Anakku Sayang, Waktu Begitu Berharga

Hari Senin (4/6/07) adalah hari yang melelahkan, di tempat kerja banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, diantaranya membimbing peserta OSK Komputer. Kegiatan tersebut sampai pukul 17.00.

Badan telah lelah saya pulang ke rumah dalam keadaan letih disambut oleh anak-anakku yang masi kecil di depan pintu. Saya ditanya oleh anak yang pertama.

Anak: Ayah, boleh nggak Kakak bertanya?
Ayah: “Ya…mau tanya apa?”
Anak: “Berapa pendapatan ayah sejam?”
Ayah: “Itu bukan urusan kamu, buat apa kamu sibuk tanya?”

Saya agak kesal karena merasa lelah.
Anak: “Kakak tidak tahu ayah. Tolonglah beritahu berapa ayah dapat sejam bekerja di kantor?”
Ayah: “Rp 15.000 sejam, memang kenapa?”
Anak: “Oh…” si anak menjawab sambil tunduk ke bawah. Kemudian memandang wajah saya sambil bertanya, “Ayah….boleh nggak Kakak pinjam Rp 5000 dari ayah?”.
Saya mulai menjadi berang dan berkata, ” oh, itu sebabnya kamu tanya berapa pendapatan ayah, untuk apa uang sebanyak 5000 Beli barang mainan lagi? Jangan mubazir. Ayah kerja capek-capek bukan untuk buang duit sebarangan.
Sekarang pergi ke kamar dan tidur, dah lewat jam tidur nih…” Anak-anaku itu terdiam dan perlahan-lahan melangkah kembali ke kamar tidurnya.

Saya duduk di atas sofa dan mula memikirkan mengapa anakku itu memerlukan uang sebanyak itu.

Kira-kira dua jam kemudian saya kembali tenang dan terpikir kemungkinan anakku benar-benar memerlukan uang untuk keperluan di sekolahnya kerana anaknya tidak pernah meminta uang sebanyak itu sebelumnya.

Dengan perasaan bersalah saya melangkah menuju kamar anakku dan membuka
pintu. Didapati anakku masih belum tidur.

“Kalau kamu betul-betul perlu uang, nah ambillah Rp 5000 ini.”

Anakku segera bangun dan tersenyum girang. “Terimakasih ayah”, katanya begitu gembira. Kemudian dia mencari-cari sesuatu di bawah bantalnya dan mengeluarkan selembar sepuluh ribuan yg sudah kusut.

Saat dilihat uang itu oleh saya, saya kembali marah. “Kenapa kamu minta duit lagi sedangkan kamu sudah ada uang sebanyak itu? Dan dari mana kamu dapat uang di bawah bantal itu?”

Anakku tunduk tidak berani menatap wajah ayahnya. “Uang ini Kaka kumpulkandari uang jajan yang ayah beri tiap hari. Kaka minta lagi 5 ribudari ayah sebab uang yang Kaka ada sekarang tidak cukup”, jawab si anakkuperlahan.

“Tak cukup untuk beli apa??”, tanyaku.

“Ayah, sekarang Kakak sudah punya 15 ribu. Ayah ambil uang ini. Kakak mau belisejam waktu dari masa ayah. Kakak ingin, ayah pulang kerja lebih awal besok. Kaka rindu mau makan malam bersama ayah. “, jawab anakku tanpa berani memandang wajah saya.

Saya terdiam dan hanya merasakan air bening jatuh dari mata.

Satu Tanggapan to “Anakku Sayang, Waktu Begitu Berharga”

  1. July Aulia Says:

    BETAPA TERSENTUHNYA HATI SAYA MEMBACA TULISAN DAN KARYA YANG MANIS INI.SAYA SEORANG IBU,JIKA SAYA ADA BERDEKATAN DENGAN ANAK ITU AKAN SAYA PELUK ERAT2 DAN SAYA AKAN MEMBAHAGIAKANNYA TANPA DIA MEMINTA APAPUN DARI SAYA.SABAR DAN TAWAKAL UNTUK SEMUA ANAK2 ORANG TUA TAK AKAN MEMBIARKAN ANAKNYA MENDERITA.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: