Pilih Penyu atau Ayam

Sang penyu menghabiskan jarak ratusan bahkan ribuan mil dari tempat asalnya, dengan resiko ditangkap nelayan, dimangsa ikan hiu sampai tewas dengan tubuh hancur tersambar baling–baling kapal hanya untuk datang bertelur dipantai tersebut.Tak lama kemudian lubang yang dibuat penyu tercipta, ia mulai bertelur, ratusan telur meluncur deras dari sang penyu.

Sangat luar biasa ! Walaupun “diganggu“ oleh elusan tangan di punggung dan kepalanya, namun si penyu tak sedikitpun merasa terganggu, terus saja dalam keasyikannya bertelur. Selesai ia “memuntahkan” semua isi perutnya, sang penyu segera menutup lubang tersebut, dan kembali “mempersiapkan“ perjalanan ratusan milnya dengan segala resikonya tanpa ada jaminan dapat kembali kepantai tersebut dengan selamat tahun berikutnya hanya untuk memberikan hasil yang terbaik bagi orang lain dan keturunannya.

Sebagai manusia “perjalanan kita“ hampir sama, mengarungi “samudra“ kehidupan dengan segala resiko, tantangan dan hambatan yang tidak kalah hebatnya tanpa ada jaminan untuk mencapai tepian “pantai kesuksesan”. Sikap tanpa pamrih sang penyu adalah salah satu contoh bagaimana kita berkontribusi dan berkarya secara diam–diam tanpa pamrih sekalipun banyak “gangguan“ disekitar kita demi menghasilkan sesuatu yang sangat berguna bagi orang lain dan keturunan.

Coba bandingkan dengan ayam, jika ingin bertelur ia akan berkotek keras–keras sepanjang hari, seolah memberitahukan seluruh penghuni hutan dan kampung bahwa ia kan akan berkarya, yang kemudian ternyata cuma bertelur satu butir dan mungkin cuma kecil bentuknya. Dan jikapun “diganggu” saat bertelur, ayam akan mengurungkan niatnya/ngambek untuk menghasilkan telur (baca:berkarya).

Jadi dalam kehidupan dan berkarya ini philosofi mana yang anda pakai penyu atau ayam?

Renungan saya:

Penyu. Berkarya di mana saja dia mampir maka disitulah adat bibit yang ditanam, dan tidak tamprih, mau diganggu atau tidak tidak perduli. Penyu hanya memberikan bibit (keturunan) saja tanpa dipelihara lebih juah.

Ayam. Berkarya di mana saja berada dengan memberitahukan terlebih dahulu, dan sangat rentan dengan gangguan, ketika bibitnya (hasilnya) berhasil diproduksi (berhasil mengembang biakkan), sang ayam akan menjaga anaknya sampai mandiri.


Nah sekarang kita mau pilih salah satu atau dua-duanya? Kalau saya pilih….

 

Terima untuk Kang Djodi (urang Kuningan-Luragung-desa Karang Kancana)

Paguyuban Wargi Sunda – Medan , Sumatera Utara

www.pwsmedan.blogspot.com

www.djodiismanto.blogspot.com

6 Tanggapan to “Pilih Penyu atau Ayam”

  1. Rezki Says:

    Keduanya memliki keistimewaan…walaupun ayam rentan akan gangguan…terbukti ia lebih bisa bertahan sampai sekarang…sedangkan penyu sebentar lagi punah…jadi sebenarnya siapa yang lebih rentan?…kok balik nanya ya😀

  2. awan965 Says:

    @Rezki: kenapa penyu akan segera punah, karena penyu membiarkan keturunannya berkembang sendiri.

  3. digiEDU Says:

    Pilih penyu atau ayam? saya pilih telur ayam yang sudah di dadar dengan nasi panas dan irisan cabe dicampur kecap manis sedang kang.🙂

  4. awan sundiawan Says:

    @digiEdu…, nasi goreng ya…. wow kabita….😀

  5. bob Says:

    tP3qMI great site man thanks http://peace.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: