Mengapa Ditulis “Waroeng”?

Siang harinya saya tiba lagi di kompleks stadion, karena terasa haus akhirnya saya mampir ke kedai yang ada di sana. Kedai tersebut bernama “Waroeng Stadion”. Saya merasa aneh mengapa jaman sudah modern masih saja ejaan lama dipakai, mengapa tidak Warung Stadion?

Daripada saya pusing-pusing memikirkan nama itu, saya langsung saja membeli jus alpukat.

Ah… segernya jus alpukat itu. Katanya alpukat dapat menghaluskan kulit, dapat mengobati sariawan. Yang jelas saat itu dapat mengobati rasa hausku. Hahaha.

Ditulis dalam Pribadi. 9 Comments »

9 Tanggapan to “Mengapa Ditulis “Waroeng”?”

  1. Ersis W. Abbas Says:

    Ya, itu lebih bagus. Orang suka-suka. Ada yang suka ke masa lalu, ada ang suka ke masa depan, ada yang maunya masa sekarang saja. Jadi, ambil manfaat aja.

  2. awan Says:

    @Pa Eris: Katanya “waroeng” lebih komersil,😀

  3. saia Says:

    waroeng lebih menarik n nyeni lah…

  4. awan Says:

    @saya: menarik dan nyentrik ya? Trims ah komentarnya

  5. jablay8990 Says:

    mungkin yang punya “waroeng” itu punya rasa seni yang tinggi,atau juga mungkin supaya orang lebih mudah mengingat “waroeng”itu….

  6. awan sundiawan Says:

    @jablay: sepertinya kata “waroeng” nilai seninya tinggi dan memiliki nilai komersil yang tinggi pula

  7. UPDATE Says:

    alpukat juga bikin gemuk..pantesan be..hehehehe

  8. awan sundiawan Says:

    @update: bikin gemuk soteh kalau di makan,😀

  9. uya91 Says:

    wah enak tuh kesana ah……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: