Ibarat air di daun keladi
Walaupun tergenang tetapi tak meninggalkan kesan
Pabila tersentuh dahannya bergoyang
Air pun tertumpah tercurah habis tak tinggal lagi

Begitu juga cintamu padaku
Cinta hanya separuh hati kau lepas kembali
Nanti disuatu masa kau juga kan merasa
Betapa sakitnya hati kecewa karena cinta

Bila kau lihat
Pemuda yang lebih gaya
Cintamu pun segera
Berpindah kepadanya

Tapi biarlah kau cari yang lain
Kan kau buat sebagai korban cinta palsu hampa
Nanti disuatu masa kau juga kan merasa
Betapa sedihnya hati kecewa kerana cinta

“Ah.. lirik lagu di atas menambah sedih hati ini bila mengenang masa lalu yang pahit karena cinta” lelaki tua itu meratapi kehidupannya. Lalu dia membaca surat dari wanita pujaannya.

“Jika dulu kau terus terang padaku tentang cintamu padaku, pasti tidak akan begini jadinya”, lelaki tua itu menatap jauh ke depan, dalam hatinya dia semakin kosong, hatinya semakin hampa, cintanya hampa tanpa isi.

“Dulu aku au terang padamu, dirimu sudah menolak duluan… mengapa dirimu melontarkan pernyataan seperti itu? Perasaanku semakin tersiksa oleh kerinduan padamu, apakah dirimu masih merindukanku?” gumam lelaki itu.

Angin Agustus yang dingin menusuk tubuh lelaki itu, mentari semakin panas menyinari bumi, dedaunan pun mulai layu, sepeti layunya usia lelaki tua itu yang terus menunggu wanita pujaanya.

“Kisah ini hanya kita berdua yang tahu” gumam lelaki tua itu pada surat yang dipegangnya.


Leave a Comment