Efektifkah Dana Pendidikan yang 20%?

Pemerintah sepertinya (masih) berat dalam menanggulangi masalah pendidikan, bagiamana tidak? Wilayah Indonesia begitu luas, masalah keuangan (spertinya) belum begitu baik. Jadi pantaslah dunia pendidikan masih perlu perhatian khusus. Apali dengan masalah perekonomian yang masih lemah.

Coba kita lihat seorang siswa SLTA harus menyiapkan biaya pendidikan minimal Rp 4 juta pertahun, mulai biaya makan, jajan, dan kebutuhan lainnya. Ini biaya yang paling minim. Kalau pemerintah mau serius maka tinggal hitung saja 4 juta rupiah kali sekian siswa se Indonesia, berapa? Biaya itu tentunya dikeluarkan dari APBD dan APBN.

Nah sekarang, sudak cukupkah biaya pendidikan yang 20%? Jawabannya (pasti) belum tentu cukup. Mengapa?

1. Penggunaannya belum efektif dan efesien.

2. Masih tumpang tindih penggunaan dana pendidikan, saling rebut proyek pendidikan.

3. Tidak tepat sasaran.

4. Tidak jelas targetnya.

5. Masih dipakai untuk studi banding, hasil studi banding tidak dilaksanakan.

6. dst.

Sehingga ujung-ujungnya biaya pendidikan masih kurang atau tidak cukup.

Sebagai contoh, cukupkah biaya pembangunan sebuah kelas dengan biaya 1 milyar rupiah? Jawabannya bisa lebih dari cukup, bisa juga cukup, bisa juga masih kurang, bergantung bagaimana kondisi kelas yang dibangunnya, bergantung pengelolanya. Kalau pengelola mengambil untungnya banyak ya pasti tidak cukup. Mungkin seperti itu biaya pendidikan selalu kurang terus.

Berbeda dengan ada tergetnya, misalnya kita akan membangun ruang kelas multimedia. Kelas mutlimedia yang standar biayanya 500 juta rupiah. Maka dengan biaya 1 milyar tadi bisa dibuatkan 2 kelas multimedia yang standar. Nah dengan adanya target yang dicapai maka biaya tadi akan tepat guna.

Sekarang di masyarakat timbul anggapan bahwa biaya pendidikan sekarang mahal bahkan sangat mahal. Kalau ingin masuk sekolah favorit harus dengan biaya mahal. Kalau punya uang banyak bisa mengenyam pendidikan yang baik. Kalau kita balikkan, apakah dengan biaya yang mahal itu bisa meningkatkan pendidikan? Itu belum tentu.

Sebagai contoh, saya dari Kuningan Jawa Barat ingin ke Jakarta dengan waktu tempuh yang cepat, diperjalanan nyaman, dan tepat waktu. Maka saya harus naik kereta api Cirebon Express kelas Ekseutif. Untuk naik kereta api ini biayanya cukup Rp 75.000, pasti ongkosnya lebih mahal daripada naik bis umum. Kalau saya balikkan, apakah dengan uang Rp 100.000 bisa sampai di Jakarta dengan kondisi sama seperti di atas? Jawabannya belum tentu. Jika saya punya uang Rp 100.000 belum tentu dapat sampai ke Jarkarta, bisa jadi saya dari Kuningan ke Cirebon saja, di cirebon membeli sesuatu/berbagai barang sehingga habislah uang yang Rp 100.000. Akhirnya Rp 100.000 tidak sampai ke Jakarta. Kalaupun sampai ya… kapan-kapan. Karena targetnya tidak jelas. Kalau yang pertama tadi jelas targetnya itu ke Jakarta tepat waktu, diperjalanan nyaman, ya harus naik kereta api cireks eksekitif dengan harga Rp 75.000. Sehingga Rp 75.000 lebih efektif dibanding dengan Rp 100.000 yang tidak jelas targetnya.

Nah sekarang bagaima dengan biaya pendidikan, apakah dengan anggaran 20% akan mencukupi atau tidak? Jawabannya bergantung kondisi, apakah yang 20% targetnya jelas? Kalau tegetnya tidak jelas yang pasti tidak cukup, sebesar apapun biaya itu kalau tanpa target yang jelas tidak akan cukup.

Mudah-mudahan kita semua bisa mengawal biaya pendidikan yang 20% itu tepat sasaran, efektif, efesien untuk mencapai sebuah target yang jelas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: