Ternyata ada Dua Teks Proklamasi

Setahu saya Teks Proklamasi yang asli adalah yang biasa dibacakan setiap tangal 17 Agustus, ternyata ada dua naskah Teks Proklamasi, yaitu yang satu Teks Proklamasi yang sudah disiapkan sejak awal (sekang menjadi Pembukaan UUD 1945 dengan berbagai revisi) yang kedua adalah Teks Proklamasi yang dibuat secara darurat (yang selalu dibacakan setiap tanggal 17 Agustus).

imageTidak banyak di antara generasi muda di Indonesia yang mengetahui bahwa sebenarnya ada problem mendasar di sekitar peristiwa proklamasi Republik Indonesia. Adalah seorang tokoh sejarah bernama KH Firdaus AN yang menyingkap terjadinya pengkhianatan terhadap Islam menjelang, saat, dan setelah kemerdekaan. Menurut beliau semestinya ada sebuah koreksi sejarah yang dilakukan oleh ummat Islam. Koreksi sejarah tersebut menyangkut pembacaan teks proklamasi yang setiap tahun dibacakan dalam upacara kenegaraan.

Dalam penjelasan ensiklopedia bebas wikipedia, naskah proklamasi ditulis tahun 05 karena sesuai dengan tahun Jepang yang kala itu adalah tahun 2605.

Berikut isi teks proklamasi yang disusun oleh duet Soekarno-Hatta:

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05 Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta


Teks tersebut merupakan hasil ketikan Sayuti Melik (atau Sajoeti Melik), salah seorang tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapan proklamasi.

Proklamasi kemerdekaan itu diumumkan di rumah Bung Karno, jl. Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada 17 Agustus 1945, hari Jum’at, bulan Ramadhan, pukul 10.00 pagi.

Kritik KH Firdaus AN terhadap teks Proklamasi di atas :

1. Teks Proklamasi seperti tersebut di atas jelas melanggar konsensus, atau kesepakatan bersama yang telah ditetapkan oleh BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 22 Juni 1945.

2. Yang ditetapkan pada 22 Juni 1945 itu ialah, bahwa teks Piagam Jakarta harus dijadikan sebagai Teks Proklamasi atau Deklarasi Kemerdekaan Indonesia.

3. Alasan atau dalih Bung Hatta seperti diceritakan dalam bukunya Sekitar Proklamasi hal. 49, bahwa pada malam tanggal 16 Agustus 1945 itu, ‘Tidak seorang di antara kami yang mempunyai teks yang resmi yang dibuat pada tanggal 22 Juni 1945, yang sekarang disebut Piagam Jakarta, ‘ tidak dapat diterima, karena telah melanggar kaidah-kaidah sejarah yang harus dijunjung tinggi. Mengapa mereka tidak mengambil teks yang resmi itu di rumah beliau di Jl. Diponegoro yang jaraknya cukup dekat, tidak sampai dua menit perjalanan? Mengapa mereka bisa ke rumah Mayjend.

Nisimura, penguasa Jepang yang telah menyerah dan menyempatkan diri untuk bicara cukup lama malam itu, tapi untuk mengambil teks Proklamasi yang resmi dan telah disiapkan sejak dua bulan sebelumnya mereka tidak mau? Sungguh tidak masuk akal jika esok pagi Proklamasi akan diumumkan, jam dua malam masih belum ada teksnya. Dan akhirnya teks itu harus dibuat terburu-buru, ditulis tangan dan penuh dengan coretan, seolah-olah Proklamasi yang amat penting bagi sejarah suatu bangsa itu dibuat terburu-buru tanpa persiapan yang matang!

4. Teks Proklamasi itu bukan hanya ditandatangani oleh 2 (dua) orang tokoh nasional (Soekarno-Hatta), tetapi harus ditanda-tangani oleh 9 (sembilan) orang tokoh seperti dicantum dalam Piagam Jakarta. Keluar dan menyimpang dari ketentuan tersebut tadi adalah manipulasi dan penyimpangan sejarah yang mestinya harus dihindari. Teks itu tidak otentik dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Deklarasi Kemerdekaan Amerika saja ditandatangani oleh lebih dari 5 (lima) orang tokoh.

5. Teks Proklamasi itu terlalu pendek, hanya terdiri dari dua alinea yang sangat ringkas dan hampa, tidak aspiratif. Ya, tidak mencerminkan aspirasi bangsa Indonesia; tidak mencerminkan cita-cita yang dianut oleh golongan terbesar bangsa ini, yakni para penganut agama Islam. Tak heran banyak pemuda yang menolak teks Proklamasi yang dipandang gegabah itu. Tak ada di dunia, teks Proklamasi atau deklarasi kemerdekaan yang tidak mencerminkan aspirasi bangsanya. Teks Proklamasi itu manipulatif dan merupakan distorsi sejarah, karena tidak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Dalam sejarah tak ada kata maaf, karena itu harus diluruskan kembali teks Proklamasi yang asli. Adapun teks Proklamasi yang otentik, yang telah disepakati bersama oleh BPUPKI pada 22 Juni 1945 itu sesuai dengan teks atau lafal Piagam Jakarta.

Jelasnya, teks proklamasi itu haruslah berbunyi seperti di bawah ini:

PROKLAMASI
Bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia ini harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri keadilan. Dan perjuangan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke pintu gerbang Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka dengan ini rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Kemudian dari pada itu, untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia, yang melindungi segenap bangsa Indonesia, dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasarkan kepada ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jakarta, 22 Juni 1945

Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta, Mr. Ahmad Soebardjo, Abikusno Tjokrosujoso, A.A. Maramis, Abdul Kahar Muzakir, H. Agus Salim, KH. Wahid Hasjim, Mr. Muh Yamin.

KH Firdaus AN mengusulkan supaya dilakukan koreksi sejarah. Untuk selanjutnya, demi menghormati musyawarah BPUPKI yang telah bekerja keras mempersiapkan usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, maka semestinya pada setiap peringatan kemerdekaan RI tidak lagi dibacakan teks proklamasi ”darurat” susunan BK-Hatta. Hendaknya kembali kepada orisinalitas teks proklamasi yang otentik seperti tercantum dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945 di atas.

Benarlah Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam yang mensinyalir bahwa dekadensi ummat terjadi secara gradual. Didahului pertama kali oleh terurainya ikatan Islam berupa simpul hukum (aspek kehidupan sosial-kenegaraan). Tanpa kecuali ini pula yang menimpa negeri ini. Semenjak sebagian founding fathers negeri ini tidak berlaku ”amanah” sejak hari pertama memproklamirkan kemerdekaan maka diikuti dengan terurainya ikatan Islam lainnya sehingga dewasa ini kita lihat begitu banyak orang bahkan terang-terangan meninggalkan kewajiban sholat. Mereka telah mencoret kata-kata ”syariat Islam” dari teks proklamasi. Bahkan dalam teks proklamasi ”darurat” tersebut nama Allah ta’aala saja tidak dicantumkan, padahal dibacakan di bulan suci Ramadhan..! Seolah kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia tidak ada kaitan dengan pertolongan Allah ta’aala…!

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ

“Sungguh akan terurai ikatan Islam simpul demi simpul. Setiap satu simpul terlepas maka manusia akan bergantung pada simpul berikutnya. Yang paling awal terurai adalah hukum dan yang paling akhir adalah sholat.” (HR Ahmad 45/134) (eramuslim)

Sumber: http://swaramuslim.net/

About these ads

28 Tanggapan to “Ternyata ada Dua Teks Proklamasi”

  1. milassalmi Says:

    Terimakasih atas infonya Bang! Memang hal ini bisa dikatakan ceroboh. Tetapi apa boleh buat hal ini sudah terlanjur, maka compang-campingnya negara Indonesia terjadi hingga sekarang karena kecerobohan tersebut, kitalah yang mendapat imbasnya….may be yes ….may be not wallahu a’lam…

  2. Arsyad Salam Says:

    dulu ada polemik soal lagu Indonesia Raya, skarang teks proklamasi lagi. nanti apalagi yaa :)
    btw postingan Mas Awan selalu membawa pencerahan
    Salam

  3. tekafc Says:

    BK&Hatta mungkin ada pemikiran lain, karena mereka tidak mengayomi hanya satu agama dan satu suku. .

    coba berfikir tentang kebaikan yang ada sekarang dan coba mensyukuri kemerdekaan yang telah di perjuangankan oleh para pahlawan bangsa ini. Jangan hanya mencari kesalahan dari satu generasi yang telah memngorbankan harta, keringat, pikiran dan tenaga untuk bangsa tercinta INDONESIA…

    JANGAN TANYA APA YANG TELAH NEGARA BERIKAN KEPADA KITA,
    TAPI TANYA APA YANG TELAH KITA BERI KAPADA NEGARA. . .

  4. PATO Says:

    Untung, yg terdahulu…., kalo tidak kami-kami ini tidak bisa hidup tenang di bumi Indonesia tercinta ini, karena tidak boleh BERBEDA!!!

  5. PATO Says:

    Untung, yg terdahulu tidak jadi…., kalo tidak kami-kami ini tidak bisa hidup tenang di bumi Indonesia tercinta ini, karena tidak boleh BERBEDA!!!

  6. Catshade Says:

    Dalam sejarah tak ada kata maaf, karena itu harus diluruskan kembali teks Proklamasi yang asli.

    Maaf, dalam sejarah juga tidak ada kata ‘ralat’. Jadi suka atau tidak, itulah yang sudah terjadi. :D

  7. Wahyu Says:

    Sebenarnya memang begitu, didasarkan pada Islam , tapi karena Bung Karno melihat beragamnya suku dan agama di Indonesia, maka beliau membuat naskah pembukaannya seperti itu yang tidak sesuai dengan Piagam jakarta.

    Sekarang kita pikir, wong sudah ada toleransi, y masih pecah aja, coba kalo didasarkan hanya pada Islam (walau sebenarnya islam iku rahmatan lil alamin), negara kita bisa pecah.

    :))

    Tapi KHILAFAH STILL NUMBER ONE……

    Go Islammm!!!

  8. Din Says:

    Sebenarnya makna menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya bukan berarti tidak toleran. Namun, hal tersebut mewadahi aspirasi umat Islam sebagai MAYORITAS penduduk Indonesia.
    Hal tersebut bukan mengebiri kebebasan agama lain, tapi agar pemeluk Islam memiliki semacam kontrol / hukum yang jelas, dimana wajib dilaksanakan oleh ORANG ISLAM SAJA (dalam hal2 syariat). Sedangkan selain syariat, merupakan hukum yang universal, dalam arti berlaku bahkan bagi seluruh umat.

    Sekarang kita lihat, karena hukum seenak sendiri dibuat, maka seenak pula dilanggar. jika umat Islam diberlakukan syariat, saya kira korupsi akan sangat jarang terjadi, demikian pula tindakan2 kriminal lain.

    Juga bagi pemeluk agama lain, mereka tetap diberi hak2nya, termasuk kebebasan menjalankan syariatnya (ajaran agamanya).
    Konsep di atas mirip dengan konsep masyarakat madani, yaitu hukum Islam berlaku, namun tetap menghormati umat lain, sehingga terwujud kedamaian bersama.

    lain halnya jika negara ini bukan mayoritas Muslim, maka lebih bijaksana jika hukum yang diterapkan merupakan kesepakatan bersama, namun tetap ada koridor hukum yang mengatur syariat Islam yang wajib dilaksanakan bagi pemeluknya.

  9. abrur Says:

    terdapat beberapa kelemahan dalam mengambil kesimpulan yang dikemukan dalam artikel tentang teks proklamasi tersebut…..
    buat apa sih argument-argumen yang tidak perlu harus di bahas kembali…
    kalo emang punya kemampuan ya sudah… ciptakan donk suatu hal yang bisa membuat orang dapat menikmati manfaat dari ilmu dan kreativitas kita…bukan hanya omong sesuatu yang tak perlu…apalagi sejarah., toh para pelaku sejarah aja gak ribut tuh berjuang… ini baru punya informasi sedikit dah berani ambil kesimpulan negative & bawa-bawa ayat lagi…..cape deh ( orang orang begini yang buat islam itu jadi sempit)
    ….. jadi cobalah mulai sekarang buka wawasan dan belajar lagi agar kita mempunyai pola pikr yang arif….hehheh

  10. endro Says:

    indonesia terdiri dari beribu – ribu pulau, beragam ras dan agama. sebelum islam masuk ke indonesia, sudah ada tu agama hindu budha. Allah saja tidak menyuruh kita agar tidak boleh nenaksakan agama ” lakum dinukum waliyadin” agamu agamu agamaku agamaku. sesungguhnya perbedaan tu adalah suatu keindahan dlm NKRI. hidup indonesia…………….

  11. endro Says:

    indonesia terdiri dari beribu – ribu pulau, beragam ras dan agama. sebelum islam masuk ke indonesia, sudah ada tu agama hindu budha. Allah saja menyuruh kita agar tidak boleh memaksakan agama ” lakum dinukum waliyadin” agamu agamu, agamaku agamaku. sesungguhnya perbedaan tu adalah suatu keindahan dlm NKRI. hidup indonesia…………….

  12. andi-dobleh Says:

    agama..agama…

    senengnya kok agama dibuat bahan perselisihan sih..

    @Din
    Sekarang kita lihat, karena hukum seenak sendiri dibuat, maka seenak pula dilanggar. jika umat Islam diberlakukan syariat, saya kira korupsi akan sangat jarang terjadi, demikian pula tindakan2 kriminal lain.

    Fatwa MUI: korupsi itu haram.

    ngefek ga?

  13. jack Says:

    bah….ada ada aja dech kaum muslim ini. Emang negara ini cuman ada islam saja sehingga wajib ada syarikat islam huuuuuuuuuu..payah

  14. putra Says:

    Sudah kita ketahui bersama bahwa dalam pembukaan UUD 1945, piagam Jakarta telah disepakati untuk tidak dicantumkan. Jadi apa yang anda tulis di atas adalah hal yang tidak benar.

    Karena Naskah Proklamasi yang dibahas dan disepakati oleh anggota BPUPKI pada 14 Juli 1945 (tanggal yang bertepatan dengan Revolusi Prancis), selama kira-kira 76 menit, dari jam 13.30 – 14.46. adalah :

    “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan. Bangsa Indonesia di zaman dahulu telah mempunyai riwayat mulia dan bahagia, yang batas-batasnya meliputi seluruh kepulauan Indonesia sampai ke Papua, malah melampaui ke daratan Asia sampai ke batas-batas tanah Siam; negara merdeka, yang dalam perhubungan perdamaian dan persahabatan dengan negara-negara merdeka di daratan Asia, menyambut tiap-tiap bangsa yang datang dengan kemurahan hati.

    Kedatangan bangsa-bangsa Barat di Indonesia, membawalah bencana kepada bangsa Indonesia itu. Lebih dari tiga abad meringkuklah bangsa Indonesia di bawah kekuasaan Belanda dengan haluan politik jahat: memecah-mecah persatuan kita, menghina, menginjak-injak rasa kehormatan kita, menghina, menghisap-memeras kekayaan kita untuk kepentingan bangsa Belanda sendiri.

    Perkosaan yang jahat itu tidak dapat persambungan dalam dunia seterusnya, yang di dalamnya bertambah-tambah kehebatan perlombaan imperialisme Barat, berebut kekayaan segenap dunia. Dan lama-kelamaan bangkitlah kembali dengan sehebat-hebatnya semangat perlawanan bangsa Indonesia, yang memang tak pernah padam dan tak pernah dipadamkan, dalam lebih 3 abad perkosaan oleh imperialisme Belanda itu. Sejarah kolonialisme Belanda di Indonesa adalah sejarah berpuluh-puluh pemberontakan bangsa Indonesia melawan imperialisme Belanda itu. Bergeloralah lagi di dalam kalbu bangsa Indonesia tekad yang berkobar-kobar berbangkit kembali sebagai satu bangsa yang merdeka dalam satu negara yang merdeka, melahirkanlah pergerakan teratur dalam bangsa Indonesia, yang didasarkan atas cita-cita keadilan dan kemanusiaan, menuntut pengakuan hak kemerdekaan tiap-tiap bangsa. Tidak tercegah, tidak tertahan tumbuhnya, meluas dan mendalam pergerakan ini dalam segenap lapisan dan segenap barisan bangsa Indonesia, betapa pun kerasnya, betapa pun buasnya betapa pun ganasnya kekuatan pemerintah Belanda berikhtiar mencegah dan menindasnya.

    Di saat memuncaknya gelagat pergerakan itu yang seperti saat kelahiran anak dari kandungan ibunya, maka Tuhan Yan Maha Kuasa telah membelokkan perjaanan riwayat dunia, mengalih/memindahakn perimbangan kekuasaan di muka bumi, istimewa di daerah Lautan Teduh, untuk membantu pembinaan kelahiran itu.

    Tuntutan Dai Nippo Teikoku, bertentangan degnan tujuan-tujuan imperialisme Barat, yaitu tuntutan hak kemerdekaan Asia atas dasar persamaan hak bangsa-bangsa, serta politik yang dengan tegas dan tepat dijalankan olehnya, menuju pembangunan negara-negara merdeka dan lingkungan kemakmuran bersama Asia Timur Raya, akhirnya telah menyebabkan Dai Nipoon Teikoku menyatakan perang kepada Amerika Serikat dan Inggris. Perang Asia Timur Raya ini, yang berkebetulan dengan saat memuncaknya perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesa dan pergerakan kemerdekaan bangsa-bangsa Asia yang lain, menjadilah sebagai puncak pertemuan perjuangan kemerdekaan segala bangsa Asia di daratan dan di kepulauan Asia.

    Dengan mengakui dan menghargai tnggi keutamaan niat dan tujuan Dai Nipoon Teikoku dengan Perang Asia Timur Raya itu, maka tiap-tiap bangsa dalam lingkungan Asia Timur Raya atas dasar pembelaan bersama, wajiblah menyumbangkan sepenuhnya tenaganya dengan tekad yang sebulat-bulatnya, kepada perjuangan bersama itu, sebagai jaminan yang seteguh-teguhnya untuk keselamatan kemerdekaannya masing-masing.

    Maka sekarang, telah sampailah perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia kepada saat yang berbahagia, dengan selamat sentausa menghantarkan rakyat Indonesia, adil dan makmur, yang hidup sebagai anggota sejati dalam kekeluargaan Asia Timur Raya. Di depan pintu gerbang Negara Indonesia itulah rakyat Indonesia menyatakan hormat dan terima kasih kepada semua pahlawan-pahlawan kemerdekaannya yang telah mangkat.

    Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa, berdasar atas segala alasan yang tersebut di atas itu, dan didorong oleh keinginan luhur supaya bertangung-jawab atas nasib sendiri, berkehidupan kebangsaan yang bebas, mulia, terhormat, maka rakyat Indonesia dengan ini:

    MENYATAKAN KEMERDEKAAN.

    http://politikana.com/baca/2009/08/17/naskah-proklamasi-yang-asli.html

    Semoga jelas dan tak ada manipulasi sejarah.

  15. readyroto Says:

    LHA COPO SEMUA, KROCO! SEJARAH EMG TAK DAPAT DIRALAT, TAPI HARUS DIBUKA N DIKETAHUI. SALAH BERARTI TIDAK SAH! KROCO! BUKAN MASALAH ISLAM ATO NON, TAPI KESEPAKATAN ADALAH KESEPAKATAN, JADI HARUS IKOT SESUAI RAPAT BPUPKI, ITU KLO EMG MW IKOT HUKUM POSITIF(BUKAN SOAL ISLAM/NON). TOLOLNYA ORG SEKARANG, DITIPU TRUS DIBERITAU BENERNYA MALAH KEK TAI GT KOMENNYA! TOD AH, G TW TERIMAKASIH! DAH TQ. GUDBAI COPO2 . . . .

  16. nisanaceh Says:

    Bangsa Indonesia fokuskan aja pemberantasan korupsi dan mensejahterakan rakyatnya. Ciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya supaya tak ada lagi TKI dikirim keluar negeri.

  17. Indonesiano Says:

    ,dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya, ga ada masalah dengan kalimat itu apalagi ditegaskan dengan kalimat: bagi pemeluknya, mungkin karena masih ada bayang-bayang penjajah sehingga takut mencantumkan kalimat tersebut. sejarah tetap harus diluruskan, kemerdekaan harus dipertahankan, persatuan harus ditegakkan.

  18. lukas barnabas siberu Says:

    Catshade Says:
    Agustus 14, 2008 pukul 6:23 pm

    Dalam sejarah tak ada kata maaf, karena itu harus diluruskan kembali teks Proklamasi yang asli.

    Maaf, dalam sejarah juga tidak ada kata ‘ralat’. Jadi suka atau tidak, itulah yang sudah terjadi. :D
    ==============================

    memang tidak lazim kata ‘ralat’, tapi dimanapun didunia ini lazimnya menggunakan kata ‘pelurusan’. mengapa dikatakan pelurusan? karena sejarah yg salah dianggap sebagai sebuah distorsi (pembelokan/pembengkokan) sejarah sehingga kata yg tepat akhirnya digunakan ‘pelurusan’. semoga anda paham. rupanya anda jarang sekali membaca. tapi tidak apalah sudah berani berkomentar. walaupun terkesan emosional tanpa tau maksud penulisan diatas.

    ‘suka atau tidak itulah yg terjadi’…
    analogi : logikanya anda akan tetap menerima kenyataan sebagai anak seorang bajingan dari pada setelahnya anda tahu bahwa orang tua anda yang asli adalah dari golongan orang baik2, karena kemiskinan ortu anda maka anda diambil sebagai anak pungut dari bajingan itu. apakah tidak perlu diluruskan silsilah anda ini? apakah anda harus menerima suka atau tidak dari coretan sejarah itu?
    sebuah pemikiran pragmatis.
    syalom!

  19. Yuyun Says:

    Yg ptg Sdh merdeka dan bagaimana mengisi kemerdekaan dgn hal 2 yg bermanfaat dan tdk melanggar ajaran agama masing2..

  20. katon Says:

    Jangan diperdebatkan masalah sejarah yang sudah terjadi,,, sekarang tinggal bagimana kita mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang baik dan positif, Saya gak yakin jika Syariat itu tetap dicantumkan dalam teks proklamasi maka umat Islam tidak akan korupsi, dll.. Semua tergantung dari keimanan dan ketakwaan orangnya,, Contoh Tuch FPI,,,from Penjahat Indonesia

  21. andre Says:

    wew..yang seperti ini dibahas segitu emosionalnya…ckckckk..
    “lukas barnabas siberu Says:
    Agustus 17, 2010 pukul 9:12 am
    ‘suka atau tidak itulah yg terjadi’…
    analogi : logikanya anda akan tetap menerima kenyataan sebagai anak seorang bajingan dari pada setelahnya anda tahu bahwa orang tua anda yang asli adalah dari golongan orang baik2, karena kemiskinan ortu anda maka anda diambil sebagai anak pungut dari bajingan itu. apakah tidak perlu diluruskan silsilah anda ini? apakah anda harus menerima suka atau tidak dari coretan sejarah itu?
    sebuah pemikiran pragmatis.
    syalom!”
    ===========================
    Begini ya…, statement Anda salah juga. Tidak bisa mengkaitkan sebuah sejarah besar (Negara & Bangsa) dengan sejarah manusia secara individu (silsilah keluarga).
    Sudah beda konteksnya bro…
    Kl harus di luruskan sejarah bangsa & negara Indonesia, bisa-bisa sampai sejarah jaman kerajaan yang kita ketahui selama ini jg manipulasi dong.
    Kl memang benar seperti itu, Anda bersedia mengubah sejarah Anda sendiri?? Termasuk Akta lahir, KTP, Ijasah, dsb.

  22. andre Says:

    Ribut mengenai agama & sejarah???
    Malu dengan negara tetangga. Lihat negara serumpun dengan kita Indonesia.., damai, rukun dan sejahtera dengan ke-aneka ragaman yang ada. Mereka bersatu padu, memiliki toleransi yang tinggi dan pemahaman akan perbedaan yang sangat baik & luwes.
    Tau kenapa kita bangsa & rakyat Indonesia sangat senang dengan hal-hal yang sepele seperti ini?
    Karena kita dahulu lama dijajah oleh Belanda (politik adu domba).
    Coba kita dahulu lama dijajah oleh Inggris.., mungkin tidak seperti ini. Bisa saja seperti negara-negara eks dijajah oleh Inggris. Pintar, maju dan makmur sejahtera.
    mari kita bersama-sama memajukan Bangsa, Negara & rakyat Indonesia tercinta ini.

  23. Husni Says:

    tekafc Says:
    Agustus 14, 2008 pukul 11:24 am

    BK&Hatta mungkin ada pemikiran lain, karena mereka tidak mengayomi hanya satu agama dan satu suku. .

    coba berfikir tentang kebaikan yang ada sekarang dan coba mensyukuri kemerdekaan yang telah di perjuangankan oleh para pahlawan bangsa ini. Jangan hanya mencari kesalahan dari satu generasi yang telah memngorbankan harta, keringat, pikiran dan tenaga untuk bangsa tercinta INDONESIA…

    abrur Says:
    September 1, 2008 pukul 11:41 am

    terdapat beberapa kelemahan dalam mengambil kesimpulan yang dikemukan dalam artikel tentang teks proklamasi tersebut…..
    buat apa sih argument-argumen yang tidak perlu harus di bahas kembali…
    kalo emang punya kemampuan ya sudah… ciptakan donk suatu hal yang bisa membuat orang dapat menikmati manfaat dari ilmu dan kreativitas kita…bukan hanya omong sesuatu yang tak perlu…apalagi sejarah., toh para pelaku sejarah aja gak ribut tuh berjuang… ini baru punya informasi sedikit dah berani ambil kesimpulan negative & bawa-bawa ayat lagi…..cape deh ( orang orang begini yang buat islam itu jadi sempit)
    ….. jadi cobalah mulai sekarang buka wawasan dan belajar lagi agar kita mempunyai pola pikr yang arif….hehheh

    ==========================================

    Saya suka 2 komentar di atas ini…
    Itu baru cerminan orang-orang yang mikirnya tuh “KE DEPAN”… dan memang seharusnya begitu cara berpikir orang Indonesia yang benar.

    Orang-orang yang berpikir sempit tidak akan pernah bisa menerima apa yang namanya “PERUBAHAN”… Maunya tuh diam di tempat dan kalau bisa mundur sekalian, sehingga jelas-jelas bakal kagak maju-maju… hehehe.

    Suka atau tidak, TEKS PROKLAMASI yang benar sesuai FAKTA SEJARAH adalah yang dibacakan Bung Karno pada 17 Agustus 1945… dengan TEKS itu Indonesia menyatakan kemerdekaan bangsanya. Piagam Djakarta itu tinggal kenangan, meski memang awalnya sudah disiapkan. Maaf saja, fakta tidak selamanya sesuai rencana… dan itu juga seijin Yang Maha Kuasa kok…hehehe.

    Justru saya amat menyayangkan orang-orang picik yang tidak bisa menerima kenyataan lalu kecewa dan bahkan berontak merusak negara dan mengorbankan yang tidak berdosa… seolah-olah hanya kepentingan golongannya saja yang harus dipikirkan dan dibangun oleh negara ini. Orang-orang picik semacam inilah yang tidak bisa menerima fakta sejarah dan berusaha mundur lagi ke titik nol untuk melangkah lagi… alamak! Makin ketinggalan atuh…

    Fakta adalah fakta… itulah kenyataan sejarah. TEKS PROKLAMASI yang dipakai menyatakan kemerdekaan Indonesia adalah yang dibacakan Bung Karno pada 17-08-1945. Tidak bisa diubah lagi. Tidak usah berandai-andai kalau saja Piagam Djakarta itu yang dipakai maka negara ini bakal jadi lain… lalu bertindak bodoh memaksakan hal tersebut di jaman sekarang, misalnya mengamandemen UUD atau mengganti bacaan teks proklamasi pada upacara perungatan HUT RI… konyol tuh namanya.

    Mendingan sekarang tuh mari bersama-sama melanjutkan hal-hal positip yang sudah dicapai selama ini, kalau perlu ditingkatkan lagi… Buatlah kehidupan bernegara ini jadi lebih baik bagi semua warga negaranya yang beragam latar belakangnya… Jangan mikir yang aneh-aneh kayak gini lagi… apalagi berniat kembali ke masa lampau…hehehe… Good Luck.

  24. andre Says:

    babi, anjing, asu

  25. islami Says:

    gak usah diperdebatkan tek proklamasi yg singkat, yg penting sudah mendeka, walaupun panjang kalau dipolitisir jg gak benar

  26. temmy Says:

    coba saja kalau para pemimpin kita terdahulu seperti kalian yang memperdebatkan teks proklamasi maka kemungkinan besar Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak akan pernah ada di muka bumi ini dan tidak akanyang telah di pernah diakui keberadaannya oleh negara lain, karena jika pemimpin kita terdahulu berdebat terus seperti yang kita perlihatkan selama ini maka mereka tidak akan pernah sempat untuk memproklamirkan negara ini, jadi syukuri apa yang telah dilakukan oleh pemimpin pemimpin kita terdahulu sehingga negara kita bisa MERDEKA

  27. suci Says:

    apakah bener seperti itu adanya ?
    berarti selama ini kita sudah membacakan teks proklamasi yang hampa donk????????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.636 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: