Pagi-pagi setelah solat subuh saya meluncur dari Tasikmalaya ke kota Kuningan, udara terasa dingin. Dari Tasikmalaya sampai Ciamis perjalanan mulus, karena jalannya lurus, lebar dan rata jadi bias “wuuus”. Dari Ciamis menuju Kawali mulai melalui jalan yang berliku, turun naik, udara mulai sejuk karena banyak pepohonan. Mulai dari Kawali ke Panawangan jalan sudah mulai banyak yang berbelok-belok dan naik turun udara pun semakin sejuk.


Ketika sampai di kota Panawangan jalanan dipenuhi kabut pagi, ah dingin sekali udara di sekitar itu. Embun pun masih terlihat bening yang menempel didedaunan. Selama perjalanan Tasik Kuninga tidak dijumpai daerah banjir, karena daerahnya berbukit-bukit.



Saya masih ingat ketika SD ada pelajaran IPS. Guru IPS menerangkan, bahwa kita harus menjaga lingkungan agar tidak banjir dengan menanam kembali hutan gundul, membuat tanah sering agar tidak longsong. Itu teorinya agar bencana alam tidak menimpa kita.






Sekarang ini saya dengar, baca, lihat banyak daerah yang terkena bencana longsor, banjir, akibat apakah itu? Apakah hutan gundul tidak “reboisasai” atau tanah tebing tidak dibuat sengkedan? Atau pemerintah tidak ada biaya reboisasi? Setahu saya di Kuningan justrua da program penghijauan.
Kalau saya ingat-ingat lagi pelajaran SD dulu itu sangat bermanfaat bagi kehidupan, hanya saya tidak konsen atau tidak peka pada lingkungan, dulu nilai IPS saya 7 bahkan 8, itu hanya nilai hapalan atau pengetahuan saja. Tapi prakteknya, saya masih malas untuk menanam kembali hutan gundul dan membuat sengkedan. Jadi kalau begitu percuma nilai IPS saya 7-8 karena tidak berguna pada kehidupan sehari-hari.
Kepada bapak Ibu guru IPS yang pernah mengajar saya, saya belum bisa mengamalkan ilmu yany pernah diberikan, dan maaf nilai yang begitu besar belum bias dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari. Bencana banjir dan longsor tetap saja terjadi, pada hal sejak SD hal itu sudah dijelaskan dan diterangkan bahkan saya sampai mengerti.






















