Pedulikah Kita Kepada yang Melindungi Kita?

Kesejukan, keteduhan adalah suasana yang sering kita dambakan. Ketika sedang ditengah panas terik, kita selalu mencari tempat yang rindang, agar badan kita merasa teduh, dan sejuk. Begitu pula jika kita sedang situasi pikiran, hati, emosi kita ‘panas’ pasti mencari teman yang bisa menyejukkan suasana.

Begitu juga ketika saya sedang jalan-jalan di sekitar taman kota Kuningan, ternyata di sana menyediakan termpat berteduh meskipun tidak secara langsung.


Para pengunjung taman kota berteduh di balik bokor raksasa. [Pernahkah kita berpikir siapa yang mempunyai ide, yang membangun bokor tersebut, sehingga kita bisa berteduh di dekatnya?


Pohon yang masih kecil pun cukup memberikan keteduhan, ah nikmatnya berteduh di bawah pohon yang (masih) pendek. Ingatkah kita pada yang membuatnya?

Bagaimana kalau pohon ini sudah besar dan tinggi akankan memberikan keteduhan? Atau akankan pohon ini memberikan keteduhan selama-lamanya, lalu siapakah yang peduli pada pohon yang memberikan keteduhan?

Ah… saya kok banyak bertanya….

Kapan ya saya bisa menjadi pelindung keluarga, anak-anakku? Mudah-mudahan bisa, dan akan mencoba terus diusahakan.

Menunggu Kereta Senja di Monas

Kereta senja tlah tiba di depanku
Semakin sedih rasa hati ini
Tak dapat kuberkata hanyalah airmata
Membasah di pipiku ini

Kau belai rambutku dan kauusap pipiku
Terucap slamat tinggal untukku
Tak sanggup hati ini berpisah denganmu
Semakin deras airmataku

Kereta senja tlah membawa dirimu
Bilakah engkau kembali
Di sini aku rindu menanti dirimu
Hanyalah dirimu yang kuharapkan

Jangan bersedih dan jangan kau menangis
Percaya akan janji suciku
Cinta dan rindu ini hanyalah untukmu
Kereta senja akan kembali

Ketika saya memutar kembali lagu-lagu lama, terdengar lagu “Kereta Senja”, rasanya mengenang saya ketika mau pulang dari Jakarta [Stasiun Gambir] ke Kuningan dengan kereta. Waktu itu saya tiba pukul 14.00 di Gambir kemudian bertemu teman lama, akhirnya saya harus naik kereta senja (Cirebon Ekspres yang pukul 18.30).

Karena teman tidak menemani sampai sore, hanya bertemu sebentar akhirnya saya jalan-jalan sendiri ke daerah Monas.

Ternyata saya masih menemukan keindahan di daerah Monas dengan adanya taman bunga yang selalu dijaga dan dirawat dengn baik. Ah… rasa cape muli hilang ketika melihat pemandangan yang indah.

Kerita kereta senja telah tiba, saya bergegas untuk meninggalkan Jakarta menuju Kuningan.

Tahu Gejrot yang Menggoda


Makanan ringan yang berupa tahu banyak macamnya terutama di kota Kuningan, ada tahu Lamping, tahu Kopeci [yang ngetop di kota Kuningan], tahu Sumedang [di kuningan ada tahu kota lain], tahu basah, tahu kering, tahu kecap/hucap [yang isinya kupat dan kecap, padahal namanya tahu kecap] dan yang paling khas adalah Tahu Gejrot.

Saya tidak tahu asal mula tahu gejrot, yang jelas tahu ini memang menggoda, bentuknya kecil-kecil isinya hanya sedikit, kulitnya agak keras. Dikatakan tahu gejrot karena disajikan dalam piring kecil kemudian diberu bumbu yang berupa jairan.


Pokoknya enak sakali apalagi akalu pake bawang merah yang agak banyak bisa untuk obat masuk angin. Bumbunya air gula, bawang merah, garam, kecap asin, cabe rawit… pokoknya nikmat.


Makan tahu gejrot yang spesial di kota Kuningan. Ada yang mau?

Mejeng Bersama Siswaku dan Mantan Siswaku

Rasanya senang dan bahagia sekali jika anak didik saya ada yang berprestasi atau berhasil, dan alangkah lebih bahagia lagi ketika mereka sudah lulus dan tidak melupakan saya. Seperti halnya salah satu mantan siswaku yang agak “agresif” dalam pembelajaran ketika itu, sekarang sudah jadi karyawan salah satu Bank Pemerintah.

Ketika ada acara dia menyapa dan memberi senyuman dan menyapa, ‘Siang Pak,…’ sapaan itu yang terasa bahagia dihati saya, lama-lama minta difoto berdua… asyik juga…

Berbeda dengan siswaku yang masih aktif, mereka jarangan menyapa, karena sering bertemu di sekolah. Tapi ketika ada acara dan saya bawa peralatan dokumentasi baru mereka pada mau difoto, ya terpaksa saya mejeng bersama mereka.

Mejeng bersama kedua Mayoret Marching Band

Akhirnya saya merenung: Apakah saya masih ingat-ingat pada guru-guru saya mulai dari TK, SD, SMP, SMA yang telah membimbing saya sampai seperti ini? Ah… ternyata saya masih sombong dan bahkan melupakan guru-guru itu, karena saya bisa begini hasil jerih payah sendiri. Maafkan saya atas segala kesalahan, kesombongan pada guru-guru saya yang begitu iklas, tulus dan soleh dalam mendidik saya.

[Ah.. jadi semakin malu dan merasa bersalah pada guru-guru saya itu...]

Bagaimana dengan para pembaca yang budiman?

Ditulis dalam Pribadi. Tag: , . 4 Komentar »

Cinta yang Hampa

Ibarat air di daun keladi
Walaupun tergenang tetapi tak meninggalkan kesan
Pabila tersentuh dahannya bergoyang
Air pun tertumpah tercurah habis tak tinggal lagi

Begitu juga cintamu padaku
Cinta hanya separuh hati kau lepas kembali
Nanti disuatu masa kau juga kan merasa
Betapa sakitnya hati kecewa karena cinta

Bila kau lihat
Pemuda yang lebih gaya
Cintamu pun segera
Berpindah kepadanya

Tapi biarlah kau cari yang lain
Kan kau buat sebagai korban cinta palsu hampa
Nanti disuatu masa kau juga kan merasa
Betapa sedihnya hati kecewa kerana cinta

“Ah.. lirik lagu di atas menambah sedih hati ini bila mengenang masa lalu yang pahit karena cinta” lelaki tua itu meratapi kehidupannya. Lalu dia membaca surat dari wanita pujaannya.

“Jika dulu kau terus terang padaku tentang cintamu padaku, pasti tidak akan begini jadinya”, lelaki tua itu menatap jauh ke depan, dalam hatinya dia semakin kosong, hatinya semakin hampa, cintanya hampa tanpa isi.

“Dulu aku au terang padamu, dirimu sudah menolak duluan… mengapa dirimu melontarkan pernyataan seperti itu? Perasaanku semakin tersiksa oleh kerinduan padamu, apakah dirimu masih merindukanku?” gumam lelaki itu.

Angin Agustus yang dingin menusuk tubuh lelaki itu, mentari semakin panas menyinari bumi, dedaunan pun mulai layu, sepeti layunya usia lelaki tua itu yang terus menunggu wanita pujaanya.

“Kisah ini hanya kita berdua yang tahu” gumam lelaki tua itu pada surat yang dipegangnya.