Pagi-pagi teman (blooger) saya memberitahu keganjilan carut marutnya buku pelajaran, inilah informasinya.
Anda pernah melihat orang yang sedang tidur pulas?… kalau ngga lelah bisa juga sedang bermimpi jadi orang kaya. Wajahnya tanpa dosa, ngga tahu bahwa banyak orang sedang melihatnya. Itulah yang terjadi sama Diknas.
Sejak tahun 2004, saya mengajar Biologi dari jenjang SD-SMP-SMA. Disamping itu harus mengajar juga kesenian SD-SMP-SMA, kemudian juga IT SMP-SMA. Saya sendiri adalah sarjana Biologi Universitas Pendidikan Indonesia (dulu IKIP) Bandung. Jelasnya bukan guru kesenian murni atau guru IT murni.
Saya tidak akan panjang lebar, tulisan ini adalah bentuk keprihatinan saya terhadap para pembuat, penerbit dan ilustrator buku, khususnya buku pendidikan Kesenian. Ada satu hal kecil yang bisa menjadi besar bahkan menodai karya mereka dalam setiap edisi buku yang d terbitkannya.
Hampir setiap buku kesenian memiliki Head Title di depannya dengan tulisan besar dan tebal, contohnya:
- Kerajinan Tangan dan Kesenian untuk Sekolah Dasar
- SENI BUDAYA untuk SMP
Mohon maaf, saya sebagai orang awam, bukan seniman, dan bukan guru kesenian murni, ingin menyampaikan uneg-uneg yang saya simpan kurang lebih 5 tahun ini. Tadinya, saya berharap di setiap edisi ada perbaikan, padahal hampir disetiap Kata Pengantar buku penerbit selalu menuliskan kata-kata seperti ini:
“Kepada pimpinan penerbit, para editor, dan staf yang berupaya menyempurnakan buku ini sehingga layak untuk diterbitkan, Kami mengucapkan terima kasih. Akhirnya, kritik dan saran dari rekan-rekan pengajar serta khalayak sangat kami nantikan demi kemajuan dan kesempurnaan buku ini di masa yang akan datang”
Bahkan di Cover belakangnya ditulis besar-besar
KEUNGGULAN BUKU INI:
- Buku ini kaya akan berbagai contoh karya seni nusantara yang akan memberikan inspirasi siswa untuk berkarya seni
- Lewat Apresiasi Seni siswa diajak mengamati aneka karya seni dan hal-hal kehidupan sehari-hari lewat kacamata seni. Diharapkan kehalusan budi siswa dapat terasah lewat hal ini.
Saya jadi heran dan bertanya-tanya:
- Sejauh mana “Anda” berusaha untuk meningkatkan mutu penerbitan?
- Sejauh mana “Anda” berusaha untuk meningkatkan mutu Penulisan?
- Sejauh mana “Anda” berusaha menampung aspirasi demi perbaikan?
Kalau boleh saya bilang, maaf yah…isi buku kesenian dari hari kehari hanya modal copy paste doang (mungkin sebagian saja yang aktual). Saya perhatikan sejak 2004-sekarang. Tidak hanya itu, Ilustrasi gambar yang Anda muat sungguh sangat menyesatkan generasi pewaris budaya. Bagaimana generasi bangsa bisa cinta dan mengenal budaya kalau penyampaiannya tidak benar seperti itu.
Di bawah ini adalah contoh-contoh buku-buku yang memuat ilustrasi yang salah total. Karena saya orang Sunda yang hafal betul dengan bentuk dan fungsi alat musiknya (pernah sedikit belajar), maka dalam kesempatan kali ini saya hanya mencoba untuk mengoreksi alat-alat musik daerah yang berasal dari daerah saya. Baca entri selengkapnya »
Like this:
Be the first to like this post.