Tunjangan KJM Guru Dihapus

Mulai Januari 2007 pemerintah menghapuskan tunjangan kelebihan jam mengajar (KJM) bagi guru pegawai negeri sipil (PNS) tingkat SMP/SMA/SMK. Tunjangan tersebut dialihkan menjadi tunjangan insentif bagi guru PNS TK/SD di daerah terpencil.

”Tapi karena Kota Bandung tidak termasuk daerah terpencil, tidak ada guru TK/SD yang menerima tunjangan tersebut,” ujar Wakadisdik Kota Bandung Evi S. Shaleha.

Keputusan tersebut, kata dia, merupakan wewenang pemerintah pusat yang bersifat nasional.

Seperti diketahui, berdasarkan surat Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat No. 055/1522/ 2007 tanggal 12 April 2007 dan ditindaklanjuti dengan surat Kadisdik Kota Bandung Nomor 800/1750-TU/2007 tertanggal 1 Mei 2007 tentang tunjangan fungsional guru periode Januari 2007-Juni 2007 hak guru PNS yang selama ini didapat, yaitu tunjangan insentif berupa kelebihan jam mengajar (KJM) bagi guru PNS dan non-PNS yang bertugas di SMP, SMA, dan SMK negeri yang mengajar lebih dari 18 jam diberikan KJM Rp 1.000,00 per jam efektif.

Namun, lanjut Evi, bagi guru honorer/sukarelawan (sukwan) yang mengajar di sekolah negeri atau swasta, tidak termasuk dalam keputusan baru tersebut. Begitu juga guru tetap yang digaji yayasan.

”Mereka tetap mendapat tunjangan. Tetapi namanya bukan insentif KJM lagi tetapi sudah masuk dalam tunjangan fungsional dengan nilai yang akan diterima naik dari Rp 115.000,00/bulan menjadi Rp 200.000,00/bulan. Terhitung Januari 2007 lalu,” tuturnya.”

Untuk itu, wakadisdik meminta semua guru honorer/tetap yayasan segera melaporkan dan mendaftarkan diri kepada pengawas di wilayahnya masing-masing. Hal itu dilakukan untuk validasi data mengenai jumlah guru penerima tunjangan fungsional agar tunjangan itu tepat sasaran.

”Jangan sampai ada pengawas yang nakal dengan mendaftarkan nama fiktif seperti yang terjadi pada 2006 lalu. Karena yang mendapat masalah, nanti dinas pendidikan,” ujarnya.

Tidak adil

Menanggapi dihapuskannya tunjangan KJM, seorang guru yang enggan disebutkan namanya mengatakan, tuntutan profesionalisme guru sangat tumpang tindih. Di satu pihak, guru dituntut profesional dengan harus mengajar 24 jam. Tujuannya, antara lain, agar guru tidak mengajar di tempat lain.

Namun di sisi lain, hak-hak guru yang sebelumnya diberikan, justru dihapuskan. ”Ah akhirna mah papinter-pinter guruna we. Toh, dalam seminggu guru masih diberi waktu libur yang bisa digunakan untuk mengajar di tempat lain,” ujar guru yang juga sebagai dosen itu.

Sementara Ketua I FAGI Kota Bandung Ahmad Taufan mengatakan, pemerintah tidak adil dalam membuat kebijakan kesejahteraan guru.

Bila mengacu pada UU Guru dan Dosen, kata Taufan, disebutkan, kewajiban guru mengajar tatap muka 24 jam per minggu. Namun sampai saat ini, peraturan pemerintah (PP) tentang guru belum ditandatangani.

Sedangkan di pihak lain, hak-hak guru yang ada dalam UUGD belum diberikan seperti tunjangan fungsional, tunjangan profesi, dan tunjangan maslahat tambahan di antaranya pemberian akses dan keringanan biaya bagi putra-putri guru di sekolah milik pemerintah, dengan alasan PP guru belum ditandatangani presiden .

Selain itu, kata Taufan, pemerintah juga berjanji akan memberikan tunjangan fungsional kepada guru swasta, guru honorer di sekolah negeri, dan guru bantu dengan syarat harus memenuhi persyaratan mengajar 24 jam per minggu.

”Seharusnya pemerintah memberikan tunjangan fungsional kepada guru swasta dan guru SD terpencil tanpa menghapuskan tunjangan yang selama ini diterima guru. Kalau begini caranya, pemerintah bukan meningkatkan kesejahteraan guru, tapi hanya mengalihkan tunjangan guru,” ujarnya.

Sumber:Pikiran Rakyat.com

Ditulis dalam Berita. 10 Comments »

10 Tanggapan to “Tunjangan KJM Guru Dihapus”

  1. pree Says:

    Yah mari kita ber-positif thinking aja….

    Ya sa setuju..

  2. pree Says:

    karena berprasangka jelek juga tidak menyelesaikan masalah…

    Betul… lebih baik kiat berdoa semoga kita diberi berkah yang mensejahterakan kita

  3. rachel ferawati Says:

    ada ataupun tidak adanya tunjangan KJM itu, tetap saja guru-guru honorer tidak dapat. persyaratan untuk dapat KJM adalah harus mengajar 24 jam perminggu, dgn alasan supaya tdk mengajar dilain tempat,buat guru-guru PNS sih nggak ada masalah karena gaji mereka besar, tapi buat guru honorer, sangat kurang manusiawi, karena gaji guru-guru honorer, sangat TIDAK MANUSIAWI.tolong dong pemerintah di tinjau ulang rencana dan keputusan yg akan di ambil, sudah sangat manusiawi belum….gaji Rp.608rb perbulan untuk hidup sebulan, MANA CUKUP!!

    Tanggapan: Mulai sekarang kita berdoa saja, mudah-mudahan kita diberi berkah dari-Nya, mudah-mudahan kita diberi rizki dari mana saja yang bisa mencukupi kehidupan kita, dan rezeki itu rezeki yang tidak disangka-sangka. Kata orang orang sunda “saeutik mahi, loba nyesa”. Salam kenal ya…

  4. Rien A. Muslim Ruhsan Says:

    saya salah satu guru honorer di kota besar “BANDUNG” yang notabene sekolah tempat saya menagajar adalah salah satu sekolah favorit yang pasti diketahui oleh para pejabat pendidikan kota Bandung, SMPN 13 Bandung. Tetapi aneh, tunjangan yang seharusnya saya dan teman-teman honorer dapatkan justru tidak kami peroleh? Bayangkan saja menurut harian Pikiran Rakyat dari 56 sekolah yang seharusnya mendapatkan jatah tunjangan Rp 200 ribu/ bulan hanya 55 sekolah yang mendapatkannya, jadi cuma sekolah kami aja dong yang guru honornya gigit jari?????? Tolong dong guru honorer juga “pahlawan tanpa tanda jasa” dimana tugas dan kewajibannya sama, tapi kenapa untuk urusan kesejahteraan selalu dilupakan…

  5. ade kurnia Says:

    kami juga dari kota tasikmalaya belum menerima tunjangan fungsional bagi guru honorer, mana janjimu dong

  6. Aliice lisnawati Says:

    ikutan aja……asal ada hasil yang menggembirakan buat tenaga edukatif anu ….HONOR…. pa..Bu.. PERHATIKAN KAMI….katanya 6 bulan sekali mau turun tapi….ternyata… dan terima kasih juga….

  7. Selly Rosalina Says:

    Saya guru honorer swasta di sukabumi, liat komentar di atas jadi pengen ikutan berkomentar….. Saya baru 1 tahun jadi guru honor dan awalnya latar belakang saya bukan dari dunia pendidikan namun setelah masuk ke dunia pendidikan setelah saya mengikuti akta 4 saya akhirnya mulai jatuh cinta untuk menjadi seorang pendidik. Memang sangat kecil gaji yang diterima seorang honorer, mudah – mudahan tahun ini menjadi lebih baik untuk majunya kesejahteraan guru di Indonesia tercinta. Qt berdoa saja semoga guru menjadi salah satu prioritas yang mendapat perhatian dari pemerintah……. Amien ! Semangat……………

  8. awan sundiawan Says:

    @semuanya: mudah2an harapan para guru (honorer) terlaksana, amin

  9. John deru Says:

    Wah para guru, jangan banyak protes donk ! Aku juga seorang pns dengan golongan rendah, gaji kecil, tapi aku tetep nrimo dan gak banyak tingkah karena memang jumlah pegawai sepertiku sedikit (kalaupun protes juga gak akan didenger bahkan bisa jadi dipecat!). manusia gak akan pernah merasa cukup.

    Jam mengajar cuman 24 jam seminggu protes, kelebihannya masih minta honorarium lagi, alangkah enaknya wahai engkau para guru !! Aku kerja 8 jam sehari 50 jam seminggu banting tulang, gak ada tambahan honor apa-apa.

  10. AI Says:

    SAYA SALAH SATU GURU HONOR DI SALAH SATU SDS KOTA BANDUNG,SAYA MENGHONOR KURANG LEBIH SUDAH 5 TAHUN TP SAMPAI DETIK INI SAYA BELUM PERNAH MENDAPAT TUNJANGAN FUNGSIONAL DARI PEMERINTAH.
    SETIAP SAYA MEU DAPAT PASTI ADA SAJA ATURAN BARU MENGENAI TUNJANGAN TSB.
    AH POKOKNYA RIEUT JADI GURU HONOR TEH.
    KITA DITUNUTT PROFESIONAL TAPI TIDAK ADA Perhatian dari pemerintah untuk guru honor,apa lagi guru honor disekolah swasta yanh murudnya sedikt ini pasti berakibat kepada gaji yang diterima tiap bulan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: