Malam Mingguan

Hari Sabtu cukup melelahkan, mulai pagi membing siswa dalam membuat blog, siangnya terlibat dalam audisi band anak-anak SMAKOS yang diselenggarakan OSIS. Setelah audisi baru bisa agak santai karena hanya duduk diam (pulang dapat) duit (3D, hehehe) dalam rapat anggota koperasi. Lumayan SHUnya agak besar, hal itu berkat pengurus koperasi yang lihat, tidak sekedar dari simpan pinjam saja tapi juga membuka usaha toko koperasi yang omsetnya cuku besar juga, jadi ya shunya ada dua ya dari simpan pinjam dan dari toko, nah yang dari toko yang lumayan besar, Hehehe, kebetulan istriku masuk juga jadi dapat empat amplop.

Begitu datang ke rumah, beres-beres rumah, si cikal ingin pindah kamar, ya… kerja bakti deh… selesai pukul 20.00. Karena merasa cape saya keluar ”malam mingguan” [hik hik hik], biasa lah pakai seragam kebesaran malam mingguan. Maksudnya mau mencari makanan dan menghirup udara segar.

Sepanjang jalan Siliwangi lalu lintas masih dipadati kendaraan bermotor, akhirnya bergabung bersama mereka ikut konvoy. Dan saya terbawa ke alun-alun taman pusat kota dekat mesjid agung. Berhenti dulu deh….


Di tempat ini sangat romantis untuk bercengkarama, disinari lampu tembak, ada air mancur yang ditata sangat indah, bahkan ada alunan musik. Ah indah sekali dan terasa nyaman berada di taman tersebut. Karena sudah agak malam saya bermaksud pulang dan membeli makanan.



Begitu pulang terjebak dengan konvoy lagi, akhirnya terkapar di Stadion di ”taman dahlia” nah kalau disini bukan romantis tapi menegangan, karena melihat mereka yang sedang beratraksi mengendarai motor.

Dua tempat tersebut sangat berbeda, yang satu untuk ”niiskeun pikir” [menengangkan pikiran] yang satu justru untuk melihat ketangkasan pengendara motor yang buat ”deg-degan”.

Hal yang sangat aneh, ketika saya di taman pusat kota terlihat polisi satu truk [atau truknya saja?] sedang siaga, [untuk apa ya?], sementara di stadion tidak tampak polisi, padahal di stadion berkerumunnya orang sangat banyak dan sangat membahayakan. Ah itu bukan urusan saya.

Pulang dari stadion saya mencoba membeli makanan kesukaan, eh ternyata sudah habis [ini kan malam minggu, pasti yang beli juga banyak]. Akhirnya saya putuskan untuk ke pusat kota lagi, di sana ada baso, mie ayam, mie kocok, tempatnya di Jalan Syeh Maulana Akbar depan toko Star. Sesampainya di sana pembeli juga masih ngantri. Saya pun ikut ngantri.


Tidak seperti biasanya di tempat ini biasanya nyaman kalau ”jajan”, malam itu [malam minggu] berbeda, sekarang ini jadi ada pengemis [bukan pengamen] dengan menyanyikan lagu yang dia bisa dan tidak nyaman di kuping, dan mereka tidak mau pindah tenpat kalau belum diberi uang. Trus parkir pun jadi mahal dua kalu lipat, tidak seperti biasanya. Setelah saya perhatikan mereka itu ternyata satu kelompok antara pengemis dan tukang parkir [saya kenal betul tukang parkir di sana, malam itu bukan yang biasanya]. Ah.. tidak jadi masalah.. mereka juga berhak untuk mendapatkan penghidupan yang layak.

Ditulis dalam Pribadi. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: