“Lieur” Makan Daging Kambing!

Biaya Perjalanan ke Surga

Kamis pagi solat Idul Adha bersama anakku yang sulung. Pelaksaan solat Idul Adha dilaksanakan di mesjid yang ada di kompleks perumahan. Ketika sedang khutbah disampaikan oleh Khotib, saya dan anakku memasukkan amplop ke dalam kotak amal. Setelah selesai, anakku bertanya, “Yah, untuk apa amplop tadi? Apa isinya? Uang ya? Berapa uang ada dalam amplop?”

“Ya tadi itu uang kita yang akan jadi “tabungan biaya ke surga”, jawab saya.

“Yah, tiap Jumat kita kan suka mengisi “kotak amal” dengan Rp 500 bahkan Rp 1.000, memangya “surga” itu dekat ya?”, anakku mulai bertanya kritis.

Ah.. saya tidak bisa menjelaskan lagi, karena diakui saya sering mengisi kotak amal di mesjid dengan lima ratus rupiah atau seribu rupiah. Begitu murahnya “biaya” perjalanan ke surga. Begitu alakadarnya biaya perjalana ke surga. Sepertinya saya juga nanti akan mengendari alakadarnya juga untuk menempuh surga itu.

Memang ada pepatah, yang penting ikhlas dan ridonya, bukan banyak atau besarnya yang kita amalkan. Lalu mulai kapan saya melakukan yang penting besar dab banyaknya yang diikuti dengan iklhas dan rido? Jawaban itu masih jauh dari pemikiran saya.

 

Kambing Sedang Sedih

Setelah selesai solah Idul Adha, ya “bubar jalan”, sebelum pulang ke rumah masing-masing, pada jemaah agar menyaksikan dulu penyembelihan kambing. Ya saya sempat mengambil foto hewan kurban yang ada di sekitar mesjid yang ada di kompleks perumahan Puri Asri 3 Kuningan. Ketika sedang memotref “pose-pose” kambing yang akan di sembelih anakku berkomentar lagi.

“Yah, kambingnya sedang sedih ya…, kan sebentar lagi kambing-kambing itu akan dipotong.”

Ah, kamu ada-ada saja.

 

Qurban di Sekolah

Setelah selesai menyaksikan penyembelihan hewan kurban di kompleks, saya dengan “si cikal” segera berangkat ke sekolah untuk melaksanakan penyembelihan juga. Sesampainya di sekolah ada dua ekor kambng yang leas dari ikatannya, ya mereka beradu. Melihat kejadian ini menarik juga untuk di foto, ya saya foto deh… tuh kambing yang sedang beradu.


Setelah agak siang, tim pemotong hewan datang, dan terdilah pemotongan hewan kurban di sekolah. Yang tadi sedang beradu, sekarang sedang “dicacag, diwalang-wang”. Daging hewan kurban tersebut akan dibagikan kepada warga yang ada di lingkungan sekolah dan kepada yang berhak menerimanya.




Karena masih banyak sisa, akhirnya bakar-bakar sate di sekolah deh bersama anak-anak osis, guru, dan karyawan sekolah.

Ah… jadi “lieur” akibat makan daging kambing nih…

Ditulis dalam Umum. 1 Comment »

Satu Tanggapan to ““Lieur” Makan Daging Kambing!”

  1. KARWAN Says:

    Lieur apaan, orang makan kambing ko lieurrrrrrrrr.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: