Refleksi Untuk Orang Tua, Guru, Pendidik, Pembuat Soal!

Coba perhatikan gambar di atas!

Mengapa namanya nama asing bukan nama standar Indonesia?

Jika sistem pembelajaran kita menggunakan ”sistem realita”, ”sistem penagalam sebagai sumber belajar” maka jawaban si Anak akan berbeda tidak harus seragam. Kalau ingin seragam maka harus gambar/foto seorang ibu yang menyusui dengan memakai pakaian yang standar. Nah masalahnya sekarang, jawaban si Anak tersebut benar kalau pengalamannya dia diasuh, besarkan oleh pembantu. Jadi soal tersebut memiliki 2 jawaban bisa A. Pembantu, bisa juga B. Ibu bergantung pengalaman masing-masing anak.

Soal di atas menurut saya ambigu memiliki makna ganda, sama halnya engan soal seperti ini.

Perhatikan kalimat di bawah ini!

Yang kencing harus di siram!

Apa yang harus disiram?

  1. Orang yang kencing
  2. Air kencing
  3. WC


Orang akan memilih A dan B, bisa juga C (ini pilihan sedikit kemungkinan) begantung pemahamanya semua jawaban benar karena soalnya menimbulkan makna ganda.

Saran saya gambar itu bisa diganti dengan ini, pilih salah satu:

Beberapa komentar yang masuk duluan ke milis ttp://groups.yahoo.com/group/puskur/ yang dikirim melalui email:

 

Made Suarta <i_md_suarta@…>:

Menurut saya…., yang mesti diperbaiki ada cara-cara mengevaluasi pembelajaran. Ringkasnya: soal yang dibuat semestinya tidak seperti pada contoh soal itu.

Saya juga mempunyai anak yang masih duduk di SD, dan saya amati soal-soal yang ada di buku SD kebanyakan seperti yang diilustrasikan dalam email ini.

Trus …, siapa yang harus mereformasi pembuatan soal-soal SD??

—– Pesan Asli —-
Dari: Fidelis Waruwu <waruwu@…>
Kepada: puskur@yahoogroups.com
Terkirim: Rabu, 24 Oktober, 2007 10:19:37
Topik: [puskur] Refleksi bagi kita: Jawaban Otentik Seorang Anak

Selamat pagi untuk semua,

Beberapa waktu yang lalu di bebrapa milis beredar foto kertas ulangan seorang anak yang memilih pembantu yang memilih pembantu sebagai “orang yang penuh kasih sayang” daripada memilih “ayah” atau “mama”nya. Nah, cerita itu ternyata direfleksi oleh Pak “Daniel H.T.” dan setelah saya mengedit sedikit, saya kirimkan komentarnya berikut ini. Selamat merefleksi.

Salamku,
Fidelis

============ ========= ===

Ini sebuah fakta. Pada sebuah ulangan mata pelajaran IPS Kelas 1 sebuah SD ada pertanyaan sbb:

– Gambar di samping ini mewujudkan kasih sayang seorang … (gambarnya adalah gambar seorang perempuan yg sedang memangku seorang anak sambil membelai kepalanya)
A. Pembantu
B. Ayah
C. Ibu

Si anak memilih jawaban yg pertama: A. pembantu.
Oleh gurunya jawaban itu disalahkan

Maka, tidak heran dunia pendidikan kita sulit maju. Betapa tidak sejak dini pengajarannya sudah sesat seperti ini. Pertanyaan2 sejenis ini membuktikan bahwa para pendidik masih melakukan pengajaran dgn sistem dan sudut pandang yg sempit, kaku, letterlijk, textbook, dan dgn sudut pandang dewasa u/ mengajar anak2.

Konyol dan memprihatinkan ketika jawaban sang anak disalahkan o/ sang guru. Kalau memang pengalaman si anak demikian, maka tentu saja dia akan menjawab dgn sejujur dan sepolosnya seorang naka. Aneh, kok disalahkan? Pertanyaan seperti itu mempunyai jawaban yg sangat relatif. Seharusnya jawaban si anak ini membuat guru dan orangtuanya merasa prihatin dan harus merenung; kenapa si anak memilih jawaban itu. Sangat mungkin ini karena selama ini dia kurang mendapat kasih sayang dari Ibunya sendiri. Di era sekarang banyak keluarga yg demikian. Yg hanya mau mencetak anak, tetapi tidak mau repot2 mengasuhnya. Mereka merasa cukup dipenuhi kebutuhan materinya. Urusan mengasuh dan mendidik biarlah sepenuhnya urusan pembantu, baby sitter dan guru di sekolah. Akibatnya, anak tidak merasa kasih sayang orangtuanya, sebaliknya memperolehnya dari pengasuhnya.

Kejadian seperti ini mirip sekali dgn pengalaman yg pernah saya baca. Di sebuah SD, oleh gurunya, anak2 SD itu diberi tugas mengarang tentang tempat rekreasi yg mereka kunjungi di hari Minggu sebelum masuk sekolah. Pada waktu tugas mengarang itu dikumpulkan seorang anak dipanggil gurunya dan ditegur karena tidak mengerjakan tugas mengarang seperti yg ditugaskannya. Anak itu pun diberi nilai 5 (merah). Kesalahan apakah yg dimaksud sang guru dlm karangan si anak?

Kesalahan si anak SD itu adalah ternyata dia tidak mengarang ttg tempat rekreasi yg dimaksud sang guru, melainkan malah dlm karangannya itu menceritakan ttg apa yg dikerjakan di rumah bersama orangtuanya di hari Minggu itu! Rupanya si anak di hari Minggu tsb tidak ke mana-mana, tapi menghabiskan waktu bersama-sama orangtuanya di rumah. kenyataan itulah yg dia ceritakan, dan oleh guru dianggap itu suatu kesalahan yg patut mendapat nilai buruk. Kreatifitas sang anak pun dibunuh sejak dini.

Sumber: Tulisan Sdr “Daniel H.T.” <danielht@…> (diedarkan dimilis t-net).

5 Tanggapan to “Refleksi Untuk Orang Tua, Guru, Pendidik, Pembuat Soal!”

  1. Siska Says:

    Alhamdulillah … di sekolah tempat saya mengajar membudayakan diskusi soal pada saat UTS maupun UAS. Jadi, kami para guru di kelompokkan per bidang studi, kemudian Wakasek kurikulum membuat jadwal sepekan sebelum Ujian untuk kami berdiskusi. Diskusinya mencakup soal beserta kisi-kisinya (indikator C1, C2, C3), seringkali kami harus merubah beberapa soal jika memang dari hasil diskusi soal tersebut tidak layak edar. Soal tata bahasa soalpun diperhatikan, sehingga soal-soal yang di telorkan dijamin kualitasnya.

  2. herfen suryati bercerita: Says:

    ini juga sebuah fakta!
    saat seorang anak sedang menghadapi ulangan IPS, salah satu pertanyaannya adalah:
    Ruangan dalam rumah yang berfungsi sebagai tempat masak memasak disebut …
    a. kamar
    b. ruang tamu
    c. dapur
    Jawaban si anak adalah kamar, karena di rumahnya dia tidak mengenal dapur, yang ada hanya kamar yang dijadikan dapur oleh orang tuannya.

  3. puada Says:

    salam kenal boleh ikutan aja blum mau berkomentar

  4. Abuthoriq Says:

    Semestinya anak yg telah bekerja, berkreasi diberi penghargaan. Mudah2an para guru tdk tertular budaya kolonial

  5. winahyu Says:

    yah maklum, tidak semua guru pinter2, tidak semua guru hatinya ner ner jadi guru, tapi kalau sudah memilih jalan hidup sebagai guru yang bertanggung jawablah, meningkatkan kompetensi sehingga kinerjanya baik….itulah pentingnya KKG atau MGMP atau Asosiasi Guru ….tentu saja dengan program-programnya yang bener tidak sekedar pul kumpul , nya ini tanya itu tunjangan ni tunjangan tu apalagi kalau udah guru PNS kabehe wis jeluuuas , tunjukkan kualitas . met berjuang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: