“Ah sekarang sudah hari Kamis lagi, Aku teringat kamis sore ketika menerima senyuman darinya, indah sekali sore itu, cuaca cerah, suasana romantis”, lelaki tua itu mengenang kembali pada hari Kamis yang pernah menjadi kenangan baginya.
“Aku masih merasakan hangatnya senyumanmu, aku masih merasakan indahnya tatapanmu, ah… senyum simpulmu, ah… lirikan mataku masih kuat menancap dihatiku, dulu dan sekarang aku tidak bisa melupakanmu”, lelaki tua itu terus mengenang wanita pujaannya.
Dia kembali membuka lembaran-demi lembaran catatan hidupnya, ada catatan kebahagiannya yang tersirat. Lelaki tua selalu membaca tulisan kenangan manis bersama wanita pujaanya. Dia cukup bahagia ketika melihat catatan hidupnya yang penbuh dinamika. Dina menikmati kehidupannya dengan iklhas.
Mentari sudah mulai bergeser ke arah barat, angin pun mulai meniupnya dari arah tenggara, lelaki tua itu masih menikmati rindangnya pohon dan indahnya bunga yang sedang mekar. Dia masih memiliki rasa cinta kasih yang masih mekar seperti bunga di taman itu. Dia masih punya kesejukkan hari seperti udara di pagi hari. Lelaki tua itu masih menunggi wanita pujaannya datang.
“Semakin hari semakin rindu, semakin kangen kepadamu”, lelaki tua itu berusaha menenangkan rasa rindu pada wanita pujaanya.





























No Comments Yet