Pengamen bukan Pengemis!

Ketika saya berjalan-jalan ke kota besar ternyata banyak anak muda yang berkelompok untuk sekedar mejeng, diskusi, ngamen, bahkan ada yang ngemis, dan banyak lagi kegiatannya. Dari sekian banyak kelompok anak muda itu (mungkin siswa, mahasiswa, atau bukan kedunya) ada yang menarik perhatian saya, yaitu ketika mereka berkelompok mengemis. Mengapa demikian? Karena di sekolah tidak pernah diajarkan untuk mengemis atau menjadi pengemis. Lalu kalau pengamen? Kalau menjadi pengamen mungkin berkaitan dengan mata pelajaran seni.

Pengertian saya, pengamen, pengemis, dan gelandangan berbeda. Ini penjelasan saya.

Pengamen berasal dari kata amenmengamen (menyanyi, main musik, dsb. Untuk mencari uang. Amenpengamen (penari, penyanyi, atau pemain musik yang tidak bertempat tinggal tetap, berpindah-pindah, dan mengadakan pertunjukkan di tempat umum). Jadi pengamen itu yang mempetunjukkan kebolehannya (dengan sungguh-sungguh dan keahliannya) di bidang seni.

Pengemis berasal dari kata emismengemis (meminta-minta sedehak, meminta dengan merendah dan dengan penuh harapan. Emis—-pengemis (orang yang minta-minta).

Gelandangan yaitu orang yang tidak tentu tempat kediaman dan pekerjaannya.

Nah sekarang, apakah pengamen dan pengemis itu tidak memiliki tempat kediaman dan pekerjaan yang tetap? (Ini bahasan sosiolog!)

Dari penjelasan di atas ternyata generasi muda sudah diracuni ”virus mengemis”, lalu dari siapa mereka belajar? Pasti mereka belajar dari lingkungan sekitar, karena lingkungan sekitar membawa dampak yang berarti dalam kehidupan. Mengapa mereka memilih belajar mengemis daripada mengamen? Karena kalau mengamen harus betul-betul dapat menghibur orang banyak dan memiliki nilai seni yang tinggi. Sehingga yang melihat, mendengar atau menonton pertunjukkan itu secara rela untuk merogoh koceknya, bahkan dapat memesan sebuah lagu kesayangannya dengan membayar mahal. Kalau mengemis? Nah kalau mengemis mempertunjukkan seadaanya tanpa dengan niat yang penting asal-asalan dan mendapatkan uang dari pendengarnya dan tidak memiliki nilai seni.

Ternyata begitu rendahnya pendidikan seni di kalangan anak muda, mereka dengan modal asal-asal menjadi ”pengemis”. Semoga mulai hari ini anak, saudara kita tidak belajar menjadi ”pengemis”.

3 Tanggapan to “Pengamen bukan Pengemis!”

  1. udhik Says:

    mo nanya nih… artinya pengamen jalanan apa ya…?

  2. awan965 Says:

    Pengamen Jalanan= penari, penyanyi, atau pemain musik yang tidak bertempat tinggal tetap, berpindah-pindah, dan mengadakan pertunjukkan di jalanan dengan tidak menganggu lalu lintas umum. Jadi pengamen jalanan itu yang mempetunjukkan kebolehannya (dengan sungguh-sungguh dan keahliannya) di jalanan. benar gak ya….:D

  3. Pemuda Genius Says:

    Thanks brow. bermanfaat tulisannya.😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: