Pesantren Bukan Sarang Teroris

17 May, 07 – 10:24 pm
imageimageBanda Aceh — Konsulat Jenderal Amerika Serikat, Sean Stein mengatakan, pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis agama Islam di Indonesia bukan merupakan sumber teroris seperti yang selama ini kerap ditabalkan dunia internasional.

“Kalau ada yang bilang pesantren itu sumber teroris saya pikir mereka tidak tahu pesantren itu apa,” katanya saat mengunjungi Pesantren Al Falah Abu Lam U, bersama 17 petinggi militer AS, di Kabupaten Aceh Besar, Kamis.

Kunjungan tersebut sebagai bentuk silaturahim dan studi banding dengan melihat secara dekat kehidupan para santri dan membandingkannya dengan kehidupan santri di dua negara Islam yaitu Afghanistan dan Pakistan yang lebih dulu dikunjungi rombongan jenderal Amerika Serikat tersebut.

Menurut Sean, para jenderal militer AS itu merasa senang dapat berkunjung ke salah satu pesantren moderen di Aceh dan mereka melihat lembaga pendidikan Islam tersebut lebih maju serta didominasi santri perempuan berjumlah 300 orang, sedangkan santri laki-laki hanya 200 orang yang dinilai sebagai nilai tambah bagi perempuan Aceh.

Perempuan Aceh, katanya, tidak ingin ketinggalan dalam mencari ilmu baik ilmu pengetahuan maupun agama. Hal ini merupakan kesempatan baik bagi Aceh untuk berkembang.

Soal tindakan terorisme, Sean Stein, mengatakan tidak boleh selalu dikaitkan dengan Islam karena Islam bukan sumber teroris.

“Saya pikir satu masalah saat ini, ada banyak orang Amerika yang tidak mengerti dengan Islam dan banyak juga orang Indonesia yang tidak mengerti Amerika dan ajaran kristen,” tambahnya.

Dikatakannya, untuk menghapus stigma tersebut, sudah menjadi tugas semua pihak menjembatani perbedaan antara dua negara yang berbeda agama guna mengatasi kesalahpahaman komunikasi dan menumbuhkan pengertian, terutama tentang ajaran Islam yang selama ini salah diartikan.

Dia juga menambahkan, sebenarnya hubungan AS dengan Indonesia sangat baik dan semakin kuat, di samping itu negara adidaya tersebut juga ingin membantu Indonesia disegala bidang seperti kesehatan anak, pemberantasan KKN dan pertumbuhan ekonomi.

“Tujuan kami sama dengan tujuan pemimpin Indonesia, yakni untuk membangun Aceh yang lebih baik,” kata diplomat tersebut. antara/abi/RioL

Sean B Stein “Wong Deso” yang Berkeliling Dunia
10 May 2007 : Dengan membaca buku, kita dapat menyerap banyak informasi, dapat berkelana ke berbagai negara bahkan ke dunia dongeng sekalipun. Faktanya adalah Sean B Stein, Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Medan.

Dari hobinya membaca sejak kecil itu, ia akhirnya bisa pergi ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Sewaktu kecil, Sean mungkin takkan bisa membayangkan bagaimana masa depannya kelak tanpa membaca. Soalnya, ia hanyalah anak desa yang tinggal di pedalaman Amerika, tepatnya Huntville, negara bagian Utara Amerika Serikat yang hanya didiami 778 jiwa.

Di kota kelahirannya itu tidak ada sarana pendidikan setingkat SD, SMP, SMA. Untuk melanjutkan pendidikan saja harus ke kota besar terdekat, Saltlake City yang berjarak sekitar 100 km dari tempat tinggalnya.

“Tidak hanya di Indonesia yang ada desa, di Amerika juga ada. Tempat tinggal saya dulu sangat terisolir. Sarana pendidikan sangat minim. Saya ini juga wong deso,” kata Sean meniru Tukul Arwana yang disambut gelak tawa para pustakawan se-Sumbagut dalam sebuah acara di Perpustakaan Daerah Sumatera Utara, Rabu (9/5) kemarin.

“Beruntung sekali saya punya kepala desa yang berpikiran maju. Ia membangun sebuah perpustakaan di tempat kelahiran saya itu. Kehadiran perpustakaan itu sangat membantu membuka cakrawala saya. Impian saya ketika itu adalah ingin pergi ke daerah-daerah lain di seluruh dunia,” ujarnya.

Sejak kehadiran perpustakaan itu, orangtua Sean terus mendorongnya untuk selalu membaca di perpustakaan. Lama kelamaan, ia menjadi gemar membaca. Semua jenis buku ia lalap habis.

Karena ia yakin buku adalah jendela ilmu yang dapat menambah wawasannya. Pendeknya, dengan membaca, wawasan dan pengetahuannya semakin luas. Ia paham, buku adalah jendela ilmu.

Sean paling menyenangi buku tentang sejarah, terutama sejarah panjang perjuangan sebuah negara atau daerah. Ia mengaku, saat ini sedang menuntaskan buku tentang sejarah Aceh dan sejarah Industri Perminyakan di dunia. Dengan membaca sejarah negara itu akan membantunya memahami karakter masyarakat, budaya dan adat istiadat satu daerah. (harian-global.com)

Ditulis dalam Umum. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: