“Pagi, tuh fajar telah menyambutmu” sang embun menyapa lelaki yang masih duduk di bawah pohon rindang. Tapi lelaki itu masih duduk terdiam, membiarkan sang embun meneskan air kesejukan pada dirinya.
“Ah… segarnya embun telah menestekan air kesejukan pada diriku, sejuknya embun ini sesejuk senyum simpulmu, indahnya fajar di ufuk timur seindah tatapan matamu yang tajam.” gerutu lelaki itu.
“Apakau kau akan tetap seperti kemarin, aku bersama mentari akan menghangatmu, dan kamu akan tetap terdiam di sini?”, tanya angin pagi.
“Ah… segarnya angin pagi bersama mentari yang mulai mengahatkan tubuhku, hatikupun juga hangat karena ada namamu dihatiku”, lelaki itu menggerutu sendiri.
Lelaki itu menancapkan kesetiaan untuk menunggu datangnya seseorang yang sudah lama dia tunggu. Dia sudah lama menunggu berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan sudah ratusan bulan dia menunggunya di sana.
Ternyata kesetiaan lelaki sangat kuat.





























Juni 12, 2008 at 1:55 pm
untukku?
hahaha…
Juni 12, 2008 at 2:01 pm
@nengthree: ya untuk seseorang, ada deh…… emang mau…. ?
Juni 13, 2008 at 2:10 pm
Aku datang hari ini! karena kamu setia.
Juni 13, 2008 at 3:46 pm
@millasalami: trims atas kesetiaan untuk berkunjung ke blog ini
Juni 16, 2008 at 11:49 pm
sumpeh loe sumpeh loeeeeeeeeeee heuhuehuehue
Juni 17, 2008 at 6:40 am
@natazya: itu bukan sumpah, tapi sebuah niat yang tulus, karena kalau bersumpah suka dilanggar.. tapi kalau niat pasti akan usahakan sampai berhasil.
Juni 19, 2008 at 12:53 pm
Embun pagi..
Memang indah kang,…tapi….tapi….
Jeleknya dia…sirna tanpa meninggalkan jejak sesaat mentari terbit..
cheers,..
Juni 19, 2008 at 1:26 pm
@kang yudi: itulah kalau yang itu hilang tanpa meninggalkan bekas