Seputar Proklamasi #3: Laksamana Maeda

Kesibukan luar biasa tampak di sebuah rumah berlantai dua di Jl Teji Meijidori No 1. Terlihat puluhan pemuda bergerombol, ada yang duduk-duduk di teras rumah tersebut. Ada pula yang duduk-duduk di rumput pekarangan sambil mengobrol. Mereka menampakkan wajah yang serius, tanpa memperdulikan sengatan angin dingin pada dini hari menjelang subuh. Para pemuda ini dengan sabar tengah menunggu apa yang akan diputuskan oleh para pimpinan mereka di lantai satu rumah tersebut.

Peristiwa diatas bukan terjadi di Jepang. Tapi di Jakarta. Yang disebut Jl Teji Meijidori No. 1 (kini Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat), adalah kediaman Laksamana Tadashi Maeda, panglima AL Jepang di Indonesia. Di kediaman petinggi militer Jepang inilah, Bung Karno, Bung Hatta, dan para tokoh pergerakan kemerdekaan, tengah menyusun teks proklamasi. Mereka seolah-olah bergelut dengan waktu, karena teks proklamasi itu akan dibacakan pagi harinya, 17 Agustus 1945. Detik-detik menjelang proklamasi itu, memang menegangkan bagi para pemuda itu.

Pada 14 Agustus petang, Syahrir memberitahukan kepada Bung Karno dan Hatta, yang bersama dengan dr Radjiman Wedyodiningrat baru pulang dari Dallath, Vietnam memenuhi undangan Panglima Tertinggi Tentara Jepang di Asia Tenggara. Pemberitahuan itu tentang kekalahan Jepang dari Sekutu. Tak ada yang tahu berita ini, kendati kekalahan Jepang itu sudah terjadi pada 6 Agustus 1945, ketika bom atom pertama membakar Hiroshima. Sebanyak 70 ribu dari 350 ribu penduduk Hiroshima, tewas. Jepang kian takluk ketika bom atom kedua dijatuhkan ke kota Nagasaki, menewaskan 75 ribu penduduknya.

Kekalahan ini sangat dirahasiakan di Indonesia. Waktu itu rakyat hanya boleh mendengar berita-berita yang bersumber dari Jepang yang kebanyakan berisi propaganda. Semua radio disegel dan mereka yang mendengar siaran luar negeri dianggap ‘mata-mata musuh’ dan bisa dihukum mati. Ditengah-tengah ancaman ini, ada gerakan dibawah tanah dipimpin Sutan Syahrir yang mendengar kekalahan Jepang.

Setelah dicek kepada Laksamana Maeda di kantornya di Merdeka Timur (Direktorat Jenderal Perhubungan Laut), petinggi Jepang ini membenarkan berita tersebut. Namun ia menegaskan belum menerima kabar langsung dari Tokio. Bung Karno yang menginginkan agar proklamasi kemerdekaan diputuskan oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), menolak usulan para pemuda revolusioner yang mendatangi kediamannya di Jl Proklmasi 57, pada 15 Agustus pukul 22.00.

Para pemuda yang diwakili oleh Wikana dan Darwis, meminta agar kemerdekaan diproklamasikan malam itu juga. Wikana dengan nada mengancam mengatakan, bila Bung Karno enggan memaklumkan kemerdekaan malam ini juga, niscaya akan meletus pertempuran keesokan harinya. Mendengar omongan ini, memicu kemarahan Bung Karno. “Apakah saudara sudah siap betul-betul melancarkan suatu revolusi? Kalau gagal, bagaimana ? Bukankah rakyat nanti menjadi korban?” Bung Karno menghardik Wikana. Nyali Wikana tak surut menerima sergahan. “Rakyat siap berontak. Pemuda yang akan memimpin pemberontakan rakyat,” kata Wikana memotong tajam ucapan Bung Karno.

Kelancangan Wikana ini mengobarkan api kemarahan Bung Karno. Bangkit dari tempat duduknya, halilintar kemarahan pun memecah keheningan ruangan : “Biar digorok leherku, aku tidak akan memproklamirkan kemerdekaan malam ini, besok atau kapan saja. Kamu jangan coba-coba mengancam aku, ya!” Bung Karno menghardik Wikana.

Setelah Wikana dan Darwis melaporkan kepada para pemuda hasil pertemuannya di kediaman Bung Karno, maka Kamis 16 Agustus pukul 04.00 Bung Karno dan Bung Hatta diungsikan ke Rengasdenglok, Karawang, Jabar. Mr Achmad Subardjo menjemput keduanya untuk kembali ke Jakarta. Mereka tiba di kediaman masing-masing pukul 23.00. Bung Karno mengantar Ibu Fatmawati dan Guntur yang masih bayi, dan kemudian menuju ke kediaman Laksamana Maeda.

Demikian juga Bung Hatta. Di rumah perwira tinggi AL Jepang ini sudah banyak orang berkumpul, termasuk para anggota PPKI. Bung Karno dan Bung Hatta diantar Laksamana Maeda menemui Mayor Jenderal Nishimura. Maksudnya, untuk mengetahui sikap perwira tinggi AD Jepang tentang pengumuman proklamasi. Pati AD Jepang itu berpendirian sesuai dengan peraturan internasional bahwa setelah menyerah pada Sekutu, tentara Jepang harus memelihara status quo. Tidak boleh mengadakan perubahan apa-apa. Akhirnya, Bung Karno dan Bung Hatta mengambil kesimpulan tidak perlu lagi mengadakan pembicaraan dengan pihak Jepang.

Mereka kembali ke rumah Laksamana Maeda. Jam menunjukkan 17 Agustus pukul 02.00. Maka disusunlah teks proklamasi. Rumusan itu ditulis di atas kertas buku catatan bergaris biru, dari seorang hadirin. Rampung, Bung Karno meminta persetujuan yang hadir. Gemuruh suara menyatakan setuju. Teks proklamasi kemudian diketik Sayuti Melik, di dekat dapur kediaman Laksamana Maeda. Rapat berakhir pukul 04.00. Dan pukul 10.00 pagi pun Indonesia sudah merdeka.

Sumber: http://swaramuslim.net/

About these ads

3 Tanggapan to “Seputar Proklamasi #3: Laksamana Maeda”

  1. Bella Annisha Al Hayyu Says:

    Thank you, because of you my homework is complete!!!!!!!!!!!

  2. hera Says:

    yang baaaagggussss dooonnnk……

  3. Halim Says:

    Pls informasikana data detail mengenai tang gala Lahore Dan meninggal nay laksamana Tadashi Maeda.

    Thanks


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.692 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: