Siswa SD menuduh Tukul Tak Bermoral

tukul1.jpgPolah Tukul, pelawak yang menjadi pemandu program Empat Mata di Trans 7 itu, boleh saja digemari banyak orang, tapi tidak rupanya bagi puluhan pelajar SD Muhammadiyah 4, Pucang, Surabaya.

tukul2.jpgSaat merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di sekolahnya, Rabu (2/9), puluhan pelajar tersebut melayangkan protes terhadap aksi tukul yang dinilai tidak bermutu.

“Cipika-cipiki (cium pipi kanan-cium pipi kiri-red) yang dilakukan Tukul itu tidak bermutu, tidak bermoral, karena bukan muhrim,” ujar Fahrizal, pelajar kelas 5 SD Muhammadiyah 4, Pucang, Surabaya dalam orasinya lantang.

Adegan itu, katanya, disengaja untuk menciptakan “virus” baru untuk ditanamkan kepada masyarakat. Bahkan bintang tamunya mengenakan pakaian yang tak layak dipertontonkan. “Kalau seperti itu, nanti kita akan matikan televisinya. Setuju….,” ucapnya, bersemangat, yang dijawab puluhan kawannya dengan teriakan, “Setuju….”

Dalam aksi tersebut, puluhan pelajar itu membentangkan poster yang antara lain bertuliskan “Cipika-Cipiki Yang Bukan Muhrim… Nggak-lah”, “4 Mata atau 1000 Mata Boleh Asal Jaga Akhlak”, “Sensor Adegan Perusak Moral” serta “Media-ku Kami Butuh Acara Mendidik,” dan sebagainya.

Selain itu, para pelajar juga melakukan gerakan teatrikal berupa adegan peradilan class action dengan majelis hakim “hati nurani” dan masyarakat yang menggugat tayangan “Banyak Mata” secara class action.

Secara terpisah, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 4, Pucang, Surabaya, M Sholihin SAg, menuturkan, Tukul Arwana memang telah menjadi ikon, sampai akhirnya jam tayang yang semula akhir pekan menjadi setiap hari Senin hingga Jumat.

“Alasannya, rating tayangan itu tinggi. Bahkan jam tayang yang semula pukul 22.30 WIB diajukan menjadi 21.30 WIB, tapi mereka tak memperhitungkan bila anakanak dan remaja pun menonton,” tegasnya.

Ia menambahkan, anak didiknya tidak menolak acara Empat Mata, asalkan Tukul sebagai “wong ndeso” sebaiknya tidak merusak acaranya dengan cipika-cipiki, busana bintang tamu yang “mengumbar” aurat, dan bahasa yang tak senonoh.

Dalam peringatan Hardiknas, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Timur menggelar seminar yang memprotes sinetron remaja di seluruh stasiun televisi yang dinilai merusak moral remaja.

“Banyak sinetron yang berlatarbelakang sekolah dan remaja, tapi mata acaranya justru mengajarkan percintaan, perkelahian, dan gaya hidup hura-hura. Karena itu, kami minta pengelola media bersikap bijak,” ucap Ketua IMM Jatim, Sholikul Huda.

Sumber: Antara

Ditulis dalam Berita. 8 Comments »

8 Tanggapan to “Siswa SD menuduh Tukul Tak Bermoral”

  1. Bakh Says:

    Memang suatu perubahan seringkali mengalami kontradiksi terlebih dahulu..Cobalah untuk tidak cepat menghakimi..
    Jangan pula sangkut pautkan nilai agama dalam bergaul!
    Masalah sinetron percintaan yg berlatar belakang sekolah & remaja memang tidak mempunyai value added bagi pemirsanya. Tapi untuk masalah cepika-cepiki…..oh,c’mon..masakah kita tidak mau menerima budaya lain dg mengatakan bhw budaya tsb adalah tidak bermoral? pliz,jgn jawab bahwa kita dr Indonesia bebudaya Timur. Bagaimana nanti bila seorang Barat yg hendak melakukan ibadah,lantas kawannya mengatakan,”tak perlulah semunafik orang Timur”

    Kita harus menanggapinya dengan bijaksana pula

  2. bintang Says:

    “Hebat” sekali anak-anak Indonesia ini. Mereka begitu “paham” peta “permasalahan”, sehingga dengan begitu “intens” bisa “merefleksikannya” dan kemudian mengungkapkan hasil refleksi itu dalam sebuah karya teatrikal. Sungguh sangat “hebat”.

