Tak Hanya Kebocoran tapi Ada Pelanggaran

Inspektur I Inspektorat jenderal (Irjen) Departemen Pendidikan Nasional, Amin Priatna, mengatakan pihaknya telah menurunkan tim investigasi untuk menyelidiki dugaan terjadinya kecurangan ujian nasional di 8 provinsi.

Namun dari 37 laporan kecurangan yang masuk ke departemennya, ternyata tidak semua mengindikasikan terjadi kecurangan. “Ada beberapa daerah yang
ditemukan terjadi pelanggaran, tapi untuk kebocoran masih harus dilakukan penelitian lebih lanjut,” katanya dalam jumpa pers tentang laporan pelaksaan ujian nasional, di Gedung Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, Jumat
(04/05).

Ia mencontohkan, laporan yang menyebutkan terjadinya kebocoran soal Ujian Nasional di SMAN I Ranometo, Kendari, Sulawesi Tenggara, ternyata hanya
ketidaklengkapan soal Ujian Nasional yang diterima oleh 2 orang siswa. Dalam kasus ini, mendiknas meminta Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara untuk menegur Penerbit Pencetak Naskah Ujian Nasional serta memberikan sanksi
sesuai ketentuan yang berlaku. Hal serupa terjadi di Jawab Barat. Indikasi kecurangan berupa penyebaran jawaban soal ujian nasional melalu pesan singkat kepada para siswa di SMAN 9, SMAN 3, SMAN 5, dan SMAN 24 Bandung, seperti diberitakan beberapa media beberapa waktu lalu, ternyata pesan singkat tersebut dikirim oleh orang yang tidak bertanggung jawab. “Tidak ada
kebocoran disana,” katanya.

Sedangkan di Sulawesi Tengah, kecurangan yang terjadi di tiga sekolah, yaitu SMAN I Palu, SMK I Kota Palu, dan Madrasah Aliyah Al Khairaat Donggala, juga tidak bisa disebut sebagai kebocoran soal ujian. Sebab, yang terjadi hanyalah kekurangan soal ujian dan lembar jawaban ujian nasional, kesalahan naskah soal matematika, dan pelaksaaan Ujian nasional yang tidak sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. “Menteri Pendidikan Nasional telah meminta kepala dinas pendidikan provinsi untuk menegur secara tertulis kepada panitia Ujian Nasional dan memerberikan sanksi admisnistratif,” katanya.

Begitu juga dengan dugaan kebocoran soal ujian nasional di SMAN I, SMKN I, Man Model, SMAN 4, SMAN 5, dan SMAN 6 Kota Ternate, Maluku Utara, yang ternyata keliru. Menurutnya, persoalan yang terjadi di Maluku Utara hanya
pengiriman soal ujian nasional yang dilakukan seluruhnya dalam satu hari. Padahal, seharusnya soal ujian nasional tidaks dikirim dalam satu hari, melainkan tiga hari sesuai jadwal ujian. “Mungkin karena kondisi geografis
disana memang tidak memungkinkan soal dikirim setiap hari, tapi tidak ada kebocoran disana,” katanya.

Hal yang sama terjadi di SMAN 2 Banten. Dugaan ada kebocoran soal ujian disana pun keliru. Ficki Diaz Nevangga, siswa SMAN 2 Banten, yang ketika
ujian nasional berlangsung kedapatan sedang memainkan telepon selulernya, diduga mendapat jawaban melalui pesan singkat ke telepon selulernya. Setelah di investigasi, ternyata Ficki hanya bermain game.

“Dia termasuk siswa terpandai di Serang, Banten. Sehingga dia selesai mengerjakan soal dalam waktu satu jam. Dia memainkan hanphone untuk mengusir kejenuhan di dalam
kelas karena sebelum waktu ujian habis siswa memang dilarang keluar kelas,” katanya. Namun, meski tidak terbukti mencontek, Ficki tetap diwajibkan mengikuti ujian koreksi karena hasil ujiannya pada hari itu dibatalkan.

Kebocoran soal Ujian Nasional justru terjadi di SMAN 2 Tarogong, Garut. Guru dan kepala sekolah disekolah tersebut terbukti memberikan jawaban soal ujian
bahasa Inggris dan Matematika yang dilakukan 10 menit menjelang akhir waktu ujian. “Mereka diberikan sanksi hukuman disiplin sesuai Peraturan Pemerintah
No.30 Tahun 1980. Tahun depan, SMAN 2 Tarogong juga tidak lagi dijadikan Sub Rayon pada Ujian Nasional berikutnya,” katanya.

Selain itu, kebocoran juga terjadi di SMA PGRI 4 Ngawi, Jawa Timur. Modusnya, Kepala Sekolah SMA PGRI 4 mencuri naskah ujian nasional. Saat ini, menurutnya, departemen pendidikan nasional telah merekomendasikan agar
kepala sekolah tersebut diusut oleh polisi. “Karena sudah tindak pidana,” katanya.

Sedangkan aksi walkout yang siswa SMKS Dhuafa yang melakukan ujian nasional di di SMKN 5 Padang, Sumatera Barat, terjadi bukan karena perlakuan yang tidak adil yang diterima siswa, melainkan karena ketidaksiapan siswa dalam menghadapi ujian nasional. Ia menambahkan, untuk laporan kecurangan yang terjadi di Sumatera Utara, hingga kini pihaknya masih melakukan investigasi dan belum dapat memastikan jenis pelanggaran yang terjadi di wilayah
tersebut

Sumber:tempointeraktif.com

Ditulis dalam Berita. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: