Hai, sudah sore, lembayung pun sudah mau ke tempat peraduannya!”, angin membisik kepada lelaki itu.

Tetapi lelaki itu masih tetap juga berdiam diri di bawah pohon rindang. Dia berharap rembulan dan bintang mengabari tentang seseorang yang ditunggunya. Dia masih ada harapan untuk mencoba bersabar menungu.

“Hai, aku angin siang yang masih memberikan kesejukan, dan aku akan segera kembali, dan aku akan digantikan dengan angin malam, angin yang mungkin akan membuatmu tidak enak badan”, angin memperingatkan lelaki itu.

Tetapi lelaki itu semakin asyik melihat langit untuk menyambut sang dewi malam bersama bintang yang menghiasi langit.

Itulah sebuah kesetiaan yang kadang-kadang tidak memperdulikan lagi sekelilingnya.


  1. salam
    Kesetiaan ya, kenapa ya kok saya percaya bahwa kesetiaan sejati itu ga akan pernah ada, bahkan kepada Sang pencipta, kadang ada-saat-saat berpaling. juga he..he..

  2. @nenyok: ya yang sejati hanya millik-Nya, kita hanya memiliki yang buka sejatinya saja. :D

  3. setia itu bikin lelah…

  4. @kucingkeren: hohoho, jadi kalau orang lain untuk setia, berarti kita sudah melelahkan orang lain ya…. kacian deh aku…. :D

  5. hanya kesetiaanlah yang mampu menetapkan langkah kita pada satu arah

  6. @jiwakelana: kesetiaan itu adalah pengorbanan dan sebuah niat yang bulat serta tekad yang kuat :D

  7. akan tetapi sangat jarang orang yang memilikinya, konon lagi menghargainya… bener gak sih.. aq ngawur ya..

  8. @jiwakelana: ya, yang memiliki kesetiaan adalah malaikat (yang patuh menjalankan perintah-Nya) dan iblis (yang setia pada janjinya untuk menggoda manusia) :D

  9. klo mmbobol nya pake cara ilegal dan ga pake aturan apakah masih kategoti hebat pak??

  10. @nung: itulah sebuah kehabatan kadang tidak diukur dengan nilai kebenaran, tapi dengan keberhasilan (baik itu jahat atau baik). :D




Leave a Comment