Ketika saya memainkan “keyborad” Korg PA-50 dan belajar mengiringi lagu-lagu langgam dan keroncong, saya mencoba mengingat sebuah notasi lagu “Bengawan Solo”. Ternyata ketika ditengah-tengah lupa lagi, maklum bukan musisi, dan tidak mahir bermain musik. Ya dengan terpaksa mencari buku notasinya, ya akhirnya ketemu. Ketika membaca notasinya saya juga membaca syiar lagunya. Tiba-tiba saya berhenti memainkan “keyboard”nya. Saya langsung mencari tentang bengawan solo, dan ditemukan informasinya seperti ini.
Bengawan Solo, sungai terbesar dan terpanjang serta sangat melegenda di pulau Jawa, alirannya bermula dari beberapa sungai musiman di kaki gunung Ukiratawu, Pacitan, Jawa Timur. Sungai-sungai kecil tersebut kemudian menyatu di perbatasan Pacitan dan Wonogiri, tepatnya di dusun Muning, desa Jeblogan, Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Wonogiri. Hulu sungai Bengawan Solo lebarnya sekitar 10 meter pada saat pasang (penghujan) dan sekitar 5 meter saat kering (kemarau). Sungai yang berdasarkan pantauan perangkat Global Positioning System (GPS) terhitung sepanjang 527 Km, membentang dari Jawa Tengah sampai Jawa Timur dan mengalir melalui 11 (sebelas) Kota/Kabupaten. Pada jaman dulu sungai ini menjadi urat nadi perdagangan dan sarat dengan pesona wisata, tak heran seniman Gesang sampai menciptakan sebuah lagu yang kemudian menjadi sangat populer di seluruh dunia dan menjadi ikon tentang kota Solo. Sampai saat ini, Bengawan Solo masih memberikan kontribusi untuk kehidupan masyarakat seperti pasir dan lumpurnya untuk bahan bangunan dan pembuatan batu bata, sementara airnya dijadikan sebagai bahan baku sejumlah instalasi perusahaan daerah air minum.

Berikut petikan syair lagu Bengawan Solo yang diciptakan seniman gesang pada tahun 1949 selama 6 bulan
Bengawan Solo
Riwayatmu ini
Sedari dulu
Jadi perhatian insani
Tak seberapa airmu
Di musim hujan
Air meluap sampai jauh
Reff:
Mata airmu dari Solo
Terkurung gunung seribu
Air mengalir sampai jauh
Akhirnya ke laut
Itu perahu
Riwayatmu dulu
Kaum pedagang
Slalu naik itu perahu
Saya baru sadar, dan baru ingat, bahwa di daerah bengawan solo banyak yang tertimpa Banjir. Saya tidak tahu penyebab banjir di daerah itu. Tapi saya mencoba memahami baris Di musim hujan Air meluap sampai jauh bahwa pencipta lagi ini (Gesang) sudah mengisyaratkan bahwa Bengawan Solo di musim hujan akan meluapkan airnya sampai jauh (melebar dari pinggir sungai). Jika semua orang membaca syair tersebut dan memahaminya lebih dalam, pasti bencana banjir di daerah Bengawan Solo akan dijauhi sebelumnya. Artinya ketika musim hujan tiba, penduduk sekitar akan mencoba menghindarinya dengan lebih awal. Atau tidak membangun permukiman di daerah Bengawan Solo. ”Ah… itukan bencana, kita kan tidak tahu akan datangnya”. ”Tapi Gesang sudah memberi tahu sejak dulu”. Sepertinya kita tidak peduli pada isi lagu/syair karya pengarang yang penuh nasehat, amanat, dan informasi kepada kita.































