Jaringan Telekomunikasi Publik Vs Jaringan “Private”

Dari selentingan informasi yang saya peroleh belakangan ini, disinyalir gerakan-gerakan seperti VoIP Rakyat, VoIP pribadi, VoIP internal perusahaan, jaringan telekomunikasi private, bahkan 4G mulai membuat gerah beberapa pihak di “perusahaan tetangga”.

Perlu dicatat, teknologi VoIP yang dioperasikan bangsa Indonesia jauh lebih canggih daripada teknologi VoIP operator, karena VoIP bangsa Indonesia sudah berbasis Next Generation Network (NGN) dan 4G menggunakan Session Initiation Protocol (SIP). Teknik NGN dan 4G dijelaskan secara gamblang dalam buku VoIP Cikal Bakal Telkom Rakyat. Sekarang, hanya XL yang mampu menyaingi teknologi rakyat Indonesia, sementara operator lain masih berada jauh di belakang teknologi rakyat.

Tulisan ini berusaha mengingatkan kita semua pada koridor yang telah digariskan. Perlu dicatat, tak ada pelanggaran dilakukan oleh rakyat Indonesia terhadap koridor tersebut. Maka, aneh jika ada pihak yang menjadi gerah, padahal tak ada pelanggaran yang dilakukan. Lebih aneh lagi, jika ada operator berlisensi yang mendukung perjuangan rakyat dipermasalahkan oleh pihak yang gerah.

Koridor yang ditentukan oleh para penguasa republik sebetulnya sangat jelas dan sangat eksplisit, dasarnya dapat dilihat pada Pasal 60 Keputusan Menteri Perhubungan No 21/2001. Prinsipnya sederhana sekali, rakyat Indonesia hanya membutuhkan izin Menteri Komunikasi dan Informatika untuk mengoperasikan VoIP; jika menjualnya kepada publik atau masyarakat luas, dilakukan secara komersial, dan disambungkan ke jaringan telekomunikasi seperti XL, Indosat, dan Telkom.

Oleh karena itu, jika bangsa Indonesia menggunakan VoIP untuk keperluan pribadi, kantor, sekolah, kampus, RT/RW-net yang semuanya merupakan jaringan private dan tidak komersial, jelas-jelas tidak melanggar hukum yang ada. Yang maksimal dilakukan rakyat adalah menggunakan peralatan Analog Telepon Adapter (ATA) agar dapat mengaitkan PABX atau extension yang ada di kantor-kantor atau kampusnya. Beberapa bahkan mengaitkan PABX di rumah masing-masing karena harga PABX delapan extension hari ini di Glodok hanya Rp 200.000, sangat murah sekali.

Jelas PABX tidak dibatasi sambungannya, hanya dapat tersambung ke PSTN milik Telkom. Teknologi VoIP memungkinkan PABX untuk tersambung ke jaringan telekomunikasi VoIP milik para rakyat dan pejuang telekomunikasi di Indonesia.

Melalui jaringan internet 24 jam, seperti jaringan RT/RW- net, bangsa ini telah dapat mengakses internet unlimited dengan biaya murah sekitar Rp 135.000- Rp 300.000 per bulan, jauh lebih murah dibanding solusi yang diberikan pemerintah. Tak heran, jika VoIP kemudian menjadi marak untuk menelepon antarteman, antarkantor pusat ke kantor cabang, antarsekolah, antarrumah yang semua terkait ke jaringan VoIP.

Bayangkan, sekarang orang tidak perlu lagi membayar biaya telepon SLJJ maupun SLI, bahkan sering kali tidak perlu membayar biaya telepon lokalnya. Semua komunikasi telepon dilakukan di atas internet secara gratis.

Sentral telepon VoIP pun di operasikan secara gratis. Salah satu sentral terbesar di Indonesia adalah VoIP Rakyat pada http://www.voiprakyat.or.id. Melalui sentral ini semua orang dapat berkomunikasi satu sama lain dengan lebih mudah, karena sentral membantu untuk perolehan nomor bagi masing-masing pesawat teleponnya.

Beberapa pihak tampaknya semakin gerah dengan dimungkinkannya telepon seluler menjadi bagian dari jaringan PABX atau VoIP. Bayangkan, jika Anda mempunyai ponsel yang kemudian tersambung ke jaringan PABX di kantor Anda dan Anda tidak perlu lagi membayar pulsa sama sekali untuk menelepon berbagai extension di PABX kantor. Tidak ada hukum yang dilanggar, semua menggunakan jaringan telekomunikasi private.

Semua ini dimungkinkan dengan berbagai teknologi yang ada, baik itu 4G, WiFi Phone, PDA, dan lain-lain yang mempunyai kecepatan jauh lebih tinggi daripada 3G dan tersedia “gratisan”. Teknologi ini secara ekstrem adalah teknologi ponsel tanpa SIM card dan sangat mudah sekali dilakukan menggunakan ponsel generasi terbaru.

Integrasi jaringan seluler maupun milik operator secara sah dapat dilakukan, seperti halnya menyambungkan PABX ke jaringan telekomunikasi. Apakah selama ini kita membutuhkan lisensi untuk menyambungkan PABX ke jaringan Telkom? Apa ada persyaratan bahwa PABX harus dipasang oleh Telkom? Jelas tidak. Semua peralatan PABX maupun private network merupakan hak rakyat Indonesia untuk membangunnya.

Semua ini menjadi tantangan nyata para operator telekomunikasi di Indonesia. Teknologi telekomunikasi rakyat Indonesia sudah jauh lebih maju dan berada pada tahapan NGN maupun 4G. Pertanyaannya, apakah salah jika operator telekomunikasi menyambungkan jaringan private milik rakyat ini ke jaringan miliknya?

Apalagi rakyat itu ternyata membayar abonemen dan tidak mencuri pulsa operator. Apakah salah jika operator telekomunikasi melakukan inovasi kreatif untuk mendukung teknologi rakyat ini sehingga memungkinkan rakyat membuat jaringan private dalam skala luas, misalnya, dengan menyewakan jaringan backbone internetnya?

Atau menyewakan backbone MPLS-nya? Menyewakan BTS GSM-nya? Menyewakan akses GSM atau seluler untuk private network? Semua ini memungkinkan jaringan private rakyat menjadi besar dan lebih leluasa mengonvergensikan komputer, telepon, seluler, atau broadcasting semua menjadi satu kesatuan yang terintegrasi.

Hanya operator telekomunikasi dan regulator picik saja yang bertahan dengan status quo dan tak mau maju. Semoga tulisan ini membuka mata dan hati mereka yang sedang gerah.

Teknologi rakyat jauh lebih canggih dan lebih maju. Bahkan, perlu dicatat di sini banyak bangsa di dunia yang belajar kepada bangsa Indonesia untuk teknologi NGN dan 4G yang merakyat ini. Dunia pun belajar kepada kita, bangsa Indonesia.

Onno W Purbo Mantan Dosen ITB dan Penulis Independen

Ditulis dalam Teknologi. 1 Comment »

Satu Tanggapan to “Jaringan Telekomunikasi Publik Vs Jaringan “Private””

  1. ucok Says:

    masa sih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: