Juli 4, 2008
Kamu tidak pantas bekerja sebagai ….. karena tidak sesuai dengan ijazahmu!
Kamu tidak pantas menjabat sebagai jabatan ….. kerena tidak sesuai ijazahmu!
Kamu tidak kompeten pada bidang …… karena tidak sesuai ijazahmu!
Kami tidak ……………………… karena tidak sesuai ijazahmu!
Beberapa pernyataan di atas betul, tapi kadang tidak selamanya benar. Beberapa teman saya:
1. Berijazah Guru Sejarah, ternyata dia diakui oleh masyakat dan dapat banyak uang dari bermain musik (piano).
2. Berijazah Guru Biologi, ternyata dia diakui oleh masyakat dan dapat banyak uang dari mengelola program komputer.
3. Berijazah Guru Fisika, ternyata dia diakui oleh masyakat dan dapat banyak uang dari bermain musik (gitar).
4. Berijazah Guru IPS, ternyata dia diakui oleh masyakat dan dapat banyak uang dari berolahraga (voli).
5. Berijazah Sarjana Ekonomi, ternyata dia diakui oleh masyakat dan dapat banyak uang dari melatih bola basket.
6. Berijazah Sarjana Ekonomi, ternyata dia diakui oleh masyakat dan dapat banyak uang dari membuat program aplakasi berbasis web.
7. Berijazah Guru Matematika, ternyata dia diakui oleh masyakat dan dapat banyak uang dari dunia usaha katering.
Kalau saya balikkan, apakah ijazah tersebut menjamin kompetensi seseorang dalam kehidupan sehari-hari? [Bisa ya/Bisa juga tidak]
Dari contoh ke tujuh teman saja tadi, ternyata dia lebih layak karena punya kompetensi yang “tidak berijazah”. Dalam masalah mencari uang memang tidak dibatasi oleh “berijazah” tapi dengan kompetensi diri kita masing-masing, hanya dalam kehidupan formalitas “ijazah” sangat diperlukan.
Coba kita lihat?
1. Apakah Lurah/Kuwu, Bupati, Gubernur, dan Presiden memiliki ijazah kepemerintahan?
2. Apakah semua orang teknik bekerja di bidang teknik? [bahkan ada yang menjadi meneteri "non"teknik sesuai ijazahnya?
Memang kita itu harus mempertanggungjawabkan "ijazah" kita dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki keterampilan lain untuk mempertahankan hidup.
Memang saya suka cemburu, takut tersaingi oleh teman yang memiliki keterampilan/kecakapan hidup yang lebih dari saya yang kebetulan tidak se-'Ijazah' dengan bidangnya [bidang saya]. Jadi saya suka mengatakan “Kamu tidak pantas bekarja di bidang ….. karena tidak sesuai dengan ijazahmu.
& Komentar |
Bahan Renungan, Umum | yang berkaitan: Curhat |
Permalink
Ditulis oleh awan sundiawan
Juli 4, 2008
Huruf-huruf akan memiliki arti apabila dirangkai menjadi sebuah kata. Biasanya huruf-huruf konsonan dan vokal bila bersatu akan memiliki arti khusus. Sebuah kata tidak selamanya dibentuk oleh 4 huruf atau lebih, tapi bisa juga dengan 2 huruf, seperti kata “oh”.
Kata “oh” bisa bermakna “(i)ya”, “aku tahu”, atau makna lain yang lebih dalam.
Suatu ketika saya mengirimkan pesan yang agak panjang…, tiba-tiba balasannya hanya kata “oh”.
Meskipun hanya kata “oh” saya bahagia karena dia masih tetap respon… coba kalau tidak respon atau balasannya yang menyakitkan…..? Apa jadinya?
Terima kasih, meskipun dirimu hanya mengirimkan kata “oh” aku tetap bahagia
1 Komentar |
Cerita Rekaan | yang berkaitan: Cerita Rekaan |
Permalink
Ditulis oleh awan sundiawan
Juli 4, 2008
Setiap bertemu hari Jumat hatiku kembali merindu
Setiap bertemu hari Jumat hatiku kembali merenung
Dulu kau datang pada hari Jumat
Dulu kau memberi kesan pada hari Jumat
Dulu kau memberi pesan pada hari Jumat
Dulu kau pergi meninggalkanku pada hari Jumat
Sekarang kau tidak lagi datang
Sekarang kau tidak lagi memberi kesan
Sekarang kau tidak lagi memberi pesan
Sekarang aku masih sendiri di sini?
Sudah berapa Jumatkah kita tidak bertemu?
Sudah berapa Jumatkah kita merindu?
Sudah berapa Jumatkah kita berbuat kebaikan?
Sudah berapa Jumatkah kita bertuat kesalahan?
Seimbangkan jumah Jumat yang kita lalui dengan kebaikan kita?
Akankah kita bertemu dengan hari Jumat?
Hari ini adalah hari Jumat, hari Jumat keberapakah?
Ah… mungkin kita lupa tidak menghitung hari Jumat yang pernah dilalui dengan kesendirian.
Aku berharap, kita masih bisa bertemu pada hari Jumat…
Ah…. entah kapan….
Tidak ada komentar » |
Puisi | yang berkaitan: Curhat, Puisi |
Permalink
Ditulis oleh awan sundiawan
Juli 4, 2008
Hari-hari telah berlalu
Hari-hari telah kulalalui
Namun dirimu tidak kunjung datang juga
Harapanku padamu
semoga dirimu baik-baik saja
semoga dirimu masih merindukanku
semoga dirimu sehat, agar kita bisa bertemu lagi
ah.. harapanku terlalu banyak padamu
Hari ini, hari kamis….. rasa ini semakin berharap padamu
Hay…… adakah rinduku padamu?
Hay….. adakah harapanmu padaku?
Ah…. mengapa pada hari Kamis aku semakin berharap padamu ….
& Komentar |
Puisi | yang berkaitan: Curhat, Puisi |
Permalink
Ditulis oleh awan sundiawan
Juli 4, 2008
“Hai… masih menunggunya di bawah pohon? Kamu tahu pohon milik siapa? Kamu tahu ikan yang sedang beterleur itu punya siapa? Kamu tahu pasangan ikan itu”, tanya angin pada lelaki yang masih tetap setia menunggu di bawah pohon rindang yang sedang mulai berbunga. Dan lelaki itu asyik melihat ikan yangs edang gemuk karena diperutnya tersimpan telur-telur ikan yang beberapa saat ini akan ditetaskan.
“Aku tahu siapa pemilik semua ini, semuanya adalah milik mahapencipta, kita tidak memilikinya. Aku percaya pohon ini meskipun milik orang lain, tapi dia setia meneduhiku, aku tahu ikan itu milik orang lain dan ikan sudah punya pasangannya, tapi aku percaya ikan itu selalu menemuiku di sini”, kata lelaki itu sambil melihat ikan yang sedanga syik dengan pasangannya menjaga telurnya sedang berada dalam perutnya.
“Kamu tidak bosan, kamu tidak lelah, kamu tidak jenuh? Menunggu dia datang kembali?”, tanya angin pada lelaki itu.
“Aku tidak akan jenuh, tidak akan bosan bahkan senang karena dihatiku masih ada rindu untuknya, dan aku masih merasakan bisikannya yang lembut dan halus
Tidak ada komentar » |
Artikel |
Permalink
Ditulis oleh awan sundiawan
Juli 4, 2008
Langit membiru…… cerah
Angin berhembus ….. sepoi-sepoi
Ah indahnya alam ini, namun tak seindah alam pikiranku
Pikiranku semakin kalut, karena dirimu tiada kabar
Jiwaku semakin tergoyah, karena dirimu tidak juga menampakkan diri
Ke manakah dirimu?
Di manakah dirimu?
Apakah masih merindukanku?
Hari ini sudah hari Rabu,
hari Rabu yang semakin merindu padamu
Ah… biarlah Rabu berlalu
Namun rinduku padamu tetap menggebu
Tidak ada komentar » |
Teknologi |
Permalink
Ditulis oleh awan sundiawan
Juli 4, 2008
Embun pagi meneteskan air kesejukkan
Mentari menghangatkan alam raya
Angin mengentarkan kesegaran udara
Embun, mentari, dan angin masih membisu
Biasanya embun pagi mengantarkan kabar darinya
Biasanya mentari pagi menyampaikan berita darinya
Biasanya angin pagi membisikkan “selamat pagi”
Entah mengapa, hari ini hari Selasa penuh harap
Dan hati ini semakin berharap padanya
Di manakah dirimu sekarang ini?
Tidak ada komentar » |
Puisi | yang berkaitan: Curhat, Puisi |
Permalink
Ditulis oleh awan sundiawan
Juli 2, 2008
Biasanya pagi-pagi neng “popon” suka memberikan kabar baik
Entah mengapa Senin ini neng “popon” pun terdiam membisu seribu kata
Biasanya pagi-pagi yang ditanti pasti tepat janji
Janji untuk saling mengirimkan kabar
Kabar yang menceritakan isi hati masing-masing
Kabar hari yang sedang saling merindu
Entah mengapa Senin ini tiada kabar
Ah… Senin yang penuh penantian
Senin ini aku menantukanmu
& Komentar |
Cerita Rekaan | yang berkaitan: Cerita Rekaat, Curhat |
Permalink
Ditulis oleh awan sundiawan
Juli 2, 2008
Detik demi detik telah berlalu
Menit demi menit telah berlalu
Jam demi jam telah berlalu
Waktu begitu teraturnya meninggalkanku
Waktu itu hari Minggu
Minggu yang penuh penantian
Minggu yang penuh harapan
Minggu yang penuh kerinduan
Namun yang dirindukan tidak datang juga
Ah… aku ternyata bertemu dengan Minggu kelabu
& Komentar |
Puisi | yang berkaitan: Add new tag, Puisi |
Permalink
Ditulis oleh awan sundiawan
Juli 2, 2008
Udara segar di pagi hari
pagi hari yang indah
pagi hari di Sabtu pagi
Hari ini adalah hari Sabtu
Sabtu yang merindu
Aku menunggumu
Biasanya dirimu menungguku
Aku pun biasanya menemuiku
Ah… biarlah sabtu berlalu
Asalkan dirimu tetap menungguku
Untuk tetap bertemu
& Komentar |
Puisi | yang berkaitan: Puisi |
Permalink
Ditulis oleh awan sundiawan