Meskipun Dalam Keterbatasan SMAN 1 Darma Jalan Terus

Meskpiun kondisi seadanya, SMAN 1 Darma Kabupaten Kuningan tetap berjalan dengan lancar. SMAN 1 Darma memang SMAN “bungsu” di kabupaten Kuningan, pembangunananya seperti kurang (tidak) diperhatikan, saya kutif informasi dari surat kabar yang beredar di Wilayah III Cirebon (Radar Cirebon).

     

Kantor Kepsek dari Bambu, Kursi Guru Nyewa, Ruang TU Eks Gudang

Kepedulian Pemkab Kuningan dalam mengatasi persoalan pendidikan khususnya di tingkat SMA, nampaknya masih setengah hati. Terbukti, kantor kepala SMAN 1 Darma hingga kini masih terbuat dari bambu. Pantauan Radar di lokasi, kelengkapan prasarana SMAN 1 Darma sungguh memprihatinkan. Sekolah yang dibangun di atas tanah seluas 1 hektare di Desa Cipasung itu, belum memiliki kantor tata usaha (TU), guru dan kepala sekolah (kepsek) yang layak.
Akibat kondisi itu, para guru dan TU menempati ruang kosong bekas gudang sekolah. Itu pun tanpa mebeler yang memadai. Di ruang tersebut, pihak sekolah hanya menyediakan kursi plastik hasil sewaan dari penduduk dan meja kayu seadanya.

Parahnya, akibat ruangan tidak mencukupi, kantor kepsek dibangun tersendiri dengan menggunakan bambu. “Inilah SMAN 1 Darma. Bahkan, awalnya siswa tiga kelas belajar di tenda-tenda. Sebab, kita kekurangan ruang kelas belajar (RKB). Tapi kemarin, secara bertahap RKB bisa dipenuhi dari bantuan Pemkab Kuningan,” ujar Kepala SMAN 1 Darma, Drs Dedi Harun diamini Ketua BPD Cipasung, Drs Heryadi kepada Radar di lokasi, kemarin (21/1).

Mebeler di RKB pun, lanjut dia, awalnya menggunakan kursi plastik hasil menyewa dari penduduk seperti yang kini dilakukannya untuk ruang guru dan TU. Tapi berkat swadaya masyarakat, kursi kayu untuk belajar siswa bisa terpenuhi walaupun jumlahnya masih terbatas.

“Tapi tetap kita masih menyewa kursi plastik itu. Bayangkan berapa biaya yang harus kita keluarkan untuk sewa kursi. Meskipun sewanya murah, kalau tiap hari bisa mahal,” keluhnya.

Kondisi memprihatinkan, jelas Dedi, juga terlihat di halaman sekolah. Disamping lapangan upacaranya masih berlapis tanah becek, tiang bendera untuk penghormatan sang saka merah putih masih terbuat dari bambu. “Yang perlu diperhatikan juga soal keamanan. Sekolah kami belum punya pagar. Sedangkan lokasi bangunan berada di tengah perkebunan warga,” bebernya.

Dedi berharap, Pemkab Kuningan bisa segera membantu melengkapi kekurangan fasilitas dasar sekolahnya tersebut. Apalagi sekolahnya memiliki status negeri. Animo masyarakat untuk belajar di sekolahnya pun besar sekali. “Dengan fasilitas seadanya, terkadang siswa pun mengeluh. Tapi kita jelaskan bahwa kondisi ini dalam perjuangan,” tandasnya.

Apakah kondisi di atas imbas dari pembangunan SMK? Atau imbas dari program Kabupaten Vokasional di Kabupate Kuningan? Pa Dedi Sabar ya, katanya akan mendapatkan lab. Multimedia. Tapi pengamanannya bagaimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: