Ganti Mendiknas Ganti Kebijakan? Dana Pendidikan Masih Kecil atau Kurang?

Di Malaysia perubahan kebijakan pendidikan tidak ada bedanya dengan di Indonesia. Perubahan Menteri Pendidikan terjadi perubahan kebijakan. Dari Tun Abdurazak ke Rahman Talid, hingga Mahatir Muhammad muncul kebijakan-kebijakan baru. Namun perlu dicermati bahwa munculnya kebijakan-kebijakan baru dari pimpinan baru tidak berarti mengenyampingkan kebijakan lama, melainkah lebih bersifat menyempurnakannya. Oleh Karena itu, kebijakan baru dengan kebijakan lama tampak berkesinambungan. Abbdurrazak penekanan kebijakannya pada pembentukan semangat kebangsaan, kemudian Rahman Talib memiliki kebijakan labih mengokohkan semangat nasionalisme dan ketaqwaan kepada Tuhan yang Mahakuasa dengan mewajibkan seluruh lembaga pendidikan yang multietnik menggunakan bahasa Malaysia sebagai pengantar pendidikan dan materi pelajaran. Sedangkan mahatir Muhammad beroijak pada kekokohan nasionalisme yang sudah terwujud, sehingga ia berani mebuat sebuah kebijakan yang lebih berpandangan ke depan dan bersifat global yaitu menjadikan bangsa Malaysia menjadi pusat keunggulan dunia. Setelah menjadi perdana menteri, Mahatir Muhammad memunculkan kebijakan baru yang sekarang menjadi falsafah pendidikan Malaysia yang dikenal dengan nama Wawasan 2020.

Atas dasar kebijakan wawasan 2020 sistem pendidikan di Malaysia terfokus pada pengembangan potensi peserta didik yang bersifat komprehensif, meliputi pengembangan kognitif, apektif, dan psikomotorik, serta pemupukkan nilai-nilai ketaqwaan dan budaya untuk menjadi manusia yang berguna.

Sistem persekolahan dan ujian yang dikembangkan di Malaysia memiliki kekhasan. Dalam sistem persekolahan diantaranya ada jenjang pendidikan yang disebut Pos-Scondary School. Yang merupakan salah satu jenjang pendidikan setelah sekolah menengah atas yang diperuntukkan bagi peserta didik yang hendak melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Sistem ujian nasional yang berfungsi alat kontrol kualitas frekuensinya cukup tinggi yaitu sebanyak empat kali selama menempuh pendidikan dasar dan menengah. Pelaksanaan ujian nasional untuk mengukur standar kualitas pendidikan pemerintah Malaysia.

Pada jenjang pendidikan tinggi di Malaysia ada kebijakan tentang perlunya bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar dalam proses menyampaikan pelajaran, dan dibukanya cabang-cabang perguruan tinggi asing yang dianggap berkualitas. Kebijakan ini dilakukan semata-mata untuk membekali para mahasiswa berpola pikir global, sehingga mereka dapat mengikuti dan berkiprah dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat global untuk kepentingan pembangunan nasional Malaysia. Kesadaran ini sangat dibuktikan dengan konsistennya kebijakan penetapan besarnya anggaran biaya pendidikan yang memiliki cukup signifikan jika dibandingkan dengan anggaran biaya sektor pembangunan lainyya.

Pemerintah dan masyarakat Malaysia sangat menyadari bahwa pendidikan merupakan faktor yang sangat penting bagi kemajuan bangsannya. Kesadaran pemerintah tersebut ditampakan dengan mengalokasikan dana pendidikan pada rancangan angaran pembangunan pada posisi yang signifikan dibandingkan sektor lainnya. Dengan pesatnya perkembangan kualitas pendidikan di Malaysia pelbagai sektor pembangunan Malaysia mengalami kemajuan yang cukup baik.

 

Sumber: Dr. H. Dedi Heryadi, M.Pd. pada Wawasan Tridarma (Februari 2007:3-7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: