atau internet. ICT itu dapat pula berupa teknologi audio (radio, tape, speaker, dsb-nya) dan teknologi video (Televisi, Video, dsb-nya). Di Vietnam, kalau kita lihat di perempatan jalan, atau di dekat daerah ramai sering dipasang corong (speaker) yang tujuannya memberikan penerangan program-program pemerintah, memberikan bagaimana etos kerja dibangun, dan penerangan pembangunan lainnya.
    *Soekartawi, Guru Besar Univ Brawijaya Malang

  6. awan Says:

    @Ibu Dr. Soekarwati: terima kasih atas pencerahan dan kunjungannya.

  7. jozz Says:

    bagus deh klo d tutup, mudah-mudahan aja anak bangsa menjadi semakin bisa untuk menjaga dirinya.

    perlu diadakan seminar juga kayaknya..

    biar tambah lebih baik..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: