+ Kamu lulus?
- Ya lulus
+ Berapa rata-rata nilai UN-nya?
- Lumayan 9,00
+ HAAAAAAAAH, ketika aku dulu EBTANAS rata-rata paling besar 8,00
- Kalau temenku rata-ratanya 9,75
+ Jadi ada yang nilai 10, ya…?
- Ya ada beberapa mata pelajaran yang sempurna, nilainya 10
+ Memang soalnya mudah?
- Gak juga, ya yang sudah banyak yang mudah juga ada
+ Kamu bangga mendapat nilai yang besar?
- Bangga? em……. gak juga, malah heran saja, kok saja bisa dapat nilai 9 ke atas?
+ Kok heran?
- Setelah saya perhitungkan dengan matang, nilainya paling-paling juga dapat 6 atau 7 yang jelas asal dia tas 5,5.
+ Atau memangnya soalnya mudah ya? Ah,… selamat deh buat kamu yang mendapat nilainya diatas 9
- Terima kasih
Keduanya termenung memikirkan nilai Ujian Nasional yang sangat “fantastis” yang satu memikrikan apakah soalnya sangat mudah, yang satu memikirkan dari mana dia dapat nilai diatas 9 bahkan ada yang 10.
Keduanya lalu memikirkan potensi dirinya masing-masing, bisa apa untuk mempertahankan hidupnya, mereka kembali ke tempat masing-masing. Dan keduanya tidak merasa bangga dengan nilai yang sangat besar itu.
Itulah satau potret pendidikan kita, bisa jadi nilai UN nanti akan dinaiikan lagi, atau ini memang untuk menaikkan nilai kelulusan tahun depan? Tapi coba lihat bagaimana yang mendapat rata-rata UN-nya di bawah standar?

























Juni 20, 2008 at 9:05 am
Sekarang siswa yang mendapat nilai rendah langka. Tapi sayangnya bukan realitas meningkatnya mutu pendidikan. Sandy Guswan (www.guswan76.wordpress.com)
Juni 20, 2008 at 9:07 am
@guswan76: Trus untuk apa nilai hasil UN yang besar2 itu?