    Yang tidak hebat adalah yang memanfaatkan anak-anak kecil untuk meneriakkan agendanya. Sudah cukup bangsa ini hidup dalam proses pembodohan. Saatnya untuk jadi lebih cerdas; intelektual, emosional, spiritual.

    Itulah keadaan (sebagain) bangsa kita, mungkin dengan cara/melalui anak-anak orang dewasa akan lebih malu dan ada perhatian

  3. Boim Says:

    Saya setuju dengan Bintang….jangan deh pake anak kecil.
    Ini mah cuman orang-orang yang iri dengan kesuksesan Tukul. Kasihanilah Tukul.

    Cipika Cipiki itu mah udah bukan hal aneh di Indo, kayaknya anak SD Muhamadiyah 4 aja yang katrok, ndeso, culun.
    Coba tuh liat petinggi, pemuka agama dan pejabat negeri ini.
    Kalo Cipika Cipiki dengan lawan jenis dibilang haram karena bukan muhrim.
    Bagaimana dengan Cipika Cipiki dengan sesama jenis.
    Haram? Atau Halal? Kalo Halal berarti lesbi dan homo itu juga halal dong, itu sih komen keponakan saya yang baru berumur 8 tahun, kelas 2 SD.

    Iya…. mengapa harus Tukul yang diperingatkan ya…. kenapa tida yang lainnya?

  4. Deni Triwardana Says:

    saya juga setuju…

    Terima kasih atas dukungannya

  5. Alex Says:

    Setuju banget amat pendapat BOIM. Gue pikir bener juga, gue liat pria ketemu pria pelukan cium pipi kok mereka ngak terangsang. Lha memang karena ngak ada muatan nafsu di pikirannya. Jadi cipika/ki dgn wanita dengan pikiran salam akrab juga ngak ada muatan nafsu. Jadi kontrol pikiran itu kuncinya

  6. rangganteng Says:

    emang sih, jika kita liat dari kaca mata yang berbeda tanggapannya pun berbeda. misal yang aqidahnya sekuler sih sah sah aja meliat apa yang dilakukan tukul, apalagi yang berfikiranya liberal, tambah kacau.
    ketika adik-adik kita mulai terbuka berfikirnya, aqidah islam sebagai acuannya, maka hasilpun akan sangat berbeda. mereka sadar bagaimana cara bergaul menurut Islam, cara berfikir menurut Islam. jadi Islamlah yang dijadikan alat pengkontrol, bukan kebiasaan, adat, salam keakraban atau terangsang/tak terangsang.
    kebenaran bukan apa yang benar menurut pendapat kebanyakan orang. kebenaran bagi yang menganut aqidah Islam, adalah kebenaran menurut Al qur’an dan Hadis. ini bukan masalah penghakiman, tapi konsekuensi dari aqidah yang dianut.

  7. Ria Isngadi Says:

    Mungkin, akan lebih baik jika yang menanggapi itu langsung mas Thukul. Bagaimana dia sebagai seorang “muslim” yang diingatkan oleh anak-anak ketika ia melakukan kesalahan dari ajaran yang dianutnya. Memang, sudah kewajiban seorang muslim untuk mengingatkan muslim lainnya jika ia melakukan kesalahan (kemaksiatan). Kalau mas Thukul “masih” seorang muslim, ia akan berterima kasih ketika ia diingatkan meskipun oleh anak-anak. kepada anak-anak, kami bangga anak2 menjadi duta guru-gurunya untuk menyampaikan kebenaran ini.
    The last, biarlah mas Thukul dan anak-anak SD itu yang menjadi aktor utamanya, kita lihat kelanjutannya.

  8. awan sundiawan Says:

    Untuk semuanya: Trims atas komentnya😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